Perhiptani Ditengah Pusaran Pragmatisme

dampak Permenpan RB Nomor 1 Tahun 2023 terhadap penyuluh pertanian, menyebabkan pergeseran karakter kerja menjadi lebih pragmatis karena tuntutan kinerja tinggi dan beban administratif. Artikel juga menganalisis dampaknya terhadap efektivitas penyuluhan dan organisasi profesi seperti Perhiptani.

Jul 22, 2025 - 21:26
 0  7
Perhiptani Ditengah Pusaran Pragmatisme

Organisasi Profesi Penyuluh Pertanian di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam era reformasi birokrasi, khususnya sejak diterbitkannya Permenpan RB Nomor 1 Tahun 2023. Dalam peraturan tersebut, BAB XI tentang organisasi profesi, khususnya Pasal 50 ayat 2, menyatakan bahwa setiap Pejabat Fungsional (JF) harus menjadi anggota organisasi profesi JF. Penyuluh pertanian, yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN), kini dituntut untuk memenuhi target capaian kinerja yang semakin ketat sesuai dengan aturan tersebut. Tuntutan ini mempengaruhi karakter kerja mereka, menjadikan mereka lebih pragmatis dan transaksional. Opini ini akan menguraikan mengapa perubahan ini terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap efektivitas penyuluhan dan organisasi profesi Perhiptani.

Penyebab Pragmatisme di Kalangan Penyuluh Pertanian

 

Perubahan karakter kerja penyuluh pertanian menjadi lebih pragmatis berakar pada beberapa faktor utama:

 

Pertama, Tuntutan Kinerja yang Tinggi.

Salah satu alasan utama pragmatisme di kalangan penyuluh pertanian adalah tuntutan untuk mencapai target kinerja yang ketat. Reformasi birokrasi memaksa penyuluh untuk berfokus pada hasil yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti jumlah petani yang dilayani, jumlah pelatihan yang diberikan, dan indikator-indikator hasil lainnya. Kebutuhan untuk memenuhi target-target ini sering kali mengalihkan perhatian penyuluh dari pendekatan yang lebih holistik dan berorientasi pada pengembangan jangka panjang.

 

Kedua, Beban Administratif yang Berat 

Penyuluh pertanian kini harus menangani berbagai administrasi dan laporan untuk membuktikan pencapaian kinerja mereka. Beban administratif ini mengharuskan mereka untuk lebih fokus pada pengumpulan data dan pelaporan hasil kerja, mengurangi waktu yang bisa mereka alokasikan untuk kegiatan penyuluhan langsung. Akibatnya, penyuluh menjadi lebih terfokus pada aspek administratif dan pemenuhan target daripada pengembangan hubungan yang mendalam dengan petani atau implementasi strategi penyuluhan yang berkelanjutan.

 

Ketiga, Penilaian Kinerja Berbasis Output

Sistem penilaian kinerja yang menekankan pada hasil langsung dan terukur mendorong penyuluh untuk mengambil pendekatan yang lebih pragmatis. Ketika keberhasilan diukur berdasarkan pencapaian target tertentu, penyuluh mungkin merasa terdorong untuk fokus pada aktivitas yang langsung berkontribusi pada pencapaian target tersebut, sering kali mengabaikan proses penyuluhan yang memerlukan pendekatan lebih strategis dan jangka panjang.

Dampak Pragmatisme terhadap Efektivitas Penyuluhan

 

Pragmatisme yang meningkat di kalangan penyuluh pertanian dapat berdampak negatif pada efektivitas penyuluhan dalam beberapa cara:

 

Pertama, Penurunan Kualitas Hubungan dengan Petani 

Dengan fokus yang lebih besar pada pencapaian target, penyuluh mungkin tidak lagi dapat membangun hubungan jangka panjang yang penting dengan petani. Hubungan yang kuat antara penyuluh dan petani sangat penting untuk pemahaman mendalam mengenai kebutuhan dan tantangan lokal, serta untuk memastikan adopsi teknologi dan praktik pertanian yang efektif.

 

Kedua, Kurangnya Inovasi dan Pengembangan Berkelanjutan 

Ketika penyuluh tertekan untuk memenuhi target jangka pendek, mereka mungkin kurang terdorong untuk terlibat dalam inovasi atau pengembangan praktik penyuluhan yang lebih efektif. Penyuluhan yang efektif sering kali memerlukan pendekatan yang kreatif dan adaptif, serta keterlibatan dalam kegiatan pengembangan berkelanjutan yang mungkin tidak langsung menghasilkan output yang terukur.

 

Ketiga, Risiko Fokus Terhadap Aktivitas yang Dapat Diukur 

Penyuluh mungkin lebih memilih aktivitas yang mudah diukur untuk memenuhi target, seperti jumlah pelatihan atau seminar yang diadakan, daripada kegiatan yang memberikan dampak jangka panjang tetapi sulit diukur, seperti pemberdayaan komunitas atau pengembangan kapasitas petani secara mendalam.

Perubahan karakter kerja penyuluh pertanian menjadi lebih pragmatis dipengaruhi oleh tuntutan target capaian kinerja yang ketat dan beban administratif yang berat. Walaupun sistem ini dapat memotivasi pencapaian hasil yang jelas dan terukur, dampaknya terhadap kualitas dan efektivitas penyuluhan perlu diperhatikan. Organisasi profesi penyuluh pertanian harus menyesuaikan pendekatan mereka untuk memastikan bahwa meskipun target kinerja tercapai, kualitas penyuluhan tetap tinggi dan berorientasi pada pengembangan jangka panjang yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Pendekatan yang lebih seimbang antara pencapaian target dan pengembangan hubungan serta inovasi perlu diterapkan untuk menjaga keberhasilan dan dampak positif penyuluhan pertanian di Indonesia.

Organisasi Profesi Penyuluh Pertanian, seperti Perhiptani, berfungsi sebagai wadah yang mendukung dan menaungi penyuluh pertanian di Indonesia. Namun, perubahan sikap penyuluh yang menjadi lebih pragmatis akibat tuntutan capaian kinerja dan beban administratif memiliki dampak signifikan terhadap organisasi profesi ini.

Sikap Pragmatis Penyuluh dan Dampaknya terhadap Organisasi Profesi

 

Pertama, Penurunan Keterlibatan Aktif dalam Organisasi

Sikap pragmatis yang lebih fokus pada pencapaian target kinerja dan beban administratif sering kali mengarah pada penurunan keterlibatan penyuluh dalam aktivitas organisasi profesi. Penyuluh yang lebih terfokus pada pencapaian hasil jangka pendek mungkin kurang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan profesi, forum diskusi, atau program pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi seperti Perhiptani. Hal ini dapat mengurangi sinergi dan kolaborasi yang penting bagi perkembangan organisasi serta memperlemah jaringan dukungan antara anggota.

 

Kedua, Perubahan dalam Prioritas Organisasi

Dengan semakin banyaknya penyuluh yang menunjukkan sikap pragmatis, Perhiptani mungkin merasa terdorong untuk mengubah prioritasnya agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anggota. Organisasi dapat lebih fokus pada penyediaan dukungan administratif dan pelatihan yang langsung terkait dengan pencapaian target kinerja, daripada fokus pada pengembangan profesional yang lebih luas. Hal ini dapat menyebabkan pergeseran dari tujuan strategis organisasi menjadi orientasi pada hasil jangka pendek.

 

Ketiga, Dampak Terhadap Inovasi dan Pengembangan Profesional

Sikap pragmatis penyuluh, yang cenderung berorientasi pada hasil langsung, bisa menghambat inovasi dan pengembangan profesional dalam organisasi. Penyuluh yang lebih berfokus pada pencapaian target mungkin tidak memiliki waktu atau dorongan untuk terlibat dalam kegiatan inovatif atau pengembangan metode penyuluhan yang baru. Akibatnya, organisasi profesi seperti Perhiptani bisa mengalami stagnasi dalam hal pengembangan strategi penyuluhan yang efektif dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan pertanian.

 

Keempat, Pengurangan Komitmen terhadap Visi dan Misi Organisasi

Ketika penyuluh mempertanyakan apa yang dapat mereka peroleh dari organisasi profesi, bukan apa yang dapat mereka kontribusikan, hal ini dapat mengurangi komitmen terhadap visi dan misi Perhiptani. Penurunan komitmen ini dapat mempengaruhi efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan jangka panjangnya dan mereduksi daya tarik organisasi bagi calon anggota baru yang potensial.

 

Kelima, Krisis Legitimasi dan Dukungan Anggota

Jika Perhiptani gagal dalam memenuhi harapan penyuluh yang pragmatis, misalnya dengan tidak menyediakan dukungan yang dirasakan sebagai langsung bermanfaat bagi pencapaian target individu, organisasi dapat mengalami krisis legitimasi. Penurunan dukungan dan partisipasi aktif dari anggota dapat mempengaruhi stabilitas dan efektivitas organisasi dalam menjalankan perannya sebagai wadah profesional.

Sikap pragmatis penyuluh pertanian yang dipicu oleh tuntutan kinerja yang tinggi dan beban administratif berdampak besar pada organisasi profesi seperti Perhiptani. Penurunan keterlibatan aktif, perubahan prioritas organisasi, dan pengurangan komitmen terhadap visi misi organisasi adalah beberapa dampak yang signifikan. Untuk menghadapi tantangan ini, Perhiptani perlu menyesuaikan strateginya dengan mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi anggota, sambil tetap mempertahankan fokus pada pengembangan profesional yang berkelanjutan. Melalui pendekatan yang seimbang antara pencapaian target dan pengembangan kualitas profesi, organisasi dapat mengatasi dampak negatif pragmatisme dan memastikan bahwa perannya tetap relevan dan efektif dalam mendukung penyuluh pertanian di Indonesia.

I Ketut Arya Sudiadnyana,S.P.,M.Agb.

Ketua Bidang Organisasi

DPW PERHIPTANI BALI

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0