Modal Turun, Panen Tetap Jumbo

Tak semua inovasi lahir dari laboratorium. Di hamparan Subak Pejajah Culeg, Singapadu, Sukawati, seorang petani muda membuktikan bahwa teknologi mini bulb mampu memangkas biaya benih bawang merah hingga puluhan juta rupiah tanpa mengurangi produktivitas.

Jul 13, 2026 - 05:32
 0  44
Modal Turun, Panen Tetap Jumbo

Modal Turun, Panen Tetap Jumbo
Petani muda Gianyar mengembangkan teknologi mini bulb sebagai solusi budidaya bawang merah TSS yang lebih hemat biaya.

GIANYAR – Minggu pagi di hamparan Subak Pejajah Culeg, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, tak seperti hari libur kebanyakan. Di tengah terik matahari yang mulai menghangat, I Kadek Badra Kartika justru tampak paling sibuk. Petani muda yang akrab disapa Dek Mbot itu sesekali membungkuk mencabut rumpun bawang merah, lalu menumpuknya di pematang sawah. Wajahnya tak henti-hentinya dihiasi senyum. Hari itu bukan sekadar panen biasa, melainkan pembuktian dari berbulan-bulan uji coba yang ia lakukan.

Di sampingnya, sang nenek yang telah berusia senja tetap setia mendampingi. Dengan langkah pelan, ia membantu mengumpulkan bawang hasil panen, sesekali memperhatikan cucunya menyiapkan ubinan. Kebersamaan keduanya menjadi pemandangan yang menghangatkan di tengah hamparan sawah.

"Ini yang membuat saya semakin yakin," ujarnya sambil memperlihatkan umbi bawang merah berwarna merah merona dengan ukuran yang seragam.

Satu per satu rumpun bawang dimasukkan ke dalam timbangan. Suasana sejenak hening ketika timbangan digital bergerak perlahan sebelum akhirnya berhenti di angka 17,46 kilogram. Senyum Dek Mbot pun mengembang. Hasil ubinan tersebut, jika dikonversikan, menunjukkan potensi produksi sekitar 27,9 ton per hektare dalam kondisi basah beserta daunnya. Bagi Dek Mbot, angka itu bukan sekadar hasil panen, melainkan jawaban atas berbulan-bulan keberanian mencoba teknologi mini bulb yang sempat dipandang sebelah mata.

Di balik hasil panen tersebut, tersimpan perjalanan panjang penuh percobaan. Berawal dari kegelisahan melihat biaya benih bawang merah yang terus meningkat, Dek Mbot mulai mencari alternatif agar petani tetap bisa memperoleh hasil tinggi tanpa harus mengeluarkan modal yang besar. Pilihannya jatuh pada pengembangan mini bulb atau umbi mini, teknologi turunan dari benih True Shallot Seed (TSS).

Teknologi mini bulb sebenarnya merupakan hasil pengembangan budidaya bawang merah berbasis TSS. Umbi yang digunakan berasal dari hasil penanaman benih TSS generasi pertama (F1) atau sering disebut generasi nol (G0). Pada fase ini, ukuran umbi sengaja dibuat lebih kecil melalui pengaturan populasi tanaman yang rapat menggunakan sistem tanam benih langsung (tabela) maupun pindah tanam. Setelah dipanen pada umur sekitar 80–90 hari, umbi dikeringkan dan disimpan selama sedikitnya empat bulan hingga melewati masa dormansi sebelum kembali digunakan sebagai benih.

Menurut Dek Mbot, banyak petani sebenarnya ingin mencoba bawang TSS karena produktivitasnya tinggi dan lebih tahan penyakit. Namun tidak sedikit yang mengurungkan niat karena proses persemaiannya dianggap rumit dan membutuhkan investasi awal yang besar.

"Mini bulb ini menjadi jalan tengah. Petani tetap menanam menggunakan umbi seperti kebiasaan selama ini, tetapi performanya masih sangat mendekati bawang TSS," jelasnya.

Meski bukan lagi benih F1, karakter unggul bawang TSS masih tampak kuat. Tanaman memiliki daun yang lebih tinggi, tebal, dan kokoh, pangkal batang besar, menghasilkan umbi berukuran lebih besar, serta warna merah merona yang menjadi ciri khas bawang TSS. Daunnya yang lebih tebal juga membuat tanaman relatif lebih tahan terhadap serangan ulat, sementara ketahanannya terhadap penyakit layu fusarium atau moler dinilai lebih baik dibandingkan bawang konvensional.

Alasan utama mengembangkan mini bulb adalah efisiensi biaya. Umbi hasil panen TSS sebenarnya dapat langsung dijadikan benih kembali. Namun ukuran umbinya yang rata-rata lebih dari 15 gram membuat kebutuhan benih mencapai sekitar 2,5 ton per hektare. Dengan harga benih sekitar Rp50 ribu per kilogram, petani harus menyiapkan modal sekitar Rp125 juta hanya untuk membeli benih.

Melalui mini bulb, ukuran umbi diperkecil menjadi sekitar 5–7 gram sehingga kebutuhan benih turun drastis menjadi sekitar 800 kilogram hingga 1 ton per hektare. Dampaknya, biaya benih menyusut menjadi sekitar Rp40–50 juta per hektare atau terjadi penghematan hingga Rp75 juta.

Yang menarik, penghematan biaya tersebut tidak mengorbankan hasil panen. Uji coba di lahan Dek Mbot menunjukkan produktivitas mencapai sekitar 27,9 ton per hektare, mendekati performa bawang TSS F1. Umbi yang dihasilkan berukuran besar, seragam, berwarna cerah, dan memiliki daya saing tinggi di pasar.

Bagi Dek Mbot, mini bulb bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan bagi petani menuju budidaya TSS secara penuh. Pasalnya, membangun persemaian TSS membutuhkan investasi sekitar 1.500 tray semai per hektare dan rumah persemaian seluas kurang lebih 500 meter persegi, sesuatu yang belum mampu dipenuhi banyak petani.

Sebaliknya, melalui sistem mini bulb, kebutuhan benih untuk satu hektare cukup diawali dengan sekitar 1 kilogram benih TSS yang ditanam di lahan sekitar 1.000 meter persegi. Setelah dipanen, umbi hanya memerlukan ruang penyimpanan sekitar 12 meter persegi selama empat bulan sebelum siap ditanam kembali.

Memang dibutuhkan kesabaran sekitar tujuh bulan, yakni tiga bulan di lahan dan empat bulan masa penyimpanan. Namun bagi Dek Mbot, proses itu sepadan dengan hasil yang diperoleh. Modal menjadi lebih ringan, risiko usaha lebih kecil, sementara produktivitas tetap tinggi. Di tangan petani muda yang gemar bereksperimen, mini bulb bukan sekadar umbi berukuran kecil, melainkan harapan baru agar semakin banyak petani berani beralih menuju budidaya bawang merah modern yang lebih efisien, menguntungkan, dan berkelanjutan. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0