“Kopi Jadi Wine, KWT Wanagiri Panen Cuan”
Di lereng sejuk Wanagiri, 20 perempuan membuktikan kopi tak sekadar diseduh. Dari tangan mereka, biji kopi naik kelas diolah menjadi produk bernilai, bahkan menjelma menjadi wine kopi yang kini menembus pasar.
“Kopi Jadi Wine, KWT Wanagiri Panen Cuan”
Dinginnya udara Banjar Asah Panji, Desa Wanagiri, tak menyurutkan langkah 20 perempuan ini. Dari dapur sederhana, mereka mengolah biji kopi menjadi produk bernilai tinggi bahkan menghadirkan inovasi wine kopi yang kini punya pasar sendiri.
Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Amerta Giri, yang berdiri sejak 2009. Dipimpin Ni Nyoman Budiani, kelompok ini konsisten mengembangkan usaha olahan kopi berbasis rumah tangga.
Dari dapur-dapur sederhana, mereka kini menghasilkan serbuk kopi robusta dan arabika dengan harga Rp150 ribu per kilogram. Tak berhenti di situ, inovasi dikembangkan melalui produk wine kopi yang dipasarkan Rp150 ribu per botol ukuran 250 ml. Pasarnya pun meluas, dari Wanagiri, Pancasari, hingga menembus Denpasar dan Tabanan.
Dalam sepekan, produksi kopi olahan bisa mencapai sekitar satu kuintal. Secara tahunan, mereka mampu menghasilkan 2–3 ton serbuk kopi. Angka yang tak kecil untuk ukuran kelompok perempuan desa.
Namun, capaian itu bukan tanpa cerita jatuh bangun.
Di masa awal, persoalan kualitas sempat menjadi batu sandungan. Rasa kopi yang belum konsisten membuat produk sulit bersaing di pasar. “Kadang terlalu pahit, kadang kurang kuat. Kami sering gagal, tapi tidak menyerah,” kenang Budiani.
Titik balik terjadi saat anggota KWT mendapat pelatihan pengolahan kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Dari sana, mereka mulai memahami teknik roasting, penggilingan, hingga pengemasan yang lebih baik. Pengetahuan itu diperkuat dengan bantuan mesin roasting pada 2013 dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan.
Persoalan berikutnya datang dari keterbatasan modal. Untuk menjaga keberlanjutan usaha, kelompok ini kemudian mengakses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Langkah itu memberi ruang bagi mereka untuk terus berproduksi dan memperluas pasar.
Menariknya, bahan baku kopi diperoleh langsung dari petani sekitar. Seluruh proses produksi juga dikerjakan oleh anggota kelompok. Dengan begitu, KWT ini tidak hanya menciptakan nilai tambah produk, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal sekaligus membuka ruang pemberdayaan perempuan.
Perjalanan KWT Sari Amerta Giri tak lepas dari pendampingan penyuluh pertanian lapangan (PPL) di wilayah BPP Sukasada. Pendampingan berlangsung berkelanjutan, dimulai dari Made Sumetriani, M.P. kini Katimker Kabupaten Buleleng kemudian dilanjutkan Mohammad Hanan, S.P., yang saat ini menjabat Koordinator BPP Sukasada, hingga kini diteruskan oleh I Gede Ardana.
Peran penyuluh tidak sekadar teknis budidaya, tetapi juga menyentuh penguatan kelembagaan kelompok, fasilitasi pelatihan, peningkatan kualitas produk, hingga membantu branding dan pemasaran.
“Ibu-ibu di sini punya kemauan kuat untuk maju. Mereka terbuka terhadap inovasi dan mau belajar. Itu yang membuat kelompok ini bisa bertahan dan berkembang,” ujar I Gede Ardana.
Kini, kopi dari Wanagiri tak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Ia telah menjelma menjadi produk bernilai, sekaligus simbol ketekunan perempuan desa.
Dari lereng sunyi Wanagiri, mereka membuktikan: secangkir kopi, jika diolah dengan pengetahuan dan kebersamaan, mampu menghadirkan perubahan besar.
Koresponden: Dewa Darmayasa
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0