“Rombong, Senjata Sederhana Tekan Susut Panen”

Di tengah keterbatasan alat modern, petani di Subak Balebandung justru menemukan solusi dari hal sederhana. “Rombong”, alat perontok padi berbahan kayu, terbukti mampu menekan susut panen dan menjaga hasil tetap optimal.

Apr 16, 2026 - 05:57
 0  51
“Rombong, Senjata Sederhana Tekan Susut Panen”

Rombong, Senjata Sederhana Tekan Susut Panen”

Di tengah geliat modernisasi alat dan mesin pertanian, sebuah inovasi sederhana justru tetap bertahan dan memberi dampak nyata bagi petani. Namanya “rombong”—alat perontok padi manual berbahan kayu yang kini kembali dilirik karena kemampuannya menekan kehilangan hasil panen.

Di Subak Balebandung, Desa Kayuputih, rombong bukan barang baru. Namun di tangan petani, alat ini terus disempurnakan. Hal ini juga mendapat perhatian dari penyuluh pertanian wilayah setempat, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., yang aktif mendampingi petani dalam meningkatkan efisiensi panen.

“Kalau kita bicara susut panen, ini sering dianggap hal kecil, padahal dampaknya besar. Nah, rombong ini salah satu solusi sederhana yang sudah terbukti di lapangan,” jelas Darmayasa saat ditemui di areal panen.

Ia menilai, kekuatan rombong justru terletak pada kesederhanaannya. Dibuat dari limbah kayu, alat ini mudah dirakit dan bisa digunakan oleh siapa saja tanpa perlu keterampilan khusus.

“Petani tidak perlu tergantung mesin. Dengan rombong, mereka tetap bisa panen mandiri, biaya murah, dan yang paling penting, kehilangan hasil bisa ditekan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Jro Mangku Ketut Ginawa, petani setempat yang sudah lama menggunakan rombong. Baginya, alat ini bukan sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi panen.

“Ini dari dulu dipakai. Sederhana, tapi sangat membantu saat panen,” katanya sambil memperagakan cara merontokkan padi dengan memukul malai ke dalam rombong.

Secara fisik, rombong memiliki ukuran yang relatif ringkas tinggi sekitar 120–140 cm, lebar 50–70 cm, dan panjang 60–80 cm. Di bagian tengah terdapat ruang perontokan yang dilengkapi kain atau karung penampung. Sementara di bagian bawah, petani kini mulai menambahkan alas terpal untuk meminimalkan gabah yang tercecer.

Menurut Darmayasa, di sinilah letak inovasi kecil yang memberi dampak besar.

“Awalnya petani pakai rombong biasa, tapi setelah kita dorong pakai tambahan terpal, hasilnya lebih optimal. Gabah yang jatuh bisa langsung tertampung,” jelasnya.

Dari hasil pengamatan di lapangan, penggunaan rombong tanpa alas terpal dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 3–8 persen. Namun setelah ditambahkan terpal, angka tersebut mampu ditekan menjadi sekitar 2–5 persen.

“Kalau dikalikan luas lahan, itu signifikan. Artinya ada tambahan hasil yang bisa diselamatkan,” tambahnya.

Dari sisi biaya, rombong juga sangat terjangkau. Satu unit hanya membutuhkan biaya sekitar Rp500 ribu, jauh lebih murah dibandingkan mesin perontok modern seperti power thresher atau combine harvester.

Meski demikian, Darmayasa tidak menampik bahwa mekanisasi tetap penting. Namun ia menekankan bahwa tidak semua petani memiliki akses yang sama terhadap alsintan modern.

“Di sinilah rombong punya peran. Ini solusi antara murah, mudah, dan tetap efektif untuk petani skala kecil,” katanya.

Ke depan, ia berharap inovasi sederhana seperti rombong tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus dikembangkan.

“Kita dorong petani untuk tidak berhenti berinovasi. Kadang solusi terbaik itu justru lahir dari lapangan, dari pengalaman mereka sendiri,” pungkasnya.

Di Subak Balebandung, rombong bukan sekadar alat. Ia adalah simbol kecerdasan lokal bagaimana petani mampu mengolah keterbatasan menjadi kekuatan. Sederhana, hemat, namun tetap produktif. Sebuah “senjata” kecil yang terbukti mampu menjaga hasil panen tetap utuh. (JikWid/NDN)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 2
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0