“Sekeha Tandur dan Manyi Subak Tubuh Masih Perkasa”
Di tengah minimnya tenaga kerja pertanian, wanita tani di Subak Tubuh, Desa Pejeng Kaja, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar tetap menjadi andalan petani. Kekompakan sekeha tandur dan manyi setempat menjaga tradisi gotong royong sekaligus mendukung percepatan tambah tanam padi.
“Sekeha Tandur dan Manyi Subak Tubuh Masih Perkasa”
Semangat gotong royong masih kuat terjaga di Subak Tubuh, Desa Pejeng Kaja, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Di tengah tantangan regenerasi petani dan mahalnya biaya tenaga kerja, keberadaan wanita tani yang tergabung dalam sekeha tandur (tanam) dan manyi (panen) justru menjadi kekuatan utama menjaga keberlanjutan usaha tani padi.
Kekompakan para petani dan wanita tani di Subak Tubuh terlihat dalam setiap persiapan musim tanam. Mulai dari gotong royong membersihkan saluran irigasi, pengolahan lahan, hingga penanaman padi dilakukan secara bersama-sama demi mendukung percepatan tambah tanam dan penguatan kedaulatan pangan.
Pekaseh Subak Tubuh, I Ketut Kuningan mengatakan, persiapan matang menjadi kunci keberhasilan usahatani. Karena itu, pihaknya selalu memastikan seluruh kebutuhan petani dipersiapkan sejak awal, termasuk permodalan untuk menebus pupuk bersubsidi.
“Astungkara, di Subak Tubuh kami masih memiliki wanita tani yang tangguh untuk menanam padi. Jadi kami tidak perlu jauh-jauh mencari tukang tanam,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan sekeha tandur dan manyi lokal sangat membantu petani menekan biaya produksi sekaligus menjaga tradisi pertanian subak agar tetap hidup di tengah modernisasi pertanian.
Saat ini, ongkos tanam oleh wanita tani di lingkungan Subak Tubuh sebesar Rp 20 ribu per are. Sementara jika bekerja di luar wilayah subak, tarifnya mencapai Rp 22 ribu per are.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Tampaksiring, I Nengah Surata Adnyana, SP. menilai keberlanjutan subak tidak cukup hanya mengandalkan semangat gotong royong, tetapi juga harus dibarengi perhitungan usaha tani yang sehat dan menguntungkan.
“Subak harus memiliki nilai ekonomi dan ada bisnis di dalamnya. Mustahil kalau petani terus merugi, subak bisa bertahan,” katanya.
Karena itu, pihaknya terus mendorong inovasi strategis dalam mendukung swasembada pangan, termasuk optimalisasi pupuk bersubsidi serta pemanfaatan pupuk kandang sapi melalui proses fermentasi sederhana untuk menekan biaya produksi.
Sementara itu, Katimker Kabupaten Gianyar I Made Geben, SP menambahkan pola usahatani saat ini harus dihitung secara cermat agar petani mengetahui tingkat kelayakan usahanya.
“Kalau biaya dan hasil usaha tani terukur dengan baik, dampaknya tentu akan meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP),” jelasnya.
Subak Tubuh sendiri memiliki luas lahan 21,27 hektare dengan jumlah anggota petani sebanyak 64 orang. Di tengah tantangan sektor pertanian, keberadaan wanita tani yang tetap solid turun ke sawah menjadi bukti semangat subak Bali masih terus hidup dan bertahan.
Koresponden: Surata
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1