“Bimtek AWD Berakhir di P4S Cau Chocolate, Komitmen Petani Menguat”
Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Padi Hemat Air sistem AWD bagi Pekaseh Subak Catur Angga Batukaru resmi ditutup di P4S Cau Chocolate. Penutupan yang dikemas melalui farm tour dan refleksi bersama itu memperkuat komitmen petani dalam menerapkan pertanian rendah emisi dan menjaga keberlanjutan subak warisan dunia UNESCO.
“Bimtek AWD Berakhir di P4S Cau Cokelat, Komitmen Petani Menguat”
Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Padi Hemat Air sistem Pembasahan dan Pengeringan Alternatif (AWD) bagi Pekaseh Subak Catur Angga Batukaru resmi berakhir. Penutupan kegiatan yang dipusatkan di P4S Cau Chocolate berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan, sekaligus menjadi momentum memperkuat komitmen petani dalam mengembangkan pertanian rendah emisi di kawasan warisan dunia UNESCO.
Hari pamungkas pelatihan diawali dengan tur pertanian di kawasan Cau Chocolate. Kegiatan lapangan tersebut dipandu langsung Ketua DPW PERHIPTNI Bali, Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si. Dalam suasana santai namun sarat pembelajaran, para pekaseh tampak antusias menyimak penjelasan sekaligus aktif berdiskusi selama kunjungan berlangsung.
Tak hanya melihat kebun, peserta juga diajak menyaksikan langsung proses produksi cokelat di pabrik Cau Chocolate. Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru kepada petani mengenai pentingnya hilirisasi produk pertanian serta peluang peningkatan nilai tambah di tingkat petani dan subak.
Penutupan bimtek kemudian dilaksanakan di P4S Cau Chocolate dengan suasana reflektif dan penuh keakraban. Sajian cokelat panas turut menambah hangat memutar sesi diskusi akhir yang membahas perjalanan pelatihan sejak hari pertama hingga hari terakhir.
Dalam kesempatan tersebut, Alit Artha Wiguna menegaskan bahwa penerapan AWD tidak hanya berbicara tentang efisiensi penggunaan udara, tetapi juga menjadi langkah nyata petani dalam mendukung pertanian ramah lingkungan dan menekan emisi karbon.
“Perubahan pola pikir menjadi kunci. Petani harus bergerak bersama menjaga subak sekaligus menjaga lingkungan,” tegasnya.
Menurutnya, kawasan Catur Angga Batukaru sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO harus dijaga perpindahannya melalui praktik pertanian yang adaptif, efisien, dan rendah emisi.
Ia juga mendorong terbentuknya wadah organisasi petani di kawasan Catur Angga Batukaru guna memperkuat solidaritas sekaligus meningkatkan efektivitas dalam menyuarakan aspirasi demi keberlanjutan sistem subak.
Pada kesempatan yang sama, Ketut Deddy Muliastra dari Yayasan SASHI Bali menyampaikan penghargaan kepada para pekaseh yang konsisten mengikuti pelatihan selama sepuluh hari penuh. Ia berharap ilmu yang diperolehnya tidak berhenti pada peserta bimtek, namun tetap diteruskan kepada anggota subak lainnya.
Menurutnya, penerapan AWD secara luas akan memberi dampak signifikan terhadap pelestarian lingkungan, sejalan dengan komitmen Yayasan SASHI Bali dalam mendorong kehidupan berkelanjutan dan melakukan praktik pertanian berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Harian PERHIPTANI Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP, M.Agb., menegaskan pentingnya tindak lanjut pascapelatihan. Ia meminta ilmu yang telah diperoleh segera diterapkan di lapangan dengan dukungan aktif para penyuluh pertanian di Kecamatan Penebel. (GusDe/JikWid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0