Aksi Nyata BBRMP Bali, Jembrana Incar 10 Ton/Ha

BBRMP Bali langsung injak gas. Modernisasi pertanian tak lagi wacana. Lewat tanam perdana padi sistem PM-AAS di Jembrana, lompatan produktivitas hingga 10 ton per hektare mulai dibidik.

May 5, 2026 - 15:57
May 5, 2026 - 16:02
 0  42
Aksi Nyata BBRMP Bali, Jembrana Incar 10 Ton/Ha

Aksi Nyata BBRMP Bali , Jembrana Incar 10 Ton/Ha

Langkah percepatan modernisasi pertanian di Bali terus digencarkan. Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali tancap gas mengawal penerapan Program Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS) melalui tanam perdana padi di Subak Tegaljati, Desa Banyu Biru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Selasa (5/5).

Tanam perdana ini bukan sekedar seremoni. Kegiatan tersebut menjadi titik awal implementasi teknologi budidaya modern yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak sebagai bentuk penguatan kolaborasi lintas sektor, di antaranya BBRMP Bali, Dinas Pertanian Provinsi Bali, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Jembrana, BWS Bali Penida, BMKG Stasiun Klimatologi (Satkim) Jembrana, Pupuk Indonesia, Kelsi Penyuluhan Provinsi Bali, para penyuluh pertanian, pekaseh, serta petani Subak Tegaljati.

Kepala BBRMP Bali, Dr.drh. I Made Rai Yasa, MP, menegaskan bahwa PM-AAS merupakan langkah strategis Kementerian Pertanian dalam mentransformasi sistem budidaya.

“Program ini mendorong pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Kuncinya ada pada penerapan teknologi seperti tanam benih langsung, penggunaan varietas unggul, hingga pemupukan berbasis uji tanah,” ujarnya.

Dalam implementasinya, PM-AAS mengintegrasikan teknologi tanam benih langsung (tabela) dengan pola tanam rapat dalam baris dan sistem jajar legowo. Pendekatan ini dinilai mampu memangkas waktu tanam dan kebutuhan tenaga kerja dibandingkan metode konvensional.

Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi melalui skema ini dapat mencapai hingga 10 ton per hektar, meningkat signifikan dari rata-rata saat ini yang masih berkisar 6–7 ton per hektar.

Pada lahan seluas 2,5 hektar tersebut, digunakan varietas Cakrabuana dan Mapan 05 yang dikenal berpotensi menghasilkan hasil tinggi serta adaptif terhadap kondisi setempat.

Pekaseh Subak Tegaljati, I Ketut Wela, mengakui penerapan teknologi ini mulai dirasakan manfaatnya oleh petani.

“Kami sangat merasakan manfaatnya, proses tanam jadi lebih cepat dan efisien. Harapan kami ke depan ada dukungan alsintan seperti traktor agar percepatan tanam bisa lebih optimal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur udara. Menurutnya, bantuan ketersediaan air masih menjadi tantangan, sehingga sumur bor dalam sangat dibutuhkan.

“Kalau sumur bor dalam bisa dibantu, tentu sangat mendukung keberlanjutan tanam di subak kami. Dengan dukungan alsintan dan air yang cukup, kami optimistis produktivitas bisa meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Penyuluhan Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP, M.Agb., menegaskan bahwa pihaknya akan menggalang kebutuhan petani melalui pendekatan berbasis prioritas.

“Kebutuhan di lapangan akan kita petakan dan disusun dalam skala prioritas. Selanjutnya diusulkan melalui aplikasi e-Banper agar penyalurannya tepat sasaran dan transparan,” jelasnya.

Oleh karena itu, peran penyuluh menjadi kunci dalam memastikan setiap usulan benar-benar berbasis kebutuhan riil petani.

“Kami memastikan penyuluh aktif mendampingi, sehingga program PM-AAS ini berjalan optimal dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas,” tegasnya.

Semangat pun digaungka. penyuluh bergerak, pertanian maju. Sinergi antara BBRMP Bali, penyuluh, dan petani diyakini menjadi kunci sukses implementasi PM-AAS, sekaligus mempercepat terwujudnya pertanian modern di Bali.

Koresponden: Widnyana/Edi

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1