“Petani Muda Bangkit, Kelsi Bali Turun Gunung Kawal Kentang Buleleng”
Kebangkitan kentang Buleleng mulai menemukan momentumnya. Petani muda tampil di garda depan, sementara Kelsi Penyuluhan Provinsi Bali turun langsung mengawal sebagai solusi atas anjloknya produktivitas akibat benih turun-temurun.
Petani Muda Bangkit, Kelsi Bali Turun Gunung Kawal Kentang Buleleng
Dari krisis benih turun-temurun, demplot G2 jadi titik balik kebangkitan sentra kentang Pancasari–Gobleg.
Sektor pertanian kentang di kawasan Pancasari dan Gobleg, Buleleng, tengah bersiap menyongsong era kebangkitan. Setelah sekian lama dihantui penurunan produktivitas akibat penggunaan benih turun-temurun, kini secercah harapan muncul melalui inisiatif petani muda yang bersinergi dengan teknologi pembenihan modern.
Hal tersebut mengemuka saat kunjungan kerja Kelsi Penyuluhan Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., di lahan demplot kawasan Asah Gobleg, baru-baru ini. Didampingi jajaran penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjar dan Sukasada Buleleng, kunjungan ini bertujuan memastikan pendampingan teknis berjalan optimal bagi para petani.
Komang Adik Yasa, sosok petani muda progresif asal Asah Gobleg, menjadi motor penggerak perubahan ini. Dalam penuturannya, Komang mengungkapkan bahwa selama ini banyak petani di desanya yang "kapok" menanam kentang. "Kendala utamanya adalah hasil produksi yang rendah dan sering gagal. Penyebabnya karena benih antar lapang yang dipakai turun-temurun, kualitasnya terus merosot," ujarnya.
Titik balik muncul saat Komang menghadiri sebuah seminar pertanian di Denpasar. Di sana, ia dipertemukan dengan PT AIMS oleh salah satu pembicara ahli, seorang akademisi senior. Pertemuan tersebut membuka jalan bagi kerja sama penyediaan benih berkualitas tinggi.
Kini, melalui PT AIMS, Komang dan petani setempat mulai melakukan demplot (demonstrasi plot) menggunakan benih unggul kelas G2. Di lahan seluas 30 are di Pancasari, dikembangkan kentang varietas Granola G2 yang memiliki ciri khas daging umbi kuning, jenis yang paling familiar bagi petani lokal. Sementara itu, di lahan seluas 80 are di Asah Gobleg, diuji coba varietas Citra G2. Varietas ini merupakan jenis kentang industri dengan daging umbi putih yang sangat diminati sektor resto dan olahan.
Perhiptani Pasang Badan
Melihat potensi besar ini, Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) menyatakan kesiapannya untuk melakukan pengawalan total. Melalui para penyuluh di lapangan, Perhiptani akan memastikan transisi teknologi dari benih lokal ke benih unggul G2 berjalan mulus.
Penyuluh Pertanian BPP Banjar, Gede Wahyu Dhiyana Mahardika, S.P., menegaskan bahwa pendampingan teknis akan dilakukan secara intensif. "Kami akan kawal mulai dari manajemen tanam hingga pengendalian hama. Keunggulan teknis varietas Citra yang tahan OPT dan berproduksi tinggi hingga 25 ton/hektar harus bisa dirasakan langsung oleh petani," tegasnya.
I Ketut Arya Sudiadnyana menambahkan, target utama dari proyek ini adalah terbentuknya kelompok tani yang solid. "Jika demplot ini sukses, kami harap petani lain ikut tergerak. Kita ingin kawasan ini kembali menjadi sentra utama untuk memenuhi kebutuhan kentang Bali yang terus meningkat, baik untuk pasar lokal maupun industri pariwisata," pungkasnya.
Dengan sinergi antara semangat petani muda, dukungan pemerintah, dan Perhiptani serta ketersediaan benih unggul, Bali optimistis tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, langkah nyata menuju kemandirian pangan daerah. (JikWid/DND)
What's Your Reaction?
Like
6
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0