BIDIK HILIRISASI: Kunker Kelsi Bali, Kopi Wanagiri Didorong Tembus Hotel Berbintang

Kunjungan kerja Kelsi Bali ke Desa Wanagiri tak sekadar seremonial. Dari dapur produksi kopi milik KWT Sari Amerta Giri, upaya hilirisasi mulai nyata. Kkopi lokal didorong naik kelas menembus pasar hotel berbintang.

May 2, 2026 - 04:46
 0  31
BIDIK HILIRISASI:  Kunker Kelsi Bali, Kopi Wanagiri Didorong Tembus Hotel Berbintang

BIDIK HILIRISASI:

Kunker Kelsi Bali, Kopi Wanagiri Didorong Tembus Hotel Berbintang

Potensi emas hitam di dataran tinggi Buleleng terus dipacu untuk naik kelas. Bukan lagi sekadar menjual biji mentah, para petani perempuan di Desa Wanagiri kini didorong untuk menguasai rantai produksi hingga ke meja konsumen. Semangat itulah yang tertangkap saat Kelsi Pengelolaan Penyuluhan Provinsi Bali melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Amerta Giri, Kecamatan Sukasada, Buleleng Kamis (30/4).

Kelsi Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., didampingi jajaran penyuluh pertanian dari BPP Sukasada. Kehadiran mereka disambut langsung oleh Ketua KWT Sari Amerta Giri, Ni Nyoman Budiani, di ruang pengolahan kopi yang kini dilengkapi peralatan modern.

Sentuhan Teknologi: Dari Tradisional ke Modern

Dalam kunjungan tersebut, suasana akrab terlihat saat Arya Sudiadnyana, berdialog langsung dengan Ni Nyoman Budiani, Ketua KWT Sari Amerta Giri. Berdiri di depan mesin espresso yang mengkilap, Budiani memaparkan bagaimana kelompoknya kini telah bertransformasi.

"Dulu kami menggoreng kopi pakai kayu bakar, sering gosong atau malah mentah. Sekarang, berkat bantuan mesin sangrai (roasting) dan alat giling (grinder), kualitas rasa kopi Wanagiri lebih konsisten," jelas Budiani sembari menunjukkan alat penyeduhan kepada Arya Sudiadnyana.

Mendengar penjelasan tersebut, Arya Sudiadnyana tampak sangat antusias. Ia mengamati detail teknis yang dipaparkan Budiani mulai dari pemilihan biji kopi petik merah hingga proses penyajian yang kini mengikuti standar barista profesional. Baginya, keterlibatan perempuan dalam mata rantai kopi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal kemandirian.

Arya Sudiadnyana menyaksikan langsung transformasi yang dilakukan para ibu tani ini. Dari aroma yang menyerbak, ia melihat proses detail mulai dari pemilihan biji kopi petik merah (green bean), penyangraian (roasting), hingga teknik penyeduhan menggunakan mesin espresso.

"Ibu Budiani dan rekan-rekan di sini adalah bukti nyata bahwa perempuan desa mampu menguasai teknologi. Hilirisasi bukan lagi sekadar wacana, tapi sudah menjadi nafas usaha di KWT Sari Amerta Giri. Ini harus terus didampingi agar bisa menembus pasar internasional," puji Arya dengan bangga.

 “Kami melihat setiap tahapan di sini menyimpan cerita tentang kerja keras dan inovasi. Ini bukan sekadar menyeduh kopi, tapi ini adalah upaya meningkatkan nilai tambah (hilirisasi). Petani kita tidak boleh lagi hanya menjadi penonton, mereka harus jadi pemain utama di industrinya sendiri,” tegas Arya Sudiadnyana dengan nada bangga.

 Produksi 15 Ton per Tahun, Bidik Sektor Horeca

Budiani memaparkan bahwa saat ini kelompoknya mampu memproduksi sekitar 100 hingga 150 kg bubuk kopi per bulan, dengan kapasitas tahunan mencapai 15 ton. Sebuah angka yang signifikan untuk usaha berbasis komunitas desa.

Jangkauan pasar mereka pun terus meluas. Dari yang awalnya hanya melayani kebutuhan lokal Desa Wanagiri dan sekitarnya seperti Pancasari dan Asah Gobleg, kini mereka mulai membidik sektor Horeca (Hotel, Restaurant, & Cafe) di Bali Utara.

"Dulu kami mengolah secara tradisional, sekarang dengan bantuan alat modern dan pendampingan berkelanjutan, kualitas rasa kopi kami lebih konsisten. Mimpi kami sederhana, ingin melihat kopi ibu-ibu Wanagiri ini tersedia di meja hotel berbintang seluruh Bali," ujar Budiani optimistis.

Harapan dan Kemandirian Ekonomi

Kunjungan ini diakhiri dengan diskusi mengenai tantangan pasar ke depan. Arya Sudiadnyana menekankan bahwa pemerintah melalui penyuluh pertanian akan terus mengawal standarisasi kualitas dan kemasan agar produk lokal ini mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

“Hilirisasi adalah harapan baru bagi ekonomi keluarga di desa. Jika ini konsisten, kesejahteraan petani akan terangkat secara otomatis. KWT Sari Amerta Giri adalah contoh nyata bagaimana kemandirian ekonomi itu dibangun dari segelas kopi,” pungkasnya. (JikWid/DND)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0