Sentuhan Penyuluh, Madu Jembrana Go Global
Manisnya madu dari Desa Yehsumbul, Jembrana, tak lagi sekadar konsumsi lokal. Lewat inovasi Kelompok Tani Lebah Madu Buana Sari, produk lebah kini menembus pasar ekspor.
Sentuhan Penyuluh, Madu Jembrana Go Global
Dari perbukitan hijau Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, manisnya madu tak hanya menghidupi petani lokal. Lewat tangan-tangan terampil Kelompok Tani Lebah Madu Buana Sari, produk berbasis lebah kini melanglang hingga pasar global.
Kelompok Tani Lebah Madu Buana Sari menjadi salah satu motor penggerak ekonomi berbasis peternakan lebah di Kabupaten Jembrana. Berdiri sejak 2019, kelompok yang kini beranggotakan 35 orang ini fokus membudidayakan lebah jenis Apis mellifera asal Australia.
Tak sekadar menghasilkan madu, kelompok ini juga mengembangkan produk turunan bernilai tinggi atau superfood, seperti bee pollen, royal jelly, dan propolis. Produk-produk tersebut dikenal memiliki manfaat besar bagi kesehatan, mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh hingga sebagai antioksidan alami.
Ketua kelompok, I Ketut Jiwa, menjelaskan bahwa kekuatan utama Buana Sari terletak pada inovasi budidaya, khususnya dalam pembentukan ratu lebah. Melalui teknik pengambilan sel dan penempatan pada mangkok khusus di dalam kotak koloni, ratu baru dapat dihasilkan hanya dalam waktu 13 hari.
“Inovasi ini mempercepat pembentukan koloni baru, sehingga produksi bisa meningkat lebih cepat,” jelasnya.
Produktivitas madu sangat dipengaruhi kondisi alam. Dalam kondisi nektar melimpah, panen bisa dilakukan setiap dua minggu hingga satu bulan. Waktu terbaik panen dilakukan pada pagi hari hingga pukul 10.00 Wita untuk menjaga kualitas madu tetap optimal.
Namun, faktor cuaca seperti angin kencang turut memengaruhi aktivitas lebah. Jika normalnya lebah mampu menjangkau hingga dua kilometer untuk mencari nektar, saat kondisi ekstrem jaraknya bisa menyusut menjadi hanya 100–200 meter.
Dengan dukungan sekitar 700 koloni lebah yang tersebar di wilayah Mendoyo, Buana Sari mampu menjaga kontinuitas produksi. Produk madu dipasarkan dengan merek “Pak Ngah” dalam berbagai ukuran, mulai 400 gram hingga 1 kilogram, dengan kisaran harga Rp125.000 hingga Rp200.000 per botol.
Tak berhenti di pasar domestik, madu asal Jembrana ini juga mulai menembus pasar ekspor. Negara tujuan antara lain Tiongkok, Singapura, hingga beberapa negara di Eropa.
Peran pendampingan juga tak kalah penting. Penyuluh pertanian dari BPP Mendoyo, Deni Prasetiyo, S.P., yang membina wilayah Desa Yehembang Kangin dan Yehsumbul, turut mengawal pengembangan kelompok agar semakin adaptif terhadap inovasi dan peluang pasar.
Peran pendampingan penyuluh turut menjadi kunci penguatan usaha. Penyuluh pertanian BPP Mendoyo, Deni Prasetiyo, S.P., aktif membantu kelompok dalam berbagai aspek pengembangan, termasuk memfasilitasi persiapan Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Sertifikasi ini penting karena usaha madu masuk dalam kategori unit usaha produk hewan yang wajib memenuhi standar keamanan dan kelayakan pangan asal hewan.
Melalui pendampingan tersebut, Kelompok Tani Lebah Madu Buana Sari didorong untuk memenuhi berbagai persyaratan teknis, mulai dari sanitasi produksi, manajemen pascapanen, hingga penjaminan mutu produk. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat daya saing produk madu Jembrana di pasar nasional maupun ekspor.
Berbagai prestasi pun berhasil diraih. Di antaranya Juara I Lomba Teknologi Tepat Guna tingkat Kabupaten Jembrana tahun 2022, Juara II tingkat Provinsi Bali tahun 2023, serta Juara II Kelompok Tani Berprestasi tahun 2025.
Kini, Kelompok Tani Lebah Madu Buana Sari tak hanya menjadi kebanggaan Jembrana, tetapi juga bukti bahwa sektor pertanian termasuk peternakan lebah mampu naik kelas dan bersaing di pasar global.
Koresponden: Edi Setiawan
Editor: Jikwid
What's Your Reaction?
Like
5
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0