Yuk Kita Bicara Data, Bukan Katanya
Di Demplot Subak Meliling, Kerambitan, Tabanan, membuktikan dua petani bekerja dengan cara berbeda. Dari lahan kecil itu, kita bisa belajar banyak. Yuk kita bahas analisa usahatani supaya gamblang. Supaya jelas. Tidak sekadar “katanya”. Bersama penyuluh pertanian kita I Gede Artha Sudiarsana, S.P., M.Agb.
Yuk Kita Bicara Data, Bukan Katanya
Yuk kita bahas analisa usahatani supaya gamblang. Supaya jelas. Tidak sekadar “katanya”.
Di Demplot Subak Meliling, Kerambitan, Tabanan, membuktikan dua petani bekerja dengan cara berbeda. I Made Widana tetap di jalur lama. Konvensional. Sedangkan I Made Sukerta memilih jalan baru, pupuk organik padat suplement dan POC Greenway.
Dari lahan kecil itu, kita bisa belajar banyak. Apalagi ada yang ikut mengawal I Gede Artha Sudiarsana, S.P., M.Agb. Penyuluh pertanian yang tak hanya mendampingi petani, tapi juga memastikan setiap data dicatat. Jumlah anakan, tinggi tanaman, hingga pH tanah.
Hasilnya? Jauh lebih meyakinkan daripada sekadar opini.
Pertumbuhan tanaman tidak bisa dilepaskan dari kondisi tanah. Salah satu indikator kunci adalah pH tanah. Pada 2 Juli, atau 7 hari sebelum tanam, pH tanah masih berada di angka 5,5 cukup masam dan kurang ideal untuk padi. Namun, setelah perlakuaan aplikasi diberikan Pupuk Organik Padat Suplement dan POC Greenway saat memasuki waktu tanam, 9 Juli, pH tanah naik menjadi 6,5. Kondisi ini jauh lebih netral, dan kabar baiknya, stabil hingga masa panen. “Stabilitas pH ini berarti unsur hara bisa terserap lebih baik, sekaligus menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat bagi tanaman,” jelas Gede Artha Sudiarsana mengawali ceritanya.
Dampaknya, lanjut Gede Artha, terlihat pada jumlah anakan. Di minggu ke-4, perlakuan dengan pupuk organik Greenway mencatat rata-rata 20 anakan, lebih banyak dari kontrol yang hanya 18. Meski sempat stagnan pada minggu ke-5 hingga minggu ke-6 akibat penggunaan herbisida berlebih, tanaman dengan perlakuan mampu bangkit dengan cepat. Hasilnya mencolok minggu ke-6 anakan melonjak hingga 32 (kontrol 27), dan minggu ke-7 mencapai 33 (kontrol 29).
Hal serupa terjadi pada tinggi tanaman. Saat perlakuan sempat stagnan, kontrol justru lebih tinggi hingga minggu ke-6. Tapi semua berubah di minggu ke-7 perlakuan pupuk organik Greenway mencatat tinggi rata-rata 75 cm, sedangkan kontrol hanya 70,8 cm.
Rangkaian data ini menunjukkan pola yang konsisten: pH tanah yang stabil memberi fondasi kuat, pupuk organik Greenway memperkuat pertumbuhan, dan pada akhirnya tanaman bukan hanya bisa pulih dari hambatan teknis, tetapi juga melesat lebih tinggi dan menghasilkan anakan lebih banyak dibanding metode konvensional.
“Pendekatan pupuk hayati ini bukan hanya hemat biaya, tapi juga membuka jalan agar pertanian kita lebih berkelanjutan. Petani bisa panen lebih banyak, margin lebih besar, dan tanah tetap sehat untuk generasi berikutnya,” tegas Gede Artha Sudiarsana yang akrab disapa Gede Jamur.
Angka Bicara Lebih Jujur
Gede Artha, jebolan Magister Agribisnis Universitas Udayana mengajak kedua petani berhitung. Kedua petani sama-sama menanam padi varietas Inpari 32. Bedanya hanya di cara perlakuan dan biaya yang dikeluarkan. Hasilnya?
Jalur Konvensional (I Made Widana)
Biaya produksi mencapai Rp1.583.000. Ditambah ongkos tenaga kerja sebesar Rp4.240.000, total biaya usahatani Rp5.823.000. Dari lahan 0,5 hektare, hasil panen mencapai 3.312 kg gabah. Dengan harga jual Rp6.300/kg, nilai kotor panen sebesar Rp20.865.600. Setelah dikurangi biaya, keuntungan bersih Rp15.042.600. Jika dihitung per hektare, keuntungan bersih mencapai Rp30.085.200.
Jalur Baru (I Made Sukerta – Pupuk Organik + POC Greenway)
Biaya produksi sedikit lebih tinggi, Rp1.596.530. Ongkos tenaga kerja hanya Rp2.120.000. Total biaya usahatani Rp3.716.530. Dari lahan 0,25 hektare, hasil panen mencapai 1.983,6 kg gabah. Dengan harga jual sama Rp6.300/kg, nilai kotor panen sebesar Rp12.496.680. Setelah dipotong biaya, keuntungan bersih Rp8.780.150. Jika dihitung per hektare, keuntungan bersihnya mencapai Rp35.120.600.
Kesimpulannya, dengan harga gabah bersih yang diterima petani sebesar Rp6.300/kg—atau Rp7.300/kg bila petani melakukan panen sendiri namun belum termasuk biaya panen dan dores—analisa usahatani menunjukkan perbedaan yang menarik.
Meski pada perlakuan pupuk organik GreenWay terdapat penambahan biaya produksi, dampaknya justru signifikan terhadap peningkatan produktivitas dan hasil panen. Ketika dihitung per hektare, keuntungan bersih dari perlakuan organik lebih tinggi dibandingkan dengan jalur konvensional. Artinya, secara ekonomi jalur organik lebih menjanjikan bagi petani.
Tidak hanya berhenti di keuntungan jangka pendek, perbaikan kualitas tanah juga menjadi nilai tambah. pH tanah yang meningkat hingga 6,6 membuat kondisi lahan lebih ideal untuk kebutuhan penanaman padi pada musim berikutnya. Dengan demikian, penggunaan pupuk organik tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperbaiki daya dukung tanah secara berkelanjutan.
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0