“Cabai Tedy Layu, Penyuluh Tak Tinggal Diam”
Yang layu hanya dua batang cabai. Tapi tanpa langkah cepat, bisa habis satu kebun. Petani muda di Jembrana belajar arti penting kepastian. Laboratorium Mini BPP Negara hadir memberi jawaban. Dari situlah arti penting sebuah laboratorium kecil, menyelamatkan yang besar, dari hal yang kecil. Penyakit fusarium terdeteksi, langkah pengendalian bisa segera dilakukan.
“Cabai Tedy Layu, Penyuluh Tak Tinggal Diam”
Menjaga ketahanan produksi cabai rawit di Jembrana, Bali, bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah serangan penyakit layu yang sering kali disebabkan oleh jamur patogen. Inilah yang dihadapi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Negara ketika menerima laporan dari seorang petani muda, Tedy, asal Desa Tegalbadeng Timur. Ia mendapati dua batang cabai rawitnya menunjukkan gejala layu mencurigakan.
Layu pada dua batang cabai rawit milik Tedy, petani muda Desa Tegalbadeng Timur, memunculkan kecemasan. Cabai tampak merunduk meski tanah cukup lembap, batang menghitam di pangkal, akar berubah kecokelatan. Gejala khas penyakit layu fusarium. Penyakit yang sering kali menjadi mimpi buruk petani cabai karena mampu bertahan lama di tanah dan sulit diberantas.
Diagnosis Berbasis Sains
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Negara segera merespons laporan itu. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) turun ke lokasi dan mengambil sampel akar. Alih-alih hanya menebak, mereka membawa sampel ke Laboratorium Mini BPP Negara untuk diperiksa secara in vitro. Di ruang steril, akar yang sakit dipotong kecil-kecil, diletakkan di media Potato Dextrose Agar (PDA), lalu diinkubasi. Beberapa hari kemudian, koloni jamur tumbuh dengan ciri khas Fusarium. Pengamatan mikroskopis memperlihatkan hifa dan konidia berbentuk sabit identitas Fusarium oxysporum pun terkonfirmasi.
Kehadiran laboratorium mini menjadi langkah maju. Penyuluh tidak lagi sebatas menebak di lapangan. Mereka bekerja berbasis sains. Dengan data laboratorium, petani mendapat rekomendasi pengendalian yang tepat. “Kami tidak hanya menebak di lapangan. Dengan laboratorium mini, petani mendapat arahan pengendalian yang tepat,” kata Angrea Pratsna Paramitha, SP. PPL Wilayah Binaan.
Pentingnya Diagnosis Dini
Diagnosis dini menjadi kunci mencegah penyebaran penyakit lebih luas. Fusarium oxysporum dapat memangkas produktivitas cabai secara signifikan jika tidak segera dikendalikan. Hasil isolasi di laboratorium menjadi acuan bagi penyuluh untuk memberikan rekomendasi tepat, mencabut tanaman sakit, melakukan sanitasi lahan, rotasi tanaman, hingga pemanfaatan agen hayati seperti Trichoderma.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Negara, I Made Suarnawa, S.ST, menambahkan, langkah ini adalah bentuk komitmen untuk hadir lebih nyata di tengah petani. “Kami ingin BPP menjadi rumah belajar, tempat petani mendapat solusi berbasis sains, bukan sekadar teori. Ke depan, layanan laboratorium mini akan terus kami optimalkan, agar produksi cabai rawit dan komoditas pertanian lain di Jembrana tetap terjaga,” tutur Suarnawa.
“Awalnya saya khawatir, takut semua tanaman habis. Bagi saya yang baru merintis jadi petani, kehilangan satu kebun berarti kehilangan harapan. Sekarang, tinggal ikuti arahan penyuluh,” ujar Tedy lega, matanya berbinar di sela rasa waswas yang perlahan reda.
Harapan
Ketua DPD Perhiptani Jembrana, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., mengapresiasi. Langkah cepat melalui isolasi dan identifikasi patogen ini menunjukkan bahwa penyuluh tidak hanya memberi arahan secara teori, tetapi bekerja berbasis analisis ilmiah. Ini membangun kepercayaan petani sekaligus memperkuat ketahanan produksi.
“Harapan kami, kegiatan serupa tidak berhenti di satu desa saja, melainkan diperluas ke seluruh wilayah. Dengan deteksi dini, penyakit tanaman dapat segera diantisipasi sehingga produktivitas petani tetap terjaga,” harap Darmayasa.
Kasus layu pada cabai rawit di Desa Tegalbadeng Timur memang hanya menyerang dua batang tanaman. Namun, dari kasus kecil itu lahir pelajaran besar. Pentingnya laporan cepat dari petani, observasi lapangan dari penyuluh, serta peran laboratorium mini BPP Negara dalam memastikan diagnosis penyakit. Dengan kepastian bahwa, penyebabnya adalah Fusarium oxysporum, langkah pengendalian dapat segera diterapkan. Sinergi petani, penyuluh, dan BPP inilah yang menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi cabai rawit di Jembrana.
Kontributor DPD Kabupaten Jembrana
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0