BPP Kuta Utara Tak Gentar, Penyuluh Bangkitkan Petani Cabai
Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuta Utara menggelar kegiatan pelatihan peningkatan produktivitas budidaya cabai melalui pendekatan pelatihan dan pemberdayaan petani. menggandeng sektor swasta, CV Sambal Matu.
BPP Kuta Utara Tak Gentar, Penyuluh Bangkitkan Petani Cabai
Di tengah masa transisi kelembagaan penyuluh pertanian di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuta Utara, Kabupaten Badung, justru menunjukkan ketangguhan. Dengan keterbatasan personel, para penyuluh tetap bergerak, mendampingi petani, dan menghadirkan solusi nyata di lapangan.
Di bawah komando Koordinator BPP Kuta Utara, Ketut Alit Sabda Utama, SP., hanya dengan lima orang penyuluh, aktivitas penyuluhan tetap berjalan konsisten. Tak sekadar bertahan, BPP Kuta Utara bahkan mampu melahirkan terobosan dengan menggandeng sektor swasta, CV Sambal Matu, dalam pelatihan bertajuk “Peningkatan Produktivitas Budidaya Cabai melalui Pelatihan dan Pemberdayaan Petani.” Jumat (30/01/2026).
Pelatihan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Dr. I Wayan Wijana, S.Sos., M.Si., perwakilan kelompok tani se-Kecamatan Kuta Utara, Kepala Tim Kerja Penyuluhan Kabupaten Badung, serta para penyuluh BPP Kuta Utara.
Dalam arahannya, Wayan Wijana menegaskan bahwa cabai (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura strategis dengan nilai ekonomi tinggi dan menjadi kebutuhan utama masyarakat. Selain sebagai bumbu dapur, cabai juga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan industri makanan.
“Kebutuhan cabai di Kabupaten Badung mencapai sekitar 1.300 ton per tahun. Sementara produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 300 ton. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 1.000 ton. Ini peluang besar yang harus kita jawab bersama,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Badung, lanjutnya, telah menyiapkan program pengembangan cabai secara berkelanjutan. Pada 2025, pengembangan dilakukan di lahan seluas 25 hektare dan akan ditingkatkan menjadi 45 hektare pada 2026. Petani yang berminat dipersilakan mendaftar melalui Koordinator BPP, dengan komitmen pengelolaan yang serius dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketut Alit Sabda Utama, SP., menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai upaya membangkitkan semangat dan kemandirian petani. Melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan budidaya cabai dari hulu hingga hilir, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen.
“Pelatihan ini tidak hanya soal teknik budidaya, tetapi juga pemberdayaan. Kami ingin petani lebih mandiri, berdaya saing, dan memiliki kepastian pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemitraan dengan pihak swasta menjadi kunci penting agar petani tidak berjalan sendiri. Dengan dukungan pendampingan berkelanjutan dan akses pemasaran, cabai diharapkan tumbuh menjadi komoditas unggulan Kuta Utara sekaligus berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan cabai Kabupaten Badung.
Dari sisi teknis, narasumber dari Dinas Pertanian dan Pangan Badung, Made Susiana, SP., memaparkan teknik budidaya cabai secara komprehensif, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen.
Komitmen hilirisasi juga ditegaskan oleh Wulan, perwakilan CV Sambal Matu. Ia menyatakan kesiapan perusahaan menyerap hasil panen cabai petani tanpa batasan jumlah. “Berapa pun hasil panen petani, kami siap menyerap sesuai harga pasar,” ujarnya.
Produk Sambal Mantu berdiri sejak 2017 sebagai produsen sambal embe khas Bali. Diolah secara modern dengan tetap mempertahankan resep tradisional dan bahan baku berkualitas, Sambal Mantu menghadirkan cita rasa autentik. Perpaduan bawang goreng yang gurih dan renyah menjadikan sambal ini khas serta menggugah selera.
Langkah BPP Kuta Utara ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang. Dengan semangat kolaborasi dan keberanian berinovasi, penyuluh dan petani bahu-membahu menanam harapan, menumbuhkan kemandirian, dan menguatkan ketahanan pangan daerah. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0