I Made Suryadi: Jalan Sunyi Sang “Diplomat” Petani

Tak banyak yang tahu, jalan pengabdian I Made Suryadi, SP, ditempa dari peluh perjalanan panjang dan dialog tanpa henti dengan petani. Dengan ketenangan dan kesabaran, ia menjelma menjadi sosok yang kerap disebut sebagai “diplomat” di ladang-ladang Karangasem.

Feb 2, 2026 - 00:14
Feb 2, 2026 - 00:16
 0  46
I Made Suryadi: Jalan Sunyi Sang “Diplomat” Petani

I Made Suryadi:

Jalan Sunyi Sang “Diplomat” Petani

Sosoknya tenang. Tutur bicaranya lugas, sesekali diselingi humor ringan yang mencairkan suasana. Siapa sangka, sebelum dikenal sebagai penyuluh pertanian, pria ini pernah malang melintasi dunia penjualan mobil hingga mengelola Gerai Telkomsel. Dialah I Made Suryadi, SP , Koordinator Penyuluh Pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Berpenampilan karismatik, rendah hati, dan mudah bergaul, Suryadi dikenal fleksibel serta piawai berkomunikasi. Tak berlebihan bila ia kerap dijuluki diplomat ulung julukan yang lahir dari kesehariannya mendampingi petani di wilayah binaan dengan pendekatan persuasif dan membumi.

Ketertarikan Suryadi pada dunia pertanian sejatinya bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga petani. Lebih dari itu, orang tuanya merupakan sosok penyuluh pertanian tulen yang sejak kecil memperkenalkannya pada denyut kehidupan pertanian di desa. Dari orang tuanyalah ia belajar bahwa penyuluhan bukan sekedar pekerjaan, melainkan pengabdian yang menuntut kesabaran, ketelatenan, dan keikhlasan.

 “Paling asik itu saat menyelami kehidupan kampus. Banyak kisah suka dan duka,” singkatnya, membuka kisah perjalanan hidupnya sambil tersenyum lebar.

Lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada 2002, jalan hidup Suryadi tak serta-merta mengarah ke dunia pertanian. Selepas kuliah, ia sempat bekerja serabutan sebelum akhirnya terjun sebagai sales mobil merek ternama hingga dipercaya memimpin sebuah Gerai Telkomsel di Denpasar. Selama kurang lebih tiga tahun, ia malang melintang di sektor ini hingga dipercaya memimpin sebuah Gerai Telkomsel. Dari dunia sales itulah kemampuan membangun relasi dan komunikasi Suryadi terasah sekaligus menjadi awal kisah cintanya, yang berujung pada pernikahannya dengan seorang gadis asal Buleleng.

Tahun 2006 menjadi titik balik. Suryadi mencoba peruntungan sebagai aparatur sipil negara. Usahanya berbuah manis. Ia dinyatakan lulus sebagai PNS dan ditempatkan sebagai penyuluh pertanian di BPP Kubu, Karangasem. Belum genap setahun, ia dipindahkan ke instansi induk di Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem.

Masa tugas di BPP Kubu menjadi salah satu fase paling menguras tenaga dalam perjalanan hidup Suryadi. Ia mengontrak rumah kecil di kawasan Nusa Dua, memilih tetap dekat dengan istri yang bekerja di sektor pariwisata. Setiap hari, sepeda motor tua menjadi saksi bisu pengabdiannya mengantarnya menempuh perjalanan panjang 80–90 kilometer menuju Kubu, menyusuri jalan berliku selama 2 hingga 3 jam, pergi dan pulang.

Tak jarang, ia baru pulang ke rumah seminggu sekali. Di tasnya hanya ada dua atau tiga stel pakaian kerja, dipakai bergantian, dicuci seadanya, tanpa disetrika. “Kita ini orang lapangan,” katanya lirih, “setiap hari bergaul dengan petani.”

Rasa lelah kerap mencapai puncaknya di tengah perjalanan. Saat kantuk tak lagi bisa ditahan, Suryadi memilih menepi di pinggir jalan, memejamkan mata hampir setengah jam, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak sebelum kembali melaju. Tak ada keluhan, tak ada penyesalan. Semua dijalani dengan ikhlas sebuah pengabdian sunyi yang barangkali tak banyak terlihat, namun menjadi fondasi kuat bagi dedikasinya hari ini.

Pada 2011, Suryadi dipindahtugaskan ke BPP Bebandem. Kurang dari setahun kemudian, ia kembali dipercaya bertugas di BPP Rendang hingga 2019. Sejak 2020 hingga kini, menjadi Koordinator di BPP Selat. Ia juga sempat menjalankan amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) UPTD Karangasem selama enam bulan.

Meski mengemban berbagai kepercayaan, Suryadi dikenal tak pernah berambisi mengejar jabatan. Baginya, posisi hanyalah sarana untuk memperluas ruang pengabdian. Ia justru lebih sering tampil di balik layar memfasilitasi, membantu, dan menguatkan rekan kerja sejawat tanpa mempersulit urusan. Dalam keseharian, ia dikenal ringan tangan dan mudah diajak berdiskusi, menjadikan dirinya sosok penghubung yang menenangkan di tengah dinamika birokrasi.

Sikap itulah yang membuat kehadirannya diterima, baik oleh sesama penyuluh maupun petani. Kepemimpinan yang ia jalani bukan dengan instruksi keras, mempersulit rekan sejawat, melainkan dengan teladan dan kesediaan untuk berjalan bersama.

Pengalaman panjang itulah yang pematangkan peran Suryadi, bukan sekadar sebagai penyuluh, bisa jadi bak diplomat petani . Terlebih lagi sejak ia dipercaya menjadi Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Karangasem. Dari posisi ini, ia semakin menyadari bahwa tantangan penyuluhan terbesar bukanlah teknologi atau program, melainkan membangun kepercayaan.

“Mendiseminasikan inovasi itu tidak mudah,” ujarnya. Ketika petani sudah fanatik pada satu varietas yang terbukti memberi hasil, itulah yang akan terus mereka tanam. Inovasi baru sering dipandang penuh risiko. Bukan karena petani menolak kemajuan, tetapi karena mereka tidak ingin merekam penghidupan dari sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Hal serupa juga terjadi pada penyaluran bantuan. Jika bantuan yang diterima dirasa kurang menguntungkan, penolakan bisa muncul. Apalagi, pada kesempatan berikutnya, bantuan serupa bisa langsung ditolak. Di titik inilah peran penyuluh diuji bukan sebagai penyampai program, melainkan sebagai jembatan antara kebijakan dan kenyataan lapangan.

Suryadi memilih jalan dialog. Ia tak datang membawa klaim kebenaran, melainkan mendengar, menjelaskan, dan memberi pemahaman secara perlahan. “Penyuluh itu bukan memaksa petani berubah, tapi mengajak mereka berpikir dan mencoba,” katanya. Pendekatan persuasif, bahasa yang membumi, dan kesabaran menjadi senjatanya.

Pelan tapi pasti, fanatisme yang semula berputar mulai tenang. Petani yang awalnya menolak, membuka diri. Yang semula ragu, akhirnya mencoba. Dari situlah kepercayaan tumbuh.

Pendekatan itu menghasilkan hasil. Fanatisme yang semula mengeras perlahan mereda. Petani yang awalnya menolak, mulai membuka diri. Yang semula ragu, akhirnya mencoba. Bagi Suryadi, keberhasilan penyuluhan bukan diukur dari seberapa cepat inovasi diterima, melainkan dari seberapa dalam kepercayaan dan pemahaman yang berhasil dibangun.

Kosresponden : Agus Goge DPD Perhiptani Karangasem

Editor: Widianta

What's Your Reaction?

Like Like 5
Dislike Dislike 0
Love Love 3
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0