Wayan Suwastawa Giri, Penyuluh dengan Jiwa Humanis
Bagi pria asal Busungbiu ini, penyuluhan bukan hanya tentang berbagi pengetahuan, tapi tentang berjalan bersama petani memahami, mendengar, dan menumbuhkan harapan.
Wayan Suwastawa Giri, Penyuluh dengan Jiwa Humanis
Dibalik geliat pertanian di Kecamatan Banjar, terselip sosok yang bekerja dengan ketulusan tanpa banyak sorotan. Ia adalah Wayan Suwastawa Giri, SP, penyuluh pertanian yang selama bertahun-tahun menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan kehidupan nyata para petani. Dalam setiap langkahnya di sawah, di balai penyuluhan, hingga di ruang diskusi kelompok tani, Wayan hadir bukan hanya sebagai aparatur, namun juga sebagai sahabat dan pendengar yang memahami denyut kehidupan petani di Bali Utara.
Baginya, menyuluh bukan sekedar menyampaikan materi atau menjalankan program. Menyyuluh adalah menyelami kehidupan petani, mendengarkan kebutuhan mereka, dan bersama-sama mencari solusi. “Penyuluh tidak boleh hanya memberi tahu, tapi harus mau turun dan belajar bersama,” begitu prinsip yang selalu ia pegang.
Perjalanan hidup Wayan tidak dimulai dari ruang kantor yang nyaman, melainkan dari hamparan sawah di desa kelahirannya, Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Lahir pada tahun 1966 dari keluarga buruh tani sederhana, ia tumbuh dengan aroma tanah basah dan suara gemericik air irigasi yang menenangkan. Dari sanalah kecintaannya pada dunia pertanian dihilangkan. Setiap musim tanam menjadi ruang belajarnya — tentang ketekunan, kerja keras, dan harapan yang tumbuh bersama setiap tunas padi.
Semangat itu menempuh perjalanan pendidikan dari SD No. 4 Busungbiu (1979), SMP Kekeran kini SMPN 1 Busungbiu (1982), hingga SPP-SPMA Dati I Bali (1985). Tak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti, dan menuntaskannya pada tahun 2010. Ketekunan belajar di tengah kesibukan kerja membuktikan satu hal: dia, menjadi penyuluh berarti terus belajar agar bisa memberi lebih banyak kepada petani yang ia dampingi.
Dari Morotai hingga Banjar
Selepas menamatkan pendidikan di bidang pertanian, Wayan sempat bekerja di dunia percetakan. Namun, panggilan hatinya untuk kembali ke akar kehidupan petani begitu kuat. Tahun 1986, ia bergabung sebagai penyuluh pertanian honorer di Badan Pengendalian Bimas, dan ditugaskan jauh di Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara. Di tanah rantau itu, ia belajar arti sesungguhnya menjadi penyuluh bekerja di tengah keterbatasan, mendengarkan masyarakat, dan menanam semangat swadaya di setiap ladang yang dikunjungi.
Dua dekade kemudian, tahun 2000, langkahnya kembali berpijak di tanah kelahiran, Bali Utara. Ia melanjutkan pengabdiannya di Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, menjadi penyuluh yang selalu dekat dengan petani. Ketekunannya, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan berkomunikasi lintas generasi menjadikannya dikenal luas di kalangan kelompok tani.
Dedikasi panjang itu akhirnya mengantarkannya dipercaya menjadi Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Seririt pada tahun 2020. Setahun kemudian, amanah baru datang ia diangkat menjadi Koordinator BPP Kecamatan Banjar, posisi yang terus diembannya hingga kini.
Bagi Wayan, menjadi koordinator bukan soal jabatan, melainkan tanggung jawab moral. Ia memastikan setiap kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh lahan dan kehidupan petani. Dalam penerapannya, penyuluh bukan pengarah dari balik meja, tetapi pejuang di barisan depan pertanian yang siap kotor oleh lumpur demi melihat petani tersenyum.
BPP Banjar Menjadi Pusat Pembelajaran
Bagi Wayan Suwastawa Giri, menyuluh bukan hanya mengajar, tetapi juga menggerakkan. Ia aktif mendorong penerapan teknologi pertanian yang mendorong petani beralih dari cara tradisional menuju sistem mekanisasi, memperkenalkan benih unggul, dan membantu mereka memahami pentingnya efisiensi lahan.
Tak berhenti di situ, ia juga berkomitmen memperkuat kelembagaan kelompok tani. Bagi Wayan, kelompok tani yang solid adalah kunci kemandirian. Ia membangun rasa kebersamaan dan kepercayaan diri petani agar mereka memiliki posisi tawar yang kuat di pasar. “Pertanian tidak bisa maju kalau petani berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Di sisi lain, Wayan bersama membangun terus menjaga ketahanan pangan di Kecamatan Banjar. Ia memetakan potensi hortikultura dari durian, kopi, cengkeh, kelapa, mangga, anggur hingga padi, memastikan produktivitas tetap stabil meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim. Semua kerja keras itu bermuara pada satu hal: agar tanah Banjar tetap subur dan petani tetap tersenyum.
Di bawah kepemimpinannya, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjar bertransformasi dari sekadar kantor administrasi menjadi pusat pembelajaran pertanian (learning center). Kini, tempat itu ibarat rumah kedua bagi para petani tempat mereka belajar, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.
Berbagai program dirancang agar petani bisa tumbuh secara mandiri. Mulai dari penyusunan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) untuk penyaluran pupuk bersubsidi, pelatihan pembuatan pupuk organik mandiri, hingga sosialisasi perlindungan tanaman dan asuransi pertanian.
Semua dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Petani tidak lagi menjadi penerima manfaat pasif, melainkan pelaku utama pembangunan pertanian. Di bawah bimbingan Wayan, BPP Banjar menjadi ruang belajar bersama yang hidup tempat di mana ilmu, pengalaman, dan kebersamaan tumbuh dalam satu ladang yang sama.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi, Wayan tetap berjalan dengan langkah yang sama sederhana, tenang, namun pasti. Di balik kesunyian lahan dan hiruk pikuk musim tanam, ia terus menanam benih perubahan. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan pertanian Bali Utara yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaya.
Koresponden Shinta DPD Perhiptani Buleleng
Editor: Jikwid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0