Widiada: “Tak Pernah Menyerah Demi Petani”

Dari aroma kopi sore itu, terselip kisah seorang lelaki yang tak lelah menanam harapan. Ir. I Made Widiada, M.P., penyuluh pertanian asal Pujungan, tahu betul bahwa perjuangan tak selalu lurus jalannya. Namun dengan ketekunan dan keyakinan, setiap langkah bisa menjadi ladang pengabdian.

Jan 13, 2026 - 02:54
 0  68
Widiada:  “Tak Pernah Menyerah Demi Petani”

Widiada:

“Tak Pernah Menyerah Demi Petani”

Minggu sore yang teduh di Kedai Pokjok Sudirman, Denpasar. Aroma kopi hitam pekat menyeruak dan pisang goreng rasa keju di antara percakapan santai para pengunjung. Di sudut meja bundar, sosok pria berwajah tenang dengan senyum hangat. Dialah Ir. I Made Widiada, M.P., penyuluh pertanian asal Pujungan, Tabanan lelaki yang menempuh jalan panjang penuh kegigihan, jatuh-bangun, hingga akhirnya menjadi penggerak petani di tanah kelahirannya.

“Saya ini anak petani kopi,” ujarnya sambil menyesap pelan minumannya. “Dari kecil sudah terbiasa membantu orang tua di ladang. Mungkin dari situlah saya belajar arti kerja keras.”

Nada bicaranya lembut, tapi tegas. Dari cara ia bercerita, tampak jelas semangat seorang penyuluh sejati yang tak pernah padam meski jalannya menuju pengabdian tak selalu mudah.

“Saya lahir dan besar di Pujungan, Tabanan,” ujar Widiada membuka kisah masa kecilnya. “Orang tua saya petani kopi. Sejak SD, saya sudah terbiasa ikut ke ladang, membawa cangkul kecil, membantu semampu saya.”

Masa kecil itu, katanya, membentuk karakter ulet dan tak mudah menyerah yang terus melekat hingga kini.

Selepas SMP di kampung, Widiada melanjutkan SMA di Denpasar, lalu masuk Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Tahun 1987, ia resmi lulus dengan gelar sarjana pertanian. “Tapi sebelum wisuda, saya sudah mulai mencari pengalaman kerja,” kenangnya sambil tersenyum.

Ia sempat bekerja di Tegalalang, Gianyar, sebagai pensuplai tanaman hias di perusahaan kontraktor. Tak berhenti di situ, Widiada juga menjajal dunia perhotelan di Kuta dan sempat bekerja di perusahaan asuransi papan atas di Denpasar.

“Saya waktu itu ingin tahu dunia luar. Tapi hati kecil saya tetap tertarik di pertanian,” ujarnya.
Dua kali ia mencoba seleksi CPNS, dua kali pula gagal. “Namanya juga usaha. Kadang belum rezeki,” katanya ringan.

Namun kegigihannya tak surut. Ia memutuskan merantau ke Kendari, Sulawesi Tenggara, dan mengabdi sebagai penyuluh pertanian honor selama dua tahun. “Di sana saya benar-benar belajar dari nol. Petani di sana sederhana, tapi semangatnya luar biasa,” kenangnya.

Usahanya akhirnya berbuah manis tahun 1991 ia diterima sebagai CPNS di Departemen Pertanian dan ditugaskan di Kabupaten Kolaka sebagai koordinator penyuluh.

“Zaman itu, penyuluh masih pegawai pusat. Ada dua jenis, PPS untuk sarjana, dan PPL yang bertugas di desa. Kami semua satu tujuan, mendampingi petani,” jelasnya.

Lebih dari sepuluh tahun Widiada mengabdi di tanah rantau, jauh dari keluarga. Hingga akhirnya ia mendapat izin pindah ke Bali. “Saya ditempatkan di Kanwil Pertanian Provinsi Bali, lalu di Dinas Pertanian Bangli. Banyak teman beralih ke jabatan struktural, tapi saya tetap di penyuluhan. Saya lebih suka kerja langsung di lapangan, melihat petani tumbuh,” ujarnya mantap.

Enam tahun di Bangli, tahun 2003 Widiada akhirnya pulang ke tanah kelahirannya, Tabanan, sebagai Koordinator Penyuluh Perkebunan. “Rasanya seperti pulang ke rumah setelah perjalanan panjang,” tuturnya.

Meski kariernya mapan, semangat belajar Widiada tak pernah padam. Tahun 2019, ia kembali ke almamaternya, Universitas Udayana, mengambil program Magister Agroekoteknologi dan lulus dengan gelar M.P. (Magister Pertanian). “Belajar itu tidak mengenal usia. Dunia pertanian terus berkembang, dan penyuluh harus ikut bergerak,” katanya.

Kini, Widiada dipercaya sebagai Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Tabanan di bawah Kementerian Pertanian. Ia terus menekankan pentingnya metode demplot dan sekolah lapang dalam membangun motivasi petani.

“Petani itu tidak butuh banyak teori. Mereka butuh bukti di lapangan. Begitu melihat hasil nyata, mereka langsung semangat. Itu kunci penyuluhan yang hidup,” tegas Widiada yang juga sebagai Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Tabanan.

Sore mulai turun perlahan di Denpasar. Kopi di meja telah dingin, pisang goreng tinggal sisa saatu, tapi semangat Widiada tetap hangat. Lelaki kelahiran Pujungan itu menutup perbincangan dengan kalimat sederhana, namun penuh makna. “Hidup saya untuk pertanian. Karena di sanalah saya lahir, tumbuh, dan ingin terus memberi.” (jikwid)

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0