Komang Artana : “Kalau Kita Mau Maju, Jangan Takut Berinovasi”
Di usia yang tak lagi muda, semangat I Komang Artana justru makin membara. Dari hamparan sawah di Desa Tihingan, Klungkung, ia menyalakan perubahan lewat inovasi pertanian dan ketekunan tanpa henti.
Komang Artana :
“Kalau Kita Mau Maju, Jangan Takut Berinovasi”
Usianya memang telah menginjak setengah abad, namun semangat I Komang Artana justru kian menyala. Petani asal Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, ini menjadi bukti bahwa usia bukanlah batas untuk terus belajar dan berinovasi. Sebagai Kelian Subak Penasan, Artana tak sekadar mengelola sawah, tetapi juga menggerakkan perubahan, menumbuhkan semangat modernisasi dan kepercayaan diri petani Klungkung untuk melangkah maju bersama zaman.
Bagi Artana, sawah bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang belajar tanpa batas. Ia selalu haus akan pengetahuan baru, terutama saat mengikuti bimbingan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Dalam setiap kegiatan demplot hasil kerja sama Perhiptani dengan Agri Tani-nya, namanya kerap disebut sebagai peserta paling tekun dan disiplin menyimak arahan, mencatat detail, lalu membuktikannya langsung di lahan.
Di bawah bimbingan tim BPP Banjarangkan, wilayah binaan Ida Bagus Puja Putradnyana, S.P., Artana bersama kelompoknya mulai menerapkan sistem pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pendampingan intensif itu membuka cara pandang baru bagi petani Subak Penasan dalam mengelola sawah secara lebih terukur dan berkelanjutan.
“Kami para petani di Subak Penasan sangat terbantu dengan bimbingan tim penyuluh pertanian, terutama dari Bapak Ida Bagus Puja Putradnyana bersama rekan POPT. Melalui arahan dan pendampingan beliau, kami semakin paham pentingnya penerapan teknologi pertanian modern, seperti irigasi berselang (intermiten) dan penggunaan varietas padi unggul. Hasilnya benar-benar terasa produktivitas meningkat, efisiensi air lebih baik, dan semangat petani pun ikut tumbuh,” tutur Artana dengan senyum bangga.
Subak Penasan Kian Produktif
Kini, Subak Penasan yang dipimpin Artana membentang di atas lahan seluas 127,03 hektare dengan 433 anggota. Subak ini tergabung dalam Gapoktan Penasan, yang menaungi enam kelompok tani (tempek), yakni Tempek Teba, Jelinjing, Mungguhna, Umaliat, Banda, dan Umasalakan. Struktur kelembagaan yang solid menjadi fondasi penting dalam mendorong perubahan di tingkat petani.
Sebagian besar anggota subak kini menanam varietas padi Inpari 32, didukung penerapan sistem irigasi berselang (intermiten). Metode ini terbukti lebih efisien dalam penggunaan air sekaligus mampu menjaga kestabilan pertumbuhan tanaman padi, terutama di tengah tantangan iklim yang kian dinamis.
Hasilnya pun menggembirakan. Dari kegiatan demplot di lahan milik Artana, diperoleh hasil ubinan mencapai 5,7 kilogram dengan produktivitas sekitar 91,2 kuintal per hektare. Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa inovasi, ketika dijalankan dengan kerja keras serta pendampingan yang tepat, mampu mengubah wajah pertanian — dari yang tradisional menuju lebih produktif dan berkelanjutan.
Suka Duka Seorang Pemimpin Sawah
Namun, menjadi Kelian Subak bukan perkara mudah. Artana harus berhadapan dengan dinamika sosial petani yang beragam dari perbedaan cara pandang, tantangan teknis, hingga keterbatasan sumber daya.
“Kadang ada rasa lelah,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi di situlah tantangannya, bagaimana kita bisa menyatukan semangat untuk kemajuan bersama.”
Meski dihadapkan pada cuaca tak menentu, serangan hama, dan persoalan air, Artana tidak pernah menyerah. Ia kerap menjadi jembatan antara petani dan penyuluh, memastikan setiap masalah mendapat solusi. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal panen melimpah, tapi juga kebersamaan dan kesadaran petani untuk terus belajar.
“Melihat petani tersenyum saat panen berhasil, itu kebahagiaan yang tak tergantikan,” katanya lirih.
Antara Sawah dan Jalanan Pariwisata
Di sela-sela kesibukannya mengurus subak, Artana juga bekerja sebagai driver di sektor pariwisata. Pekerjaan ganda itu membuatnya sering berpindah dari hamparan sawah ke jalanan yang ramai wisatawan. Namun, hal itu tak mengurangi dedikasinya terhadap pertanian.
Baginya, kedua profesi itu justru saling melengkapi. “Dari dunia pariwisata, saya belajar disiplin dan melayani orang lain. Sedangkan dari pertanian, saya belajar sabar dan menghargai proses,” ujarnya.
Filosofi itu pula yang membuatnya mampu menyeimbangkan hidup — tetap produktif di sawah, sekaligus berdaya dalam kehidupan sehari-hari.
Menanam Semangat untuk Generasi Muda
Kini, Artana mulai mengajak generasi muda untuk kembali menengok sawah. Ia sadar, regenerasi petani menjadi tantangan besar. “Kalau anak muda mau belajar, kita siap berbagi pengalaman,” katanya. Pertanian bukan pekerjaan kuno, tapi masa depan yang menjanjikan kalau dikelola dengan ilmu.
“Kalau kita mau maju, jangan takut mencoba hal baru. Saya percaya inovasi dan gotong royong adalah kunci masa depan pertanian kita.” I Komang Artana, Kelian Subak Penasan
Dengan ketekunan dan kepemimpinannya, I Komang Artana menjadi simbol kebangkitan petani lokal. Ia bukan hanya menanam padi, tetapi juga menanam semangat, harapan, dan kebanggaan akan profesi petani.
Kosresponden : Mang Asih DPD Perhiptani Klungkung
Editor : Widianta
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0