Endra : Sederhana, Tekun, dan Selalu Siap Melayani

Bertahun-tahun ia berjalan kaki tanpa motor, membawa alat inseminasi dan vaksin ternak dari satu desa ke desa lain. Kini, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi, tetap memegang prinsip hidup yang sama, sederhana, tekun, dan selalu siap melayani.

Dec 24, 2025 - 04:27
Dec 24, 2025 - 04:37
 0  50
Endra : Sederhana, Tekun, dan Selalu Siap Melayani

Endra:

Sederhana, Tekun, dan Selalu Siap Melayani

Siang itu hujan turun tiba-tiba di jalan pedesaan Tampaksiring. Saya menepi ke sebuah warung sederhana untuk berteduh. Di sudut warung, duduk seorang pria berseragam dengan wajah tenang dan senyum ramah. Dari lencananya, nama itu terbaca jelas — I Wayan Endra Jaya, SP

Lelaki asal Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar ini telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade untuk dunia pertanian dan peternakan. Saat berbincang, ia menuturkan kisahnya dengan nada tenang, sesekali tersenyum mengenang masa-masa sederhana di masa kecil.

“Saya ini anak petani. Sejak kecil sudah akrab dengan kehidupan di sawah dan ternak di kandang,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Endra kecil sudah akrab dengan sawah dan ternak. Seusai musim panen, ia menggembalakan puluhan kali, mengumpulkan telur untuk dijual demi menambah biaya sekolah. Ia juga memelihara anak bebek atau meri hingga 50 ekor, dirawat selama dua bulan, lalu dijual. Dari sanalah tumbuh rasa cinta dan tanggung jawab terhadap dunia pertanian.

Kecintaannya itu mengantarnya menempuh pendidikan di Sekolah Pertanian Pembangunan- Sekolan Peternakan Menengah Atas (SPP-SNAKMA) Negeri Malang, sekolah kejuruan peternakan ternama. Ia lulus tahun 1988, lalu memulai karir sebagai honorer di Pusat Kesehatan Hewan (Poskeswan) desa Belantih, Kintamani, Bangli, pada Oktober 1988. Di sanalah perjuangannya dimulai.

“Waktu itu saya belum punya sepeda motor,” kenangnya. “Kalau ada pelayanan IB (inseminasi buatan), vaksinasi, atau pengobatan ternak, saya jalan kaki melewati perkampungan. Jaraknya jauh, kadang butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke rumah peternak.”

Kadang-kadang, setelah selesai melayani, para peternak bertanya-tanya, berhenti sejenak. “Kami sering dimasakkan dulu,” kenangnya sambil tersenyum. “Katanya, tidak boleh pulang sebelum makan.”

Namun semua itu dijalaninya tanpa keluh kesah. Justru momen-momen sederhana itulah yang membuatnya merasa dekat dengan masyarakat. “Saya merasa senang kalau pelayanan berhasil. Misalnya, saat sapi yang saya bantu IB akhirnya bunting. Rasanya seperti ikut punya anak sendiri,” ujarnya dengan raut wajah puas.

Empat tahun kemudian, tepat pada tanggal 1 Maret 1992 , Endra resmi diangkat sebagai penyuluh pertanian dan mulai bertugas di Dinas Peternakan . Sejak saat itu, perjalanan berlayar terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Ia sempat bertugas di Poskeswan Payangan, Kabupaten Gianyar pada tahun yang sama, lalu pindah ke Tegallalang pada tahun 1995 .

Ketika Dinas Peternakan bergabung dengan Dinas Pertanian, Endra kemudian ditempatkan di BPP Blahbatuh pada tahun 2017 . Tiga tahun berselang, ia kembali ke BPP Tampaksiring , wilayah tempat ia dibesarkan. Kini, sejak 1 Januari 2023 , ia dipercaya menjadi Koordinator Penyuluh Pertanian di BPP Tegallalang .

Meski kini menjabat sebagai koordinator, sikapnya tetap rendah hati. Sepulang kerja, ia masih melayani petani dan peternak di sekitar rumah. “Biasanya saya punya waktu dua jam saja, dari sore sampai malam. Lumayan, hasilnya cukup buat tambahan biaya hidup,” katanya dengan nada santai.

Untuk menjaga semangat, ia rutin berolahraga. Hobi jalan santai dan tenis meja menjadi cara Endra menyeimbangkan tubuh dan pikiran. “Kalau badan sehat, pikiran pun tenang. Jadi bisa terus semangat melayani petani,” ujarnya mantap.

Tak hanya fokus pada pelayanan, Endra juga memiliki tekad kuat untuk terus memotivasi pengembangan padi gogo varietas Gage (undi) di Desa Taro. Menurutnya, padi lokal ini bukan sekadar sumber pangan alternatif, melainkan simbol ketekunan dan kearifan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.

“Padi gogo Gage itu unik,” tuturnya. “Selain tahan terhadap perubahan iklim dan cocok di lahan kering, hasil panennya juga mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ini bukti bahwa kearifan lokal bisa tetap relevan di tengah zaman modern.”

Dengan keyakinan itu, ia terus mengajak petani muda agar tidak meninggalkan lahan, namun justru mengembangkannya dengan inovasi. Baginya, menjadi penyuluh bukan sekedar profesi, tapi panggilan hati untuk memastikan setiap petani tetap berdaya dan setiap tanah tetap hidup.

Sederhana dalam tutur, tekun dalam kerja, dan tulus dalam pelayanan begitulah sosok I Wayan Endra Jaya. Dari menggembala itik hingga membina petani, ia terus berjalan dengan keyakinan, bahwa masa depan pertanian ada di tangan mereka yang mau menjaga dan merawatnya dengan hati. (Jikwid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0