Luh Ketut Ayu Sukarmi : “Srikandi Kota Denpasar”
Masa kecil, gemar memanjat pohon cengkeh, mengawinkan bunga vanili dan menunggu para pekerja panen padi. kini ia menjadi sosok penyuluh yang menanam semangat dan menumbuhkan harapan bagi petani di Denpasar.
Luh Ketut Ayu Sukarmi :
“Srikandi Kota Denpasar”
Dari pematang sawah masa kecil hingga BPP Denpasar Barat, Luh Ketut Ayu Sukarmi menumbuhkan semangat dan ketulusan di ladang pengabdian.
Siang itu, suasana di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Barat terasa hangat dan bersahaja. Saat awak media Perhiptani bertandang, tampak seorang perempuan tengah berbincang santai dengan para petani binaan. Wajahnya ramah, tutur katanya tenang, dan setiap kalimatnya sarat makna. Dialah Luh Ketut Ayu Sukarmi, SP , sosok penyuluh yang telah lebih dari dua puluh tahun menabur ilmu, menanam semangat, dan menuai kepercayaan dari petani di Denpasar.
Di sela perbincangan, sesekali Ayu tersenyum mengenang masa kecilnya di Desa Perean, Kabupaten Tabanan. Saat itu, alam adalah taman bermain sekaligus sekolah kehidupan. Ia kecil dikenal lincah, aktif, dan tak takut kotor.
“Waktu SD, setiap musim panen padi tiba, saya sudah terbiasa berjalan kaki melintasi pematang sawah sekitar lima kilometer sepulang sekolah,” kenangnya sambil tersenyum tipis.
Luh Ayu Ayu Sukarmi tumbuh dalam keluarga besar sembilan bersaudara, dan ia merupakan anak kedelapan. Hidup sederhana di desa membuatnya akrab dengan kerja keras sejak kecil. Ia sering diutus orangtuanya untuk menunggu para pekerja panen sambil memastikan pembagian hasil antara pemilik dan penggarap lahan berjalan adil. Dari kebiasaan itulah, ia belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, dan nilai keikhlasan dalam bekerja.
Tak hanya akrab dengan padi, masa kecilnya juga dipenuhi aroma tanaman. Ia kerap membantu orangtuanya mengawinkan bunga vanili di kebun, dan tak segan memanjat pohon cengkeh untuk memetik buahnya.
“Dari kecil saya sudah belajar mencintai tanah dan hasilnya. Alam seperti guru yang sabar, mengajarkan kita arti menunggu dan bersyukur,” ujarnya lembut.
Lulusan Universitas Warmadewa Denpasar tahun 1994 ini sempat bekerja di perusahaan asuransi, namun suara alam memanggilnya kembali. Tahun 1998, ia lolos seleksi saat itu di Kanwil Pertanian dan mulai bertugas di Satuan Pelaksana Harian Bimbingan Massal (SPH Bimas) Kota Denpasar. Sejak era reformasi 2001, ia resmi mengabdi di Dinas Pertanian Kota Denpasar, menekuni bidang penyuluhan dengan sepenuh hati. Tahun 2011, Sukarmi dipercaya menjadi Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Denpasar Selatan, kemudian pada 2016 bertugas di BPP Denpasar Barat, tempatnya mengabdi hingga kini.
“Mendengar cerita petani bukan hanya soal usaha tani, tapi juga tentang keluarga dan kehidupan mereka. Di situlah saya merasa dibutuhkan,” ujarnya sambil tersenyum.
Filosofinya sederhana namun dalam, “Lebih baik menjadi lebah kecil yang menghasilkan madu, daripada gajah besar yang hanya meninggalkan jejak,” ungkap Ketua DPD Perhiptani Kota Denpasar ini.
Tak hanya aktif di lapangan, Ayu Sukarmi juga kerap berbagi wawasan di ruang publik. Ia menjadi narasumber di RRI Denpasar, membawakan tema seputar inspirasi pertanian ketahanan pangan.
Selain di udara, juga aktif menjadi narasumber di berbagai sekolah di Denpasar dan sekitarnya. Melalui kegiatan edukasi dan dialog ringan, ia berusaha menanamkan semangat bertani kepada siswa sejak dini agar mereka melihat pertanian bukan sebagai pekerjaan masa lalu, melainkan masa depan yang menjanjikan dan bermartabat.
“Kalau anak-anak tahu dari mana makanan berasal, mereka akan belajar menghargai alam dan usaha orang-orang di baliknya,” ujarnya penuh keyakinan.
Sosok berzodiak Sagitarius ini dikenal tegas, enerjik, dan selalu mengutamakan kerja sama tim. Prinsipnya sederhana. Satu untuk semua, semua untuk satu. Semua harus berkontribusi, tak ada yang berjalan sendiri.
Dalam musyawarah yang hangat, rekan-rekan sesama penyuluh sepakat menunjuk dan mendukung penuh Luh Ketut Ayu Sukarmi, SP sebagai Ketua Tim Kerja (Katimker) Kota Denpasar. Penetapan ini bukan semata-mata keputusan administratif, melainkan bentuk yang diberikan atas dedikasi panjang, integritas, dan ketulusan yang telah ia tunjukkan selama puluhan tahun. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0