“Sumetriani: Sarat Prestasi, Cahaya dari Buleleng”
Tak banyak perempuan memilih berkarier di tengah lumpur sawah. Tapi Made Sumetriani justru menemukan panggilan jiwanya di sana membimbing petani, menumbuhkan harapan, dan membawa harum nama Buleleng hingga ke pentas nasional.
“Sumetriani: Sarat Prestasi, Cahaya dari Buleleng”
Saat awak media Perhiptani berkunjung ke Buleleng, Bali Utara, mata kami tertuju pada sosok perempuan sederhana yang disapa hangat oleh para petani di tengah hamparan sawah hijau. Dialah Made Sumetriani, M.P. penyuluh pertanian yang menjadi tumpuan banyak harapan di daerah ini.
Di balik keberhasilan para petani mengolah lahan, ada tangan dingin dan ketulusan Sumetriani yang senantiasa hadir membimbing mereka dari balik peta perencanaan, ladang penuh lumpur, hingga sawah yang siap panen.
Nama Sumetriani bukan asing di kalangan penyuluh. Perempuan yang lahir dan besar di tanah Buleleng ini dikenal sebagai sosok tangguh, rendah hati, dan sarat prestasi. Ketekunan serta kecintaannya pada profesi telah mengantarkan dirinya menembus batas daerah, hingga ke panggung nasional sebagai Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional 2014.
Menapak Jejak dari Tanah Kelahiran
Dibesarkan di tengah keluarga pendidik, Sumetriani terbiasa hidup disiplin. Ayahnya seorang Pengawas TK/SD sekaligus Ketua PHDI Kabupaten Buleleng, sedangkan ibunya bekerja di rumah sakit swasta. “Sejak kecil, saya diajarkan bahwa bekerja harus dengan hati,” tuturnya mengenang.
Lulus dari SMUN 1 Singaraja tahun 2000, ia melanjutkan studi ke Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan meraih gelar sarjana pada 2004. Setelah sempat bekerja di bank swasta selama setahun, Sumetriani memilih mengikuti panggilan hatinya: menjadi penyuluh pertanian.
Tahun 2006 menjadi awal langkah besar. Ia mengikuti seleksi CPNS Penyuluh Pertanian dan lulus dengan peringkat pertama. Penugasan pertamanya di Desa Ambengan (2007–2012) menjadi ladang pembuktian, sebelum berpindah ke Desa Pancasari (2012–2014) dan Desa Wanagiri (2014–2016). Dedikasi dan kinerjanya membuatnya dipercaya sebagai Koordinator BPP Sukasada sejak 2016.
Belajar Tanpa Henti, Mengabdi Sepenuh Hati
Tak berhenti di sana, Sumetriani menimba ilmu lebih dalam dengan meraih beasiswa S2 di Universitas Udayana tahun 2008 dan lulus dua tahun kemudian. Ilmu yang ia dapatkan diterapkan langsung dalam mendampingi petani dan memperkuat kelembagaan pertanian di daerahnya.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Tahun 2013, ia dinobatkan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Kabupaten Buleleng. Prestasinya yang menonjol membuat Sumetriani dipercaya mewakili Buleleng ke ajang tingkat Provinsi Bali, dan dari sana langkahnya tak terbendung. Ia melaju ke tingkat nasional, membawa nama daerahnya hingga ke pentas tertinggi dan meraih penghargaan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan Nasional 2014.
Kembali ke Akar Pengabdian
Pada 2019, Sumetriani dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Namun, naluri penyuluh tetap memanggil. “Saya merasa lebih hidup saat berada di lapangan, mendengar langsung keluh kesah petani,” ujarnya tersenyum.
Tahun 2023 menjadi momen kembalinya Sumetriani ke jalur pengabdian yang paling ia cintai sebagai Penyuluh Pertanian Ahli Madya. Tak hanya kembali ke akar profesinya, tahun itu juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Ia menempuh ujian Asesor Kompetensi di Ketindan, Malang, Jawa Timur, dan berhasil meraih lisensi sebagai Assessor of Competency.
Sebagai asesor, Sumetriani langsung dipercaya untuk terjun menguji para penyuluh pertanian di berbagai daerah. Pada tahun yang sama, ia sempat ditugaskan melaksanakan uji kompetensi bagi penyuluh pertanian di Kabupaten Bangli dan Gianyar. Pengalaman ini semakin memperluas kiprahnya, sekaligus memperteguh komitmennya dalam menjaga standar profesionalisme dan kualitas sumber daya manusia pertanian di Bali.
Kini, selain mengabdi di bidang penyuluhan, Sumetriani terus berperan aktif memastikan mutu dan kapasitas para penyuluh di Buleleng dan sekitarnya semakin meningkat. Bagi dirinya, setiap proses pembinaan dan pengujian bukan sekadar tugas, melainkan bentuk nyata dari pengabdian yang berakar pada hati dan tanah kelahirannya.
Menumbuhkan Harapan, Memanen Perubahan
Bagi Sumetriani, pertanian bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah ladang pengabdian yang menumbuhkan harapan. “Selama masih ada petani yang mau belajar, saya akan tetap mendampingi,” ucapnya mantap.
Senyumnya merekah di antara hamparan padi yang mulai menguning. Di matanya, setiap bulir padi bukan sekadar hasil panen, tapi simbol kerja keras, ketulusan, dan masa depan yang ia tanam bersama para petani di tanah kelahirannya.(jikwid)
What's Your Reaction?
Like
9
Dislike
1
Love
5
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0