“Kelompok Tani Abangan Melaju ke Era Modern”

Transformasi pertanian mulai menyentuh Desa Kubutambahan. Kelompok Tani Abangan menggelar uji coba penanaman padi menggunakan alat tanam modern Rice Transplanter.

Jan 19, 2026 - 04:31
Jan 19, 2026 - 05:57
 0  41
“Kelompok Tani Abangan Melaju ke Era Modern”

“Kelompok Tani Abangan Melaju ke Era Modern”

Transformasi pertanian tradisional menuju mekanisasi, uji coba Rice Transplanter buka semangat baru petani Kubutambahan

Upaya mengubah wajah pertanian tradisional menuju pertanian modern mulai tampak di Kecamatan Kubutambahan. Pada Jumat (16/1/2026), Kelompok Tani Abangan, Desa Kubutambahan, Buleleng melaksanakan kegiatan uji coba penanaman padi menggunakan alat tanam modern Rice Transplanter.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mendorong mekanisasi pertanian di tingkat petani. Dihadiri oleh Ketua dan anggota Kelompok Tani Abangan, Koordinator Penyuluh BPP Kubutambahan, serta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah binaan se-Kecamatan Kubutambahan, uji coba tersebut berlangsung di lahan milik Ketua Kelompok Tani Abangan, Nyoman Rasta, seluas 56 are.

Varietas padi yang digunakan adalah Inpari 32, dengan pola tanam tegel yang dikenal mampu menghasilkan pertumbuhan tanaman seragam dan efisien. Melalui penerapan alat tanam Rice Transplanter, petani diajak untuk mengenal lebih dekat teknologi pertanian yang dapat meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan kualitas tanam.

Ketua Kelompok Tani Abangan, Nyoman Rasta, menuturkan bahwa pengalaman menggunakan Rice Transplanter ini menjadi momen penting bagi para petani di desanya. Selama ini, mereka terbiasa menanam padi secara manual, yang membutuhkan waktu lama serta tenaga kerja banyak.

“Biasanya kami menanam secara manual yang butuh banyak tenaga dan waktu. Dengan alat ini, pekerjaan jadi jauh lebih cepat dan hasil tanamnya lebih rapi. Kami berharap teknologi seperti ini terus dikembangkan agar petani semakin semangat dan produktif,” ujar Nyoman Rasta.

Ia menambahkan, kehadiran alat pertanian modern bukan berarti menghilangkan tradisi, tetapi justru memperkuat semangat petani untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Kami ingin menunjukkan bahwa petani di Kubutambahan siap bertransformasi menuju pertanian modern tanpa meninggalkan kearifan lokal. Kami bangga bisa menjadi kelompok tani yang berani mencoba hal baru,” imbuhnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kubutambahan, Nyoman Sukardana, SP, menyebutkan bahwa penggunaan Rice Transplanter merupakan salah satu program strategis dalam mempercepat modernisasi pertanian di tingkat lapangan. Menurutnya, mekanisasi tidak hanya berdampak pada efisiensi tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan daya saing hasil pertanian daerah.

“Kami terus mendorong petani agar terbuka terhadap inovasi dan teknologi. Penggunaan alat seperti Rice Transplanter ini bisa menghemat waktu tanam sekaligus menekan biaya tenaga kerja,” jelas Sukardana.

Ia menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam mendampingi petani agar teknologi yang diterapkan benar-benar memberi hasil optimal.

“Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bersama antara petani dan penyuluh. Kami berharap hasil uji coba ini dapat menjadi contoh nyata bagi kelompok tani lain di Kubutambahan untuk mulai menerapkan mekanisasi pertanian,” tambahnya.

Uji coba ini juga menjadi wadah evaluasi bagi BPP Kubutambahan untuk menilai sejauh mana kesiapan petani dalam menghadapi era mekanisasi. Dari hasil pengamatan awal, penggunaan Rice Transplanter mampu mempercepat proses tanam hingga empat kali lipat dibanding metode manual, dengan jarak tanam yang lebih seragam dan potensi hasil yang lebih tinggi.

Selain manfaat teknis, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat baru di kalangan petani muda. Beberapa anggota kelompok tani mengaku antusias karena dengan alat modern seperti ini, pekerjaan di sawah tidak lagi dianggap berat dan melelahkan. Hal tersebut diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk kembali melirik dunia pertanian sebagai bidang usaha yang menjanjikan.

Melalui kegiatan seperti ini, BPP Kubutambahan optimistis bahwa modernisasi pertanian bukan lagi sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang akan terus berkembang. Transformasi dari cara-cara tradisional menuju sistem mekanis diyakini mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan di Buleleng.

“Kalau petani berani berubah, pertanian kita pasti maju. Inilah awal dari transformasi nyata menuju pertanian modern,” pungkas Sukardana.

Koresponden : Yoga DPD Perhiptani Buleleng

Editor : Widianta

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0