Serangan Terkendali, Subak Babakan Tembus 6,6 Ton/Ha
Kerja keras petani tak sia-sia. Di tengah ancaman hama, pendampingan intensif mampu menjaga produktivitas padi di Subak Babakan hingga menembus 6,6 ton per hektare.
Serangan Terkendali, Subak Babakan Tembus 6,6 Ton/Ha
Geliat penyuluh pertanian di BPP Sukasada terus menunjukkan eksistensinya dalam mengawal produktivitas petani. Kekompakan tersebut terlihat dalam kegiatan pengambilan ubinan mandiri di Subak Babakan Sambangan, yang berada di wilayah paling utara Desa Sambangan.
Subak Babakan merupakan satu dari lima subak di Desa Sambangan dengan luas lahan 41 hektare dan jumlah anggota sebanyak 56 petani. Ubinan dilaksanakan di lahan milik Made Mudarma seluas 0,50 hektare dengan varietas padi Inpari 32.
Hasil ubinan menunjukkan performa yang cukup menggembirakan. Rata-rata anakan tercatat 17 batang per rumpun dengan jumlah rumpun 165. Dari pengambilan sampel diperoleh hasil ubinan 4,135 kilogram. Jika dikonversikan, produktivitasnya mencapai 66,16 kuintal per hektare Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 6,616 ton per hectare.
Made Mudarma mengaku bersyukur atas capaian tersebut. “Astungkara, hasilnya cukup baik. Dengan varietas Inpari 32 dan pendampingan penyuluh, pertumbuhan anakan terlihat bagus dan produksi bisa tembus lebih dari 6 ton per hektare. Ini menambah semangat kami untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya. Ia menambahkan, ubinan mandiri membantu petani mengetahui potensi hasil secara lebih akurat sebagai bahan evaluasi ke depan.
Sebagai penyuluh wilayah binaan, Luh Putu Indrayani, S.P. menegaskan bahwa hasil ubinan ini menjadi indikator positif bagi kinerja budidaya di Subak Babakan Sambangan. “Capaian 66,16 kuintal per hektare menunjukkan penerapan budidaya sudah berjalan sesuai anjuran, mulai dari pemilihan varietas hingga pemeliharaan tanaman. Data ini menjadi dasar evaluasi bersama agar produktivitas dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan pada musim tanam berikutnya,” jelasnya.
Sementara itu, Ni Putu Eka Handayani, S.P., selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), menjelaskan bahwa secara umum kondisi tanaman padi di wilayah binaannya masih dalam keadaan aman dan terkendali. Ia menegaskan, pemantauan rutin terus dilakukan sejak fase awal pertumbuhan hingga menjelang panen guna mengantisipasi potensi ledakan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
“Di wilayah binaan kami, serangan hama dan penyakit tidak menunjukkan tingkat yang berarti. Intensitasnya masih dalam kategori ringan dan belum berdampak signifikan terhadap produksi,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui adanya potensi kehilangan hasil akibat serangan burung. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, tingkat serangan burung diperkirakan mencapai sekitar 15 persen, terutama saat fase pengisian bulir hingga mendekati masa panen.
“Serangan burung memang menjadi tantangan tersendiri pada fase generatif. Karena itu, kami mendorong petani melakukan pengendalian secara serempak dan gotong royong, sehingga potensi kehilangan hasil bisa ditekan seminimal mungkin,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendampingan tidak hanya dilakukan saat muncul serangan, tetapi sejak awal musim tanam melalui pengamatan rutin, edukasi pengendalian terpadu, serta koordinasi intensif dengan penyuluh dan pekaseh subak. Dengan pola pendampingan tersebut, produktivitas di wilayah binaannya diharapkan tetap stabil bahkan meningkat pada musim tanam berikutnya.
Kekompakan antara penyuluh dan petani dalam pengawalan budidaya, pengamatan rutin, serta pengendalian bersama menjadi kunci menjaga stabilitas produksi. Data ubinan mandiri ini diharapkan tidak hanya menjadi catatan capaian, tetapi juga motivasi untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah utara Desa Sambangan.
Koresponden: Hanan DPD perhiptani Buleleng
Editor: widianta
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0