Eka: Diserbu Burung, Hasil Panen Terancam
Bulir padi yang menguning menjadi harapan bagi petani setelah berbulan-bulan bekerja keras. Tetapi di balik hamparan sawah yang siap panen, ancaman serangan burung kerap membuat petani waswas.
Eka:
Diserbu Burung, Hasil Panen Terancam
Hamparan padi yang mulai menguning sejatinya menjadi penanda musim panen segera tiba. Namun, bagi sebagian petani, fase itu justru menghadirkan kecemasan. Gerombolan burung datang silih berganti, hinggap di bulir-bulir padi yang siap dipetik, lalu menyisakan kehilangan hasil yang tak sedikit.
Kondisi inilah yang kerap ditemui di sejumlah areal persawahan. Serangan burung, terutama saat fase pengisian bulir hingga menjelang panen, bisa memangkas produksi secara signifikan.
Ni Putu Eka Handayani, S.P., petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di BPP Kecamatan Sukasada Buleleng, menuturkan bahwa serangan burung tidak bisa dianggap sepele. Perempuan yang merupakan jebolan Fakultas Pertanian Jurusan Agroekoteknologi Universitas Udayana itu menyebut, dalam sehari seekor burung bisa mengonsumsi sekitar 5 gram padi.
“Kalau datangnya bergerombol dan dibiarkan tanpa pengendalian, potensi kehilangan hasil bisa mencapai 30 sampai 50 persen. Ini tentu sangat merugikan petani,” jelasnya.
Menurutnya, jenis burung yang paling sering menjadi hama adalah bondol jawa atau yang lebih dikenal sebagai burung pipit. Karena, burung ini sangat adaptif dan cerdas. Burung-burung kecil itu biasanya datang berkelompok, menyerbu petak sawah yang padinya mulai menguning.
Eka mengaku memahami betul keresahan petani ketika melihat padi yang hampir panen justru terancam berkurang hasilnya. Karena itu, ia aktif mendorong pengendalian yang dilakukan secara serempak dalam satu hamparan.
Ia menambahkan, ada sejumlah cara tradisional maupun modern yang bisa diterapkan petani untuk mengusir hama burung. “Pengendalian tidak harus mahal. Bisa dengan pemasangan jaring sebagai penghalang, memasang kaleng-kaleng yang ditarik agar menimbulkan bunyi, hingga memedi atau orang-orangan sawah. Yang terpenting dilakukan bersama-sama dalam satu hamparan,” ujarnya.
Menurutnya, jika hanya satu petak yang melakukan pengendalian, burung akan berpindah ke petak lain. Karena itu, kekompakan petani menjadi kunci.
“Petani sudah bekerja keras sejak olah tanah hingga tanam. Sayang sekali kalau menjelang panen justru kehilangan hasil karena serangan burung. Dengan langkah sederhana namun konsisten dan gotong royong, potensi kehilangan hasil bisa ditekan,” tegasnya.
Bagi petani, menjaga padi hingga benar-benar masuk karung gabah bukan perkara mudah. Di tengah ancaman cuaca dan organisme pengganggu, kehadiran pendamping lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan setiap bulir padi tetap bernilai dan panen tetap terjaga.(Jikwid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0