Modernisasi, Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Upaya pemerintah dalam mendorong modernisasi pertanian terus dilakukan secara bertahap hingga ke tingkat subak. Salah satunya melalui pengenalan alat mesin pertanian di Subak Temukus, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng yang saat ini masih dalam proses adaptasi oleh para petani.

Feb 9, 2026 - 03:41
 0  45
Modernisasi, Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Modernisasi, Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Program modernisasi pertanian terus dilaksanakan hingga menjangkau wilayah perdesaan. Berbagai alat mesin pertanian diperkenalkan melalui kegiatan demonstrasi dengan tujuan meningkatkan efisiensi usaha tani. Di Subak Temukus, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Jumat (6/2/2026), proses ini masih berjalan seiring dengan upaya membangun kepercayaan dan adaptasi petani terhadap teknologi baru.

Demonstrasi rice transplanter di Subak Temukus menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam mendorong mekanisasi dan percepatan tanam padi. Program ini diarahkan untuk menjawab persoalan klasik pertanian, mulai dari berkurangnya tenaga kerja hingga tuntutan efisiensi waktu tanam. Namun realitas di lapangan menunjukkan, kebijakan modernisasi berhadapan langsung dengan dimensi sosial petani kebiasaan, keyakinan, dan relasi emosional dengan sawah yang telah terbangun puluhan tahun.

Di subak dengan luas hamparan 37,8 hektare dan 79 orang petani anggota itu, mesin penanam padi otomatis tampak bekerja rapi. Bibit padi varietas Inpari 32 ditanam dengan jarak seragam, cepat, dan nyaris tanpa jeda. Sebuah pemandangan yang kontras dengan cara tanam manual yang selama ini mengandalkan barisan petani berjalan mundur di lumpur sawah.

Namun tak semua petani langsung menyambutnya dengan antusias. Sebagian masih memilih berdiri di pematang, memperhatikan dari kejauhan. Bagi mereka, menanam padi bukan sekadar soal cepat atau lambat. Ada ikatan emosional dengan metode tandur manual cara tanam mundur yang diwariskan turun-temurun dan diyakini menyimpan “sentuhan” personal antara petani dan lahannya.

“Kalau pakai tangan sendiri, rasanya lebih mantap,” ujar salah seorang petani. Menyerahkan sepenuhnya proses tanam kepada mesin dianggap seperti melepaskan kendali atas sawahnya sendiri. Keyakinan itulah yang membuat sebagian petani masih ragu, meski teknologi menawarkan kemudahan.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjar tidak menampik adanya resistensi tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar modernisasi pertanian bukan pada alat, melainkan pada proses perubahan pola pikir. “Ini bukan soal bisa atau tidak bisa, tapi soal percaya atau belum,” ujarnya. Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan bersifat memaksa, melainkan edukatif dan bertahap.

Pendampingan terus dilakukan melalui demonstrasi lapangan dan pembuktian hasil. Varietas Inpari 32 dipilih dan dipadukan dengan presisi tanam rice transplanter untuk menunjukkan potensi peningkatan produktivitas. Harapannya, hasil panen yang lebih optimal dapat menjadi jawaban atas keraguan petani yang masih bertahan dengan cara lama.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Koordinator dan tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Banjar, PPL Wilayah Binaan Desa Temukus, Babinsa Desa Temukus, hingga Kelian Subak Temukus bersama para petani. Semua hadir untuk memastikan proses alih teknologi berjalan dengan pendampingan yang memadai.

Di sawah Temukus, mesin penanam padi mungkin belum sepenuhnya menggantikan langkah mundur para petani. Namun kehadirannya menandai sebuah proses bahwa modernisasi tidak bisa sekadar diturunkan lewat kebijakan dan alsintan. Ia harus berjalan seiring dengan pemahaman, kepercayaan, dan penghormatan terhadap kebiasaan yang telah mengakar. Sebab bagi petani, perubahan bukan hanya soal alat, melainkan soal keyakinan yang tumbuh pelan, seiring musim tanam yang terus berganti.

Koresponden: Shinta DPD Perhiptani Buleleng

Editor: Widianta

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0