Indrayani, Pilar bagi Petani dan Keluarga
Dari dapur sederhana hingga hamparan sawah subak, Luh Putu Indrayani menjalani dua peran dengan keteguhan. Ia menguatkan petani, sekaligus menghidupi keluarga, dengan kerja keras dan hati.
Indrayani, Pilar bagi Petani dan Keluarga
Bagi Luh Putu Indrayani, menjadi perempuan pekerja berarti mampu berdiri di banyak peran sekaligus. Ia adalah penyuluh pertanian yang setia mendampingi petani, sekaligus pelaku UMKM yang menghidupi keluarga melalui usaha nasi kuning. Dari dapur di pagi hari hingga hamparan sawah subak, Indrayani menjalani pengabdian dengan ketekunan memperkuat ekonomi keluarga tanpa meninggalkan komitmennya pada petani desa.
Rama, Ulet, dan Tekun. Tiga kata itu kerap dilekatkan pada sosok Luh Putu Indrayani, SP, penyuluh pertanian yang selama hampir dua dekade setia mendampingi petani di wilayah Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Lahir di Banyuning, Buleleng, perempuan berzodiak Cancer ini dikenal memiliki kepekaan sosial tinggi serta keteguhan dalam bekerja—karakter yang tercermin jelas dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya.
Ketertarikan Indrayani pada sektor pertanian tumbuh sejak usia dini. Lingkungan agraris tempat ia dibesarkan membentuk kedekatan emosional dengan dunia pertanian. Oleh karena itu, saat menempuh pendidikan menengah atas, ia dengan mantap memilih jalur pertanian dan bersekolah di SPP SPMA Dati Bali, hingga lulus pada tahun 2001. Dari bangku sekolah inilah, dasar pengetahuan, kedisiplinan, dan etos kerja mulai tertanam kuat.
Selepas lulus, Indrayani sempat bekerja di kantor notaris serta optikal di Denpasar. Meski berada di luar bidang pertanian, kecintaannya pada sektor ini tak pernah pudar. Panggilan untuk kembali mengabdi di dunia pertanian terus menguat, hingga akhirnya ia memberanikan diri mengikuti seleksi penyuluh pertanian.
Tahun 2007 menjadi titik balik. Indrayani resmi diangkat menjadi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTB-PP) angkatan pertama. Penugasan pertama berada di BPP Sukasada Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, dengan wilayah binaan lima subak. Sejak itu, hari-harinya diisi dengan aktivitas lapangan menyambangi sawah, mendampingi kelompok tani, serta menjadi penghubung antara petani dan program pemerintah.
Pendekatan yang sabar dan membumi membuat kehadirannya diterima dengan baik oleh petani. Ia hadir tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai rekan diskusi dan tempat bertanya. Hingga kini, Desa Sambangan tetap menjadi bagian penting dari pengabdiannya. Pada tahun 2025, tanggung jawabnya bertambah dengan wilayah binaan baru di Desa Panji, yang mencakup subak sembilan.
Di balik kesibukannya sebagai penyuluh, Indrayani memiliki sisi lain yang tak kalah menarik. Salah satu hobinya adalah memasak. Hobi itu bahkan berkembang menjadi usaha kecil. Di sela-sela kesibukan mendampingi petani, terutama sebelum berangkat ke lapangan, Indrayani sempat berjualan nasi kuning di pagi hari. Usaha tersebut ia jalani sebagai tambahan pemasukan keluarga. “Buat tambahan isi dompet dan dapur keluarga,” ujarnya suatu waktu.
Mengatur waktu menjadi tantangan tersendiri. Namun dengan disiplin ilmu tinggi, Indrayani mampu membagi peran sebagai penyuluh pertanian sekaligus pelaku usaha kecil. Seiring berjalannya waktu, usaha nasi kuning yang dirintisnya pun berkembang. Kini, ia telah membantu tenaga harian yang melayani penjualan setiap pagi, sehingga Indrayani tetap dapat fokus menjalankan tugas utamanya mendampingi dan membina petani di lapangan.
Semangat belajar Indrayani juga patut diapresiasi. Di tengah kesibukan kerja dan usaha, ia kembali ke bangku kuliah pada tahun 2020 di Fakultas Pertanian Unipas, Universitas Panji Sakti Buleleng. Dengan ketekunan, ia berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Pertanian pada tahun 2024. Ilmu akademik yang diperolehnya menjadi pelengkap pengalaman lapangan yang telah ia miliki selama bertahun-tahun.
Bagi Indrayani, menjadi penyuluh pertanian bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Tentang konsistensi, kerja keras, dan keberpihakan pada petani. Dari dapur nasi kuning hingga hamparan sawah subak, Luh Putu Indrayani terus melangkah dengan satu keyakinan, bekerja dengan hati, untuk keluarga dan untuk petani.
Bagi Luh Putu Indrayani, menjadi penyuluh pertanian bukan sekedar soal pekerjaan. Ia adalah jalan pengabdian yang dijalani dengan konsistensi, kerja keras, dan keberpihakan pada petani. Dari dapur nasi kuning hingga hamparan sawah subak, ia melangkah dengan satu keyakinan, bekerja dengan hati, demi keluarga dan petani yang didampinginya.
Koresponden : Hanan DPD Perhiptani Buleleng
Editor: Widianta
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0