“Reni, PPL Inovatif Membawa Sawah Jembrana Ramah Lingkungan”

Produk-produk itu sudah dipakai di seluruh lahan subak. Biaya produksi turun. Petani lebih percaya diri, tanah lebih sehat. Berkat pendampingannya, mendorong petani memproduksi sendiri agens hayati dari lingkungan sekitar. Bahkan, kelompok P4HT di Subak Pangkung Jajung, sukses menorehkan prestasi sebagai wakil Kabupaten Jembrana dalam Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Bali Tahun 2025. Sebuah pencapaian yang tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui kerja nyata dan pendekatan inovatif di lapangan.

Aug 23, 2025 - 21:39
Aug 23, 2025 - 21:40
 0  25
“Reni, PPL Inovatif Membawa Sawah Jembrana Ramah Lingkungan”

“Reni, PPL Inovatif Membawa Sawah Jembrana Ramah Lingkungan”

Dari Denpasar, melaju ke barat. Jarak tempuh 104 kilometer. Waktu tempuh 2,5 jam. Jalanan mulus, tapi panjang. Tujuannya bukan wisata, bukan pula bisnis. Tapi, mengatar rombongan tim penilai ingin melihat langsung seorang penyuluh Reni Lamtauli Pakpahan, SP.

Tiba di Baler Bale Agung, Jembrana pukul 10.25 wita. Hari itu, suasananya ramai. Ada pejabat kabupaten, Lurah Baler Bale Agung, Bhabinkamtibmas, koordinator penyuluh dan jajaran DPD Perhiptani Kabupaten Jembrana, mahasiswa KKN Universitas Udayana, sampai para petani. Semua berkumpul. Seperti sedang ada pesta. Padahal, yang sedang ditunggu adalah penilaian lomba Penyuluh Pertanian Berprestasi Tingkat Provinsi Bali versi PERHIPTANI Bali. Reni adalah kandidat kuat dari DPD Perhiptani Jembrana.

Laboratorium Mini

Sebuah ruangan sederhana bernama lab mini menjadi sorotan ketika tim penilai memasuki ruangan. Mereka hanya melihat meja, wadah plastik, dan beberapa peralatan sederhana. Meski jauh dari gambaran laboratorium berteknologi tinggi, tanpa mesin modern bernilai jutaan dolar, ruang kecil ini justru melahirkan inovasi penting yang dinilai mampu memberi dampak besar bagi dunia pertanian Indonesia.

 

Dari ruangan sederhana itu ada inovasi Trichoderma dari akar bambu lokal sebagai pelindung akar tanaman. Beauveria bassiana untuk pengendalian hama tanpa pestisida kimia, Paenibacillus cair sebagai pupuk alami berbasis bakteri baik, Metabolit Sekunder untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, pestisida nabati berbahan lokal ramah lingkungan, Eco enzyme hasil fermentasi limbah rumah tangga, serta Photosynthetic Bacteria yang menyuburkan sekaligus melindungi tanaman.

Salah satu tim juri, Prof. Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. Ia menguji. “Pak, tadi kami lihat ada jamur Trichoderma dari akar bambu. Kalau ingin diperbanyak, bagaimana caranya ?”

Ketua klompok I Wayan Suartama, menjawab dengan lugas. “Sederhana saja, Pak. Isolat Trichoderma dari akar bambu diperbanyak melalui media beras dan jagung, dengan tahapan sterilisasi, inokulasi, dan inkubasi hingga menghasilkan spora aktif yang siap diaplikasikan.

Sejauh mana inovasi ini diterapkan di kelompok maupun masyarakat luas ? lanjut Prof. Oka. “Produk sudah digunakan di seluruh lahan Subak, bahkan mulai diperkenalkan ke subak sekitar,” pungkas Suartama.

Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, S.P., M.Si. lalu menyusul bertanya. “Ibu Reni, saya perhatikan sejak tadi Anda begitu dekat dengan para petani. Bisa saya tanyakan, bagaimana peran Anda sebagai PPL di sini ?”


“Terima kasih, Pak Doktor. Tugas utama saya adalah mendampingi petani, memberi penyuluhan, dan membantu mereka memahami teknologi baru. Termasuk produk-produk agensia hayati dari lab mini ini.”.

 

Lalu, bagaimana tanggapan petani dengan kehadiran Anda ? Apakah mereka mudah menerima inovasi yang Anda perkenalkan ?” “Awalnya memang tidak mudah, Pak. Ada rasa ragu, apalagi kalau produk baru belum pernah mereka coba. Tapi dengan pendekatan yang sabar dan contoh nyata di lahan, mereka mulai percaya. Sekarang justru banyak yang minta didampingi lebih intensif.” Jawab Reni sembari mengumbar senyum manisnya.

Dampak

Produk-produk itu sudah dipakai di seluruh lahan subak. Biaya produksi turun, dan keuntungan meningkat. Dari hasil demplot yang sudah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut, keuntungan budidaya padi secara konvensional mendapat keuntungan yaitu Rp 20.651.250 dengan produksi sebesar 6,2 ton/ha.  Sedangkan budidaya padi secara agensia hayati mendapatkan keuntungan lebih besar yaitu Rp 32.982.250 dengan produksi sebesar 9,5 ton/ha.

Petani lebih percaya diri, tanah lebih sehat. Berkat pendampingannya, mendorong petani memproduksi sendiri agens hayati dari lingkungan sekitar. Bahkan, kelompok P4HT (Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu) di Subak Pangkung Jajung, sukses menorehkan prestasi sebagai wakil Kabupaten Jembrana dalam Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Bali Tahun 2025. Sebuah pencapaian yang tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui kerja nyata dan pendekatan inovatif di lapangan.

 

Saya lihat wajah-wajah itu. Ada rasa bangga. Mereka tahu, mereka sedang membuat sejarah kecil. Dan subak ini mulai dikenal. Petani dari luar berdatangan. Mereka ingin meniru.

Saya memandang Reni siang itu. Rambut hitam, tatapan tajam, bicara lugas. Ia masih muda, tapi visi dan energinya jelas. Ia bukan sekadar penyuluh. Ia motor perubahan. Ia membuat petani berani mandiri.

Di ujung barat Bali, saya melihat sebuah revolusi sunyi. Tidak dengan demo. Tidak dengan orasi. Tapi dengan mikroba, bambu, dan ketekunan.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0