“Badung Panen Bawang Merah, Harga Melambung, Petani Senang”
Subak Pededekan diselimuti aroma tanah segar dan udara basah setelah hujan ringan. Di antara barisan lahan bawang merah, umbi-umbi besar berkilau di tangan petani. Panen perdana pekan lalu bukan sekadar simbol, tapi bukti keseriusan Pemerintah Kabupaten Badung memperkuat sektor pertanian melalui program strategis bawang merah.
“Badung Panen Bawang Merah, Harga Melambung, Petani Senang”
Subak Pededekan diselimuti aroma tanah segar dan udara basah setelah hujan ringan. Di antara barisan lahan bawang merah, umbi-umbi besar berkilau di tangan petani. Panen perdana pekan lalu bukan sekadar simbol, tapi bukti keseriusan Pemerintah Kabupaten Badung memperkuat sektor pertanian melalui program strategis bawang merah.
Empat subak—Pededekan, Pedahanan, Umabun, dan Mambal—terlibat dalam inisiatif ini. Masing-masing mendapat fasilitasi dua hektar lahan, sarana penunjang, dan pendampingan intensif. Total 60 petani aktif menanam, merawat, dan akhirnya menuai umbi berkualitas tinggi yang membuat senyum mereka tak bisa disembunyikan. Dari sini terlihat jelas, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani bukan sekadar jargon, tapi kerja nyata yang menumbuhkan optimisme.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan, pengembangan bawang merah ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Pengembangan komoditas bawang merah adalah bukti nyata bagaimana potensi wilayah dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Kami juga berkomitmen untuk terus mengintegrasikan pembangunan sektor pertanian dengan pariwisata, sehingga kedua sektor unggulan ini dapat saling mendukung dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat." ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, menyampaikan bahwa pengembangan bawang merah dan cabai rawit menjadi prioritas strategis pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus menstabilkan neraca pangan. Hal ini sesuai dengan arahan Bupati Badung agar pemerintah hadir memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
"Pada tahun 2025, kami mengembangkan bawang merah seluas 12 hektar yang tersebar di Kecamatan Abiansemal dan Mengwi, karena wilayah tersebut secara geografis dinilai layak. Di Subak Pededekan ini, misalnya, ada 2 hektar lahan dengan varietas Super Philip yang lebih tahan terhadap hama dan mampu menghasilkan sekitar 13 ton per hektar," jelasnya.
Keberhasilan panen tidak terlepas dari penerapan teknologi plastik mulsa yang menjaga kelembaban tanah sekaligus menekan pertumbuhan gulma. Selain itu, para petani mendapat pendampingan intensif dari penyuluh pertanian dan ahli Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) dan Balai Penerapan Moderenisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Bali untuk mengantisipasi risiko serangan hama.
Koordinator Penyuluh BPP Abiansemal, Dewa Rai Parwata, S.P., yang juga Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Badung, menegaskan pentingnya sinergi penyuluh dengan petani. "Kami berkomitmen untuk terus mendampingi petani dari proses awal hingga panen. Inovasi seperti plastik mulsa dan pengendalian hama terpadu sudah terbukti efektif. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis produktivitas bawang merah di Badung bisa terus meningkat," ujarnya.
Pekaseh Subak Pededekan, I Nyoman Sardiana, menyampaikan rasa syukurnya atas hasil panen perdana ini. "Panen kali ini sangat memuaskan, umbinya besar dan sehat. Bantuan pemerintah serta pendampingan penyuluh sangat membantu kami dalam mengelola lahan dengan lebih baik," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Pekaseh Subak Umabun, I Ketut Sada dari Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal. "Kami merasakan manfaat langsung dari program ini. Dengan adanya lahan fasilitasi dan bimbingan teknis, petani lebih mudah menerapkan teknologi baru. Kami berharap program ini berlanjut agar petani semakin sejahtera," katanya.
Panen perdana berlangsung di tengah harga bawang merah yang sedang melambung, yakni Rp 61.000 per kilogram. Dengan produktivitas diperkirakan mencapai 13–15 ton per hektar, program ini diproyeksikan memberi tambahan pendapatan signifikan bagi petani.
Dari sisi makro, program pengembangan bawang merah di Badung juga dinilai strategis. Selain meningkatkan kesejahteraan petani, inisiatif ini berpotensi memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu pengendalian inflasi daerah, mengingat bawang merah termasuk komoditas utama penyumbang inflasi di Bali.
Kontributor - Putu Agung Apriadi, S.Tr.P., M.P.
DPD Perhiptani Kabupaten Badung
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0