Diah : “Srikandi Pangan dari Selemadeg”
Tekun, berani, dan intuitif. Begitulah aura yang terpancar dari Kadek Diah Pradnyani, S.P., M.Si. asal Buleleng. Langkahnya tak pernah surut mendampingi petani. Ia bukan hanya membimbing cara tanam, tapi juga menanamkan keyakinan bahwa pertanian adalah sumber kehidupan.
Diah : “Srikandi Pangan dari Selemadeg”
Sinar mentari siang itu menembus sela-sela dedaunan kakao di halaman Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selemadeg Tabanan Bali. Angin membawa aroma tanah basah selepas hujan. Tatapannya tenang, tapi berisi semangat yang dalam. Dialah Kadek Diah Pradnyani, S.P., M.Si., penyuluh pertanian yang tak hanya sebagai inovator, tapi juga menanam harapan.
Zodiaknya Scorpio. Dikenal kuat, berani, tekun, dan intuitif. Semua itu seperti menjelma dalam dirinya. “Pertanian itu bukan sekadar pekerjaan. Ini panggilan jiwa,” ucap Diah sambil tersenyum, memecah hening siang itu.
Perempuan asal Buleleng, lahir dan besar di Kota Denpasar ini, kini menetap di Br. Roban, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, setelah dipersunting sang suami yang berasal dari daerah tersebut. Meski beradaptasi di tempat baru, semangat pengabdiannya pada dunia pertanian tak pernah surut.
Lulus dari Program Studi Agribisnis, Konsentrasi Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian Universitas Udayana pada tahun 2014, Diah tak menunggu lama untuk melangkah lebih jauh. Dengan tekad kuat dan semangat belajar tinggi, ia berhasil menembus seleksi Beasiswa LPDP salah satu program beasiswa paling bergengsi dari Pemerintah Indonesia. Melalui kesempatan itu, Diah melanjutkan studi ke jenjang magister pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga berhasil menamatkannya pada tahun 2016.
Sebelum terjun sebagai penyuluh, Diah sempat bekerja sebagai Food Production Manager di Bambu Indah Villa, Sayan, Ubud. Dunia pariwisata memberinya banyak pengalaman, namun di hatinya, tanah pertanian tetap memanggil. “Ada kepuasan batin saat melihat petani tersenyum karena panennya berhasil. Rasanya tak tergantikan,” katanya pelan.
Kenangan perjuangan meraih beasiswa itu masih membekas jelas di benak Diah. Ia tersenyum saat mengingat masa-masa penuh semangat itu. Seleksi LPDP waktu itu bertepatan dengan acara PENAS KTNA di Malang.
“Saya ikut sebagai kontingen wanita tani KTNA Kota Denpasar, jadi selama dua hari saya harus bolak-balik Malang–Surabaya untuk mengikuti tahapan seleksi beasiswa.” ujarnya sambil tertawa kecil.
Perjuangan itu tidak hanya menguji fisik, tapi juga keteguhan niatnya. Namun, bagi Diah, setiap lelah terbayar dengan pengalaman berharga. Saat menempuh studi di Bogor, kesan itu kian dalam. Bertemu banyak orang hebat mulai dari widyaiswara, pebisnis, hingga tokoh-tokoh inspiratif. “Rasanya luar biasa, benar-benar membuka mata dan hati saya tentang luasnya dunia pertanian,” kenang Diah penuh kagum.
Tak hanya menimba ilmu di ruang kelas, Diah juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi pascasarjana IPB. Aktivitas itu memperluas pandangan dan jejaringnya di bidang komunikasi pembangunan pertanian. Di sana, ia sering berdiskusi dan bertukar ide dengan sesama mahasiswa asal Bali yang sama-sama menimba ilmu di Bogor.
“Kami punya semangat yang sama, bagaimana membawa pertanian Bali agar lebih maju, mandiri, dan berdaya saing,” tuturnya penuh keyakinan.
Tahun 2019 menjadi titik awal pengabdiannya sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di BPP Selemadeg, Kabupaten Tabanan. Wilayah kerjanya berpindah dari Desa Bajera dan Bajera Utara (2019–2023), lalu Desa Berembeng dan Antap (2024–2025), hingga kini di Desa Selemadeg dan Serampingan (2026). Sejak 2022, ia juga dipercaya memegang Bidang Urusan Programa di BPP Selemadeg.
Menjadi penyuluh, baginya, bukan sekadar pekerjaan lapangan. “Kami bukan hanya menyampaikan teknologi, tapi juga menyemai semangat,” ujarnya penuh makna.
Jerih payahnya pun berbuah penghargaan. Tahun 2024, Diah dinobatkan sebagai Juara 1 PPL Teladan Kabupaten Tabanan, dan setahun kemudian, kelompok tani dampingannya Poktan Mekar Jaya berhasil masuk nominasi Lomba Inovasi Daerah Jayaning Singasana Kabupaten Tabanan 2025.
Namun, di balik semua prestasi itu, Diah tetap sederhana. Ia sadar bahwa status baru sebagai penyuluh di bawah Kementerian Pertanian membawa tanggung jawab besar. “Perubahan mungkin belum sepenuhnya terasa, tapi semangat kami tetap sama memastikan program Kementan benar-benar menyentuh petani,” katanya.
Di Selemadeg, senja hari jelang pulang kantor itu berakhir dengan cahaya yang lembut. Tapi semangat Kadek Diah Pradnyani perempuan asal Buleleng yang kini mengabdikan hidupnya untuk petani terus menyala seperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
2