Alit Sabda Utama: “Dari Jukir Kini Garda Terdepan Penyuluh Pertanian”

Peluit parkir itu pernah menjadi sumber nafkahnya. Hari ini, Ketut Alit Sabda Utama, SP, justru dikenal sebagai garda terdepan penyuluh pertanian di Kuta Utara. Dari peluit parkir, sawah, hingga panggung upacara, ia membuktikan bahwa jalan hidup bisa berubah arah tanpa kehilangan martabat.

Feb 8, 2026 - 05:36
 0  62
Alit Sabda Utama: “Dari Jukir Kini Garda Terdepan Penyuluh Pertanian”

Alit Sabda Utama:
“Dari Jukir Kini Garda Terdepan Penyuluh Pertanian”

Peluit kecil itu dulu setia tergantung di lehernya. Di tepi Jalan Sudirman, di tengah panas dan deru kendaraan, Ketut Alit Sabda Utama, SP. mengatur keluar-masuk mobil sebagai juru parkir. Tak banyak yang tahu, pria asal Krobokan, Badung itu adalah seorang sarjana pertanian, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, jurusan Budidaya, tahun 1996.

Pilihan hidup itu sempat membuat keluarganya kecewa. “Sarjana kok jadi jukir,” begitu suara yang kerap ia dengar. Namun bagi Ketut Alit, pekerjaan apa pun lebih terhormat daripada menyerah pada keadaan. Ia memilih bertahan, sambil terus mencari jalan agar ilmu pertanian yang dimilikinya kelak benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Waktu membuktikan, jalan hidupnya memang berliku, tapi tak pernah melenceng dari arah pengabdian. Dari dunia parkir, koperasi, perhotelan, hingga pendampingan petani tanpa bayaran, Ketut Alit akhirnya berdiri di posisi yang selama ini ia perjuangkan. Kini, ia dikenal sebagai penyuluh pertanian di BPP Kecamatan Kuta Utara, garda terdepan yang mendampingi petani menghadapi tantangan zaman.

Tahun 1997, ia hengkang dan bekerja di Puskud Bali Dwipa selama satu tahun. Setelah itu, ia melanjutkan kiprah profesionalnya di Hotel Bali Cliff selama kurang lebih tujuh tahun. Dunia perhotelan memberinya pengalaman manajerial dan ketekunan bekerja dari bawah sebagai bekal yang kelak sangat berguna dalam pengabdian sosialnya.

Kolapnya Hotel Bali Cliff memaksa Ketut Alit keluar dari dunia pegawai, dan memilih terjun di dunia pertanian sebagai petani ginseng, yang selanjutnya dipercaya sebagai PPL swasta di CV Medical. Oleh karena tahun 2005 dipercaya sebagai guru pengajar Mapel TIK di SMA Budi Utama Kerobokan, maka Ketut Alit mengundurkan diri sebagai PPL swasta di CV Medical yang mewilayahi Kab. Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, Bangli dan karangasem.

Tonggak penting terjadi pula pada 2005, ketika Ketut Alit menjadi sosok yang terlibat dalam pendirian Puskop Jagadita Kab. Badung (Pusat Koperasi Jagadita). Ia tak hanya “melahirkan” lembaga tersebut, tetapi juga mengonsep dan mengawal perkembangannya hingga 2010. Komitmennya di dunia perkoperasian berlanjut saat ia dipercaya sebagai Sekretaris Dekopinda Badung periode 2010–2013. Memadukan gerak langkah Puskop Jagatdhita dan Dekopinda dalam satu atap gedung untuk menggerakan kebersamaan perkoperasian di Kabupaten Badung.

Di tingkat lokal, ia juga aktif sejak muda, memimpin ST Yowana Dharma Bhakti hingga aktif sebagai pengurus Karang Taruna, serta pernah sebagai Kepala Lingkungan (Kaling) Petingan Kerobokan Kaja pada 2008–2014, dan sejak 2014 hingga sekarang menjabat sebagai Sekretaris LPM Kerobokan Kaja, Badung. Peran-peran ini menegaskan posisinya sebagai penggerak masyarakat akar rumput.

Dedikasinya pada sektor pertanian semakin nyata pada 2012, ketika ia lulus sebagai PMT (Penyelia Mitra Tani) mendampingi Gapoktan di Kab Badung. Empat tahun kemudian, 2016, Ketut Alit kembali menunjukkan pengabdian tanpa pamerih dengan menjadi Fasilitator Pembiayaan Petani Swadaya (FPPS) tanpa gaji. Ia membantu petani mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR), menjadi jembatan antara petani kecil dan lembaga pembiayaan.

Pada tahun 2017-2018 dipercaya ngayah menganbdi memimpin 350 kk pengempon Pura Kawitan dengan melaksanakan program pemugaran Pura secara keseluruhan tanpa membebani warga. Bersamaan dengan waktu itu Ketut Alit sempat melahirkan Masagena Archery Club. Klub panahan berfokus pada pembinaan atlet pemula, yang hingga kini selalu menyumbangkan medali untuk kabupaten Badung dan Bali.

Akhirnya, keiklasan pengabdian panjang itu berbuah pengakuan resmi. Pada 2019, Ketut Alit Sabda Utama resmi diangkat sebagai PPPK Penyuluh Pertanian Lapangan, dengan penempatan pertama dan hingga kini di BPP Kecamatan Kuta Utara, Badung.

Di luar perannya sebagai penyuluh pertanian, Alit Sabda juga setia menjaga warisan budaya. Ia kerap menari dan memerankan tokoh dalam upacara suci Hindu, mengabdi lewat seni dengan ketulusan yang sama seperti saat mendampingi petani. Dari peluit parkir, sawah, hingga panggung upacara, hidup Alit Sabda adalah tentang satu hal pengabdian tanpa sekat.

Bagi Ketut Alit, menjadi penyuluh bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan hidup dengan moto ”Jujur, Displin dan Iklas”. Dari lahan parkir di sudut kota hingga sawah dan kebun milik petani, ia membuktikan bahwa pengabdian sejati lahir dari ketekunan, bukan dari jalan hidup yang instan. (jikwid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0