Nengah Jenek (1): Bertahan di Lahan Kering, Menjadi Penyuluh Swadaya Petani
Di lahan kering yang kerap mematahkan harapan, Nengah Jenek justru bertahan. Ketekunan dan pengetahuan yang ia rawat dari tanah keras itu mengantarkannya dinobatkan sebagai penyuluh pertanian swadaya teladan sebuah pengakuan atas pengabdian panjang di ladang dan desa.
Nengah Jenek (1)
Bertahan di Lahan Kering, Menjadi Penyuluh Swadaya Petani
Pagi di Banjar Dinas Bantas, Dusun Baturinggit, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, selalu dimulai dengan matahari yang datang lebih cepat. Tanahnya kering, berdebu di musim kemarau, dan tak jarang merekah seperti menyimpan cerita panjang tentang kekurangan udara. Di tempat seperti inilah Nengah Jenek menanamkan keyakinannya sejak puluhan tahun lalu bahwa kehidupan tetap bisa tumbuh, bahkan dari lahan yang sering dianggap tidak menjanjikan.
Lahir dan besar di Bantas, Nengah Jenek tak pernah benar-benar pergi dari tanah kelahirannya. Ia tumbuh bersama kerasnya alam Karangasem bagian timur, menyaksikan bagaimana petani harus terus berkompromi dengan cuaca, udara, dan keterbatasan sarana. Dari pengalaman itulah ia belajar satu hal mendasar bertani yang tidak cukup hanya mengandalkan tenaga, tetapi menuntut pengetahuan, kesabaran, dan ketekunan.
Kini, namanya dikenal sebagai petani mangga yang berhasil, sekaligus tokoh masyarakat yang melampaui batas kebun. Ia dipercaya memimpin Kelompok Tani Arumanis , kelompok tani yang mengandalkan komoditas mangga di lahan kering Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu. Di bawah kepemimpinannya, kelompok tani ini tidak hanya bergerak sebagai wadah produksi, tetapi berkembang menjadi ruang belajar bersama.
Pelan-pelan, Nengah Jenek mengubah cara pandang petani di sekitarnya. Bertani, baginya, bukan sekadar menunggu musim dan berharap panen. Ada proses yang harus direncanakan, dihitung, dan dievaluasi. Pengelolaan air yang hemat, pemangkasan terukur, pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama yang ramah lingkungan dijalankan dengan disiplin. Ia pun tak segan turun langsung ke kebun anggota, menunjukkan praktik yang selama ini ia terapkan di lahannya sendiri.
Kepemimpinannya tidak meledak-ledak. Ia lebih sering hadir sebagai pendengar, lalu memberi contoh. Mungkin karena itulah kepercayaan tumbuh secara alami. Bagi banyak petani, Nengah Jenek bukan sekadar ketua kelompok, melainkan rujukan tempat bertanya ketika tanaman bermasalah, atau ketika semangat mulai goyah.
Di luar kebun mangga, peran lain menanti. Ia mengemban amanah sebagai Bendesa Adat Bantas, sebuah tugas yang menuntut kebijaksanaan, kesabaran, dan keteladanan. Bagi Nengah Jenek, adat bukan sekadar warisan, melainkan fondasi kehidupan sosial. Menjaga keharmonisan warga, merawat nilai-nilai budaya, dan memastikan kebersamaan tetap hidup di tengah perubahan zaman menjadi bagian dari pengabdiannya.
Menariknya, Nengah Jenek tak pernah memisahkan pertanian dari adat. Baginya, keduanya saling menguatkan. Ketika petani sejahtera, kehidupan adat pun lebih terjaga. Sebaliknya, ketika nilai kebersamaan hidup, pertanian menjadi lebih kokoh karena dijalankan dengan semangat gotong royong.
Perannya semakin lengkap ketika ia aktif sebagai penyuluh pertanian swadaya di Kecamatan Kubu. Tanpa ikatan formal dan tanpa bayaran, ia berbagi pengalaman kepada sesama petani. Pengetahuan yang ia sampaikan bukan teori rumit, melainkan praktik lapang apa yang berhasil dan apa yang pernah gagal. Terutama dalam mengelola mangga di lahan kering, pengalamannya menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.
Dedikasi itulah yang kemudian mengantarkannya mendapat pengakuan di tingkat daerah. Di Kabupaten Karangasem, Nengah Jenek dinobatkan sebagai Juara 3 Penyuluh Pertanian Swadaya Berprestasi. Penghargaan ini terasa istimewa karena tidak lahir dari target pribadi, melainkan dari kerja sosial yang ia jalani bertahun-tahun: berbagi pengetahuan tanpa pamrih, mendampingi petani di lahannya masing-masing, serta menumbuhkan keberanian untuk mencoba cara-cara baru di tengah keterbatasan lahan kering. Bagi Nengah Jenek, penghargaan tersebut bukan tujuan akhir, melainkan pengingat bahwa berbagi ilmu adalah bagian penting dari bertani itu sendiri.
Sejak awal 1990-an, ia telah bersentuhan langsung dengan dunia budidaya mangga. Lebih dari tiga dekade kemudian, ia paham betul bahwa pertanian adalah proses panjang yang menuntut kesabaran. Ada musim baik dan masa sulit, ada panen membahagiakan, ada pula tahun-tahun ketika hasil tak sesuai harapan. Namun konsistensi tetap menjadi kunci yang selalu ia pegang.
Bagi Nengah Jenek, menjadi petani bukan sekedar profesi. Ini adalah jalan hidup, jalan yang mengajarkannya untuk tetap rendah hati di alam, sekaligus berani berinovasi. Di lahan kering yang tak pernah benar-benar ramah, ia memilih bertahan, belajar, dan berbagi.
Dari Bantas, ia menanam lebih dari sekedar mangga. Ia menanamkan cara berpikir baru, menumbuhkan harapan, dan menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir cerita. Justru di sanalah, ketekunan menemukan maknanya. (bersambung)
Koresponden : Laksmi DPD Perhiptani Karangasem
Editor: Widianta
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0