“Didemo, Kepala BPP Malah Tersenyum”
Biasanya, yang datang ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Busungbiu adalah petani atau penyuluh berseragam cokelat. Tapi di pagi itu, halaman kantor justru dikepung seragam merah muda. Seratus dua anak PAUD Negeri Percontohan Kabupaten Buleleng datang “berdemo” bukan menuntut pupuk, melainkan belajar sambil tertawa tentang dunia pertanian.
“Didemo, Kepala BPP Malah Tersenyum”
Halaman Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Busungbiu tampak berbeda. Biasanya yang terlihat di sana, ada rapat para penyuluh, sibuk memeriksa bibit, berdiskusi tentang cuaca, jadwal tanam atau pupuk. Tapi kali ini, warna cokelat seragam pegawai tersaingi oleh merah putih seragam seratus dua anak PAUD Negeri Percontohan Kabupaten Buleleng pada hari Rabu pagi, (15/10).
Ya, Kepala BPP Busungbiu, drh. I Gusti Lanang Made Suyasa, benar-benar didemo.
Tapi bukan oleh petani yang menuntut pupuk, melainkan oleh tawa anak-anak yang riuh rendah belajar tentang pertanian. Demo lucu-lucuan ini dikemas dalam kegiatan bertajuk Edukasi Bidang Pertanian kepada Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045. Sebuah upaya menanamkan cinta pada pertanian sejak dini.
Belajar Sambil Bermain di Halaman BPP
Acara berlangsung penuh semangat. Setelah diterima oleh para petugas BPP, anak-anak diarahkan ke area samping lobi untuk mendengarkan penjelasan ringan mengenai berbagai jenis tanaman dan kegiatan pertanian. Kepala Sekolah bersama guru pendamping memperkenalkan para siswa, sedangkan petugas pertanian menjelaskan tentang berbagai jenis budidaya tanaman seperti cabai, terong, dan sayuran di media polybag maupun tanah bedengan.
Tak berhenti di situ. Anak-anak juga dikenalkan pada teknik pembenihan kopi dan kakao dua komoditas unggulan wilayah Busungbiu. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka mencoba menyentuh bibit tanaman kecil yang berjajar rapi di meja pembenihan, sambil sesekali melontarkan pertanyaan lucu yang membuat suasana semakin hidup.
Sapa Hangat dan Edukasi Tentang Hewan Peliharaan
“Selamat pagi!” sapa I Gusti Lanang Made Suyasa dengan ramah.
“Pagiiiiiii!” jawab anak-anak serempak, dengan semangat yang bahkan membuat para penyuluh tersenyum lebar.
Rekan penyuluh kemudian mengangkat pamflet bergambar binatang. “Siapa yang punya anjing di rumah?” tanyanya Suyasa sang pemandu.
Beberapa tangan mungil langsung terangkat. Dengan lugas, berlatar belakan pendidikan sorang dokter hewan, Suyasa bercerita tentang Rabies. "Momok rabies" merujuk pada kondisi yang dianggap menakutkan dan berbahaya. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian, terutama setelah gejala neurologis muncul.
“Nah, kalau punya, jangan lupa divaksin ya. Anjing yang sehat harus dirawat, bukan dilepas liar. Supaya tidak ada yang kena rabies,” katanya lembut, tapi penuh makna.
Antusias dan Inspiratif
Menurut pengamatan tim BPP, kegiatan edukatif ini disambut antusias oleh para siswa. “Mereka belajar sambil bermain. Ini cara efektif memperkenalkan pertanian kepada generasi muda,” ujar salah satu penyuluh pertanian setempat.
Kepala PAUD Negeri Percontohan, I Gede Nuarta, S.Pd.,M.Pd. menambahkan, kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap dunia tani. “Anak-anak perlu tahu bahwa pertanian bukan hal kuno. Dengan ilmu dan teknologi, pertanian bisa jadi profesi modern dan menjanjikan,” ujarnya.
Semnetara, Guru pendamping Luh Putu Desy Sri Armini, S.Pd., juga mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Anak-anak sangat antusias. Mereka bahkan tidak mau pulang sebelum mencoba menyiram tanaman sendiri. Saya lihat mata mereka berbinar waktu memegang bibit cabai,” tuturnya sambil tersenyum.
Dan di tengah suasana penuh tawa itu, muncul suara kecil dari barisan tengah.
Seorang bocah bernama Made Sastra Wiguna berdiri dengan polos, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Pak, kalau tanam cabai pakai pupuk susu cokelat boleh nggak biar cepat besar?” tanyanya dengan wajah serius tapi lucu.
Sontak suasana pecah. Para penyuluh, guru, bahkan Suyasa sendiri tak kuasa menahan tawa.
“Boleh,” jawabnya sambil tersenyum, “asal nanti cabainya tumbuh rasa vanila, ya.”
Sekeliling pun meledak tawa. Para penyuluh tertawa, para guru ikut tertawa, dan Suyasa pun tak kuasa menahan senyum.
Itulah “demo” di BPP Busungbiu, demonstrasi keceriaan.
Bukan spanduk tuntutan, tapi poster bergambar sapi dan ayam.
Bukan orasi, tapi tanya-jawab polos yang disambut tawa.
Bukan suara marah, tapi nyanyian anak-anak tentang cinta lingkungan.
Pemerintah melalui BPP Busungbiu berkomitmen melanjutkan kegiatan serupa di berbagai sekolah. Langkah kecil ini, kata Suyasa, adalah bagian dari upaya besar menuju Indonesia Emas 2045 generasi muda yang cerdas, inovatif, dan peduli terhadap ketahanan pangan bangsa.
Dan mungkin, suatu hari nanti, di antara anak-anak yang “mendemonstrasi” pagi itu, akan lahir petani hebat, peneliti unggul, atau bahkan menteri pertanian.
Yang semuanya pernah belajar tentang cinta tanah dari Balai Penyuluhan Pertanian di Busungbiu, Buleleng-Bali.
Koresponden I Gede Jaya Mahendra DPD Perhiptani Kabupaten Buleleng
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0