“Dikepung Keong & Beton, Margaya Tetap Panen”
Meski lahan terus tergerus alih fungsi dan hama keong makin agresif, petani Subak Margaya tetap menunjukkan perlawanan lewat panen yang menggembirakan.
“Dikepung Keong & Beton, Margaya Tetap Panen”
Meski luas sawah terus menyusut akibat alih fungsi lahan yang kian tak terbendung, petani Subak Margaya tetap menunjukkan semangat tinggi menjaga produksi pangan. Hal itu terlihat dalam gerakan panen padi bersama yang digelar Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BPMP) Bali bersama Dinas Pertanian Kota Denpasar di Subak Margaya, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat.
Pekaseh Subak Margaya, I Nyoman Ariantha, menyampaikan bahwa subaknya kini hanya tersisa 69 hektare. Luasan itu terus berkurang setiap tahun karena tekanan alih fungsi lahan. “Penyusutan ini tidak hanya menekan produksi, tapi juga mengancam struktur sosial-budaya subak. Kami dikepung perubahan, tapi kami tetap bertahan,” ujarnya.
Di tengah semakin sempitnya ruang bertani, petani juga menghadapi ancaman serius dari hama keong. Serangan yang muncul pada fase awal pertumbuhan padi ini merusak banyak bibit dan menurunkan keberhasilan tanam. Bila tidak dikendalikan secara terpadu, populasi keong berpotensi mengganggu pola tanam dan menurunkan produktivitas.
Meski demikian, hasil panen pada varietas Ciherang justru memberikan angin segar. Hasil ubinan menunjukkan produksi 7,020 kg pada lahan milik Nyoman Renuh dan 8,355 kg pada lahan milik I Ketut Sukadana, dengan rata-rata 7,69 kg atau 10,1 ton/ha GKG. Capaian tersebut menunjukkan penerapan teknologi dan pendampingan penyuluh sudah berjalan efektif.
Hasil tersebut menegaskan bahwa Ciherang masih menjadi varietas unggul dengan produktivitas stabil, rasa pulen yang disukai pasar, umur tanam sedang, serta toleransi terhadap beberapa penyakit utama.
Koordinator BPP Denpasar Barat, Luh Ketut Ayu Sukarmi, SP., menegaskan bahwa penyuluh berada di garis depan untuk membantu petani menghadapi segala tantangan itu. Ia mengungkapkan bahwa pengendalian hama keong harus dilakukan secara terpadu, mulai dari sanitasi lahan, pemasangan perangkap, pemungutan manual melalui gotong royong, aplikasi moluskisida selektif, hingga pengaturan tata air agar tidak menjadi habitat keong.
Ada beberapa rekomendasi pengendalian yang dapat dilakukan. Pertama, Penurunan genangan air sawah hingga umur tanaman 2 minggu setelah tanam. Kedua, Menggunakan trapping (perangkap) dengan menggunakan daun pepaya, daun pisang, dan daun talas. Bahan perangkap ini disebarkan di sekitar sawah, kemudian keong yang mendekati perangkap dipungut dan dimusnahkan. Dan ketiga, Pemasangan ajir bambu juga disarankan sebagai perangkap telur di sawah yang selalu tergenang atau pada saluran pengairan untuk menarik keong mas dewasa yang ingin bertelur. Dengan cara ini, kelompok telur muda dapat terkumpul untuk kemudian diambil dan dihancurkan.
“Di tengah minimnya tenaga kerja dan tekanan hama, modernisasi pertanian sudah menjadi kebutuhan. Penyuluh akan terus mendampingi petani dari budidaya hingga pengendalian hama,” tegas Ayu Sukarmi yang juga Ketua DPD Perhiptani Kota Denpasar.
Di tengah himpitan alih fungsi lahan dan serangan keong yang tak kunjung reda, Subak Margaya terus menunjukkan keteguhan. Petani, penyuluh, dan pemerintah berdiri bersama menjaga denyut pertanian Denpasar membuktikan bahwa semangat subak belum padam.
Konresponden Nency DPD Perhiptani Kota Depasar
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0