Sinergi TNI–Penyuluh Kuatkan Petani Penyaringan
Malam tak menghalangi semangat belajar. Melalui program TMMD ke-127 Kodim 1617/Jembrana, sinergi TNI dan penyuluh pertanian mendorong petani Desa Penyaringan naik kelas lewat penguatan kapasitas dan teknologi budidaya.
Sinergi TNI–Penyuluh Kuatkan Petani Penyaringan
Malam tak lagi menjadi alasan. Di tengah kesibukan warga, Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1617/Jembrana menghadirkan program nonfisik yang menyentuh langsung kebutuhan petani. Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan serta Budidaya Kakao dan Kelapa Genjah digelar di Gedung Serbaguna Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Senin malam (2/3).
Kegiatan yang berlangsung pukul 19.00 hingga 21.30 WITA itu menjadi bukti nyata sinergi TNI bersama Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mendoyo. Meski digelar selepas Isya, semangat menjadi peserta tak surut. Hingga acara berakhir, sesi tanya jawab berlangsung aktif dan interaktif.
Peserta berasal dari unsur petani Subak Sawah dan Subak Abian se-Desa Penyaringan. Antusiasme mereka mencerminkan tingginya kebutuhan akan edukasi pertanian yang aplikatif dan sesuai tantangan lapangan.
Kegiatan dibuka Perbekel Desa Penyaringan I Made Dresta. Ia mengapresiasi perhatian TNI melalui program TMMD yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat sumber daya manusia.
“Kami sangat bersyukur. TMMD tidak hanya membangun infrastruktur desa, tetapi juga membangun kapasitas petani kami. Penyuluhan seperti ini sangat dibutuhkan agar petani mampu beradaptasi dengan perkembangan pertanian modern,” ujarnya.
Hadir mewakili Dandim 1617/Jembrana, Pasi Intel Lettu Chk I Komang Agus Ardiawan. Turut hadir Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana I Komang Ariada, SP, serta Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Jembrana I Made Adi Gunawan, S.Pt. Kehadiran para pejabat tersebut menegaskan komitmen bersama dalam pemberdayaan petani di Kecamatan Mendoyo.
Pertanian Berkelanjutan
Materi pertama disampaikan I Gede Putu Edi Setiawan, SP, penyuluh pertanian dari BPP Kecamatan Mendoyo. Ia mengupas konsep pertanian berkelanjutan sebagai pendekatan yang mengutamakan produktivitas, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah sawah dan kebun kakao melalui pemanfaatan pupuk organik berbahan lokal, seperti kompos jerami dan kulit buah kakao. Penggunaan pupuk hayati juga dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah.
Dalam pengelolaan udara, ia memperkenalkan teknik System of Rice Intensification (SRI) dengan pengairan berselang untuk menghemat udara sekaligus meningkatkan hasil panen padi. Di tengah tantangan perubahan iklim, efisiensi udara menjadi kunci.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga ditekan, agar petani mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia. Pemanfaatan musuh alami, pestisida nabati, dan pemantauan rutin tanaman dinilai lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Di kebun kakao, petani didorong untuk menerapkan sistem agroforestri atau tumpang sari dengan tanaman penaung produktif seperti pisang dan kelapa. Selain menjaga kelembapan dan keseimbangan ekosistem, pola ini membuka peluang pendapatan tambahan.
Tak kalah penting, limbah pertanian diajak untuk diolah kembali. Jerami dan sekam bisa dijadikan kompos atau biochar, sementara kulit kakao dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik maupun pakan ternak.
Kakao dan Kelapa Genjah
Sesi kedua dibawakan Ilham Kurniansyah Maulana Ibrahim, SP Ia mengulas teknis budidaya kakao dan kelapa genjah, mulai dari pemilihan bibit unggul, persiapan lahan, teknik tanam, pemupukan, hingga panen.
Untuk kakao, peserta mendapatkan pemahaman tentang pentingnya pemangkasan naungan pohon dan teknik sambung samping guna meremajakan tanaman tua. Sementara kelapa genjah diperkenalkan sebagai komoditas yang cepat berbuah dan berpotensi menjadi sumber pendapatan jangka menengah.
Ia juga mengingatkan kewaspadaan terhadap hama dan penyakit utama, seperti penggerek buah kakao ( Conopomorpha cramerella ) dan buah busuk ( Phytophthora palmivora ). Pengendalian terpadu menjadi solusi agar produktivitas tetap terjaga tanpa merusak lingkungan.
Hingga larut malam, peserta tetap bertahan. Diskusi berjalan hangat, menandakan semangat belajar yang tinggi dari petani Desa Penyaringan.
Melalui kolaborasi TNI dan penyuluh pertanian ini, diharapkan kapasitas petani Subak Sawah dan Subak Abian semakin kuat. Dengan penerapan teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan, produktivitas dan kualitas hasil pertanian pun diharapkan meningkat, sekaligus memperkokoh ketahanan pangan di Kabupaten Jembrana.
Koresponden : Edi Setiawan DPD Perhiptani Jembrana
Editor: Widianta
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0