Tak Semua Organisme Jadi Musuh
Tak semua organisme di sawah membawa petaka. Ada yang justru menjadi penjaga keseimbangan alam. Hal itu dibuktikan di Subak Penasan, Banjarangkan, tempat demplot kerja bareng Perhiptani Bali dan Pupuk Indonesia menunjukkan padi tumbuh sehat tanpa banyak sentuhan bahan kimia.
Tak Semua Organisme Jadi Musuh
Ekologi sawah di Subak Penasan buktikan padi tumbuh sehat tanpa bergantung pada bahan kimia.
Tak semua organisme di sawah harus dimusnahkan. Ada yang justru menjadi sahabat bagi padi. Di Subak Penasan, Banjarangkan, pendekatan ekologi membuktikan bahwa keseimbangan alam mampu menghadirkan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Memasuki hari ke-58 demplot kerja bareng Perhiptani Bali dan Pupuk Indonesia, padi di lahan seluas 29 are milik Komang Artana tumbuh subur dan seragam. Rata-rata tinggi tanaman mencapai 81,7 sentimeter dengan 31,6 anakan per rumpun. Rumpun-rumpun hijau segar itu seolah menjadi bukti bahwa nutrisi tanah tercukupi dengan baik.
Menurut I Gusti Ngurah Agung Agustiana, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) BPP Banjarangkan, pemupukan dengan NPK+, ZA, dan Phosgreen berperan penting memperkuat perakaran, meningkatkan kehijauan daun, serta mendorong pembentukan anakan baru. “Pendekatan ekologi menjadikan sawah sebagai sistem terpadu. Tidak semua organisme perlu diberantas ada yang justru menjaga keseimbangan,” ujarnya.
Pendekatan ini menempatkan sawah sebagai ekosistem hidup yang saling terkait antara padi, tanah, air, hama, dan organisme lain. Dengan cara itu, penggunaan bahan kimia bisa ditekan, kesuburan tanah meningkat, dan hasil panen berpotensi lebih tinggi secara berkelanjutan.
Di lapangan, Ida Bagus Puja Putradnyana, S.P., penyuluh pertanian wilayah Subak Penasan, bersama tim PPL dan POPT Kecamatan Banjarangkan, melakukan pengamatan rutin pada 3 Desember 2025. Padi yang diamati berumur 58 hari setelah tanam (HST) dan dipupuk menggunakan produk Pupuk Indonesia. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan yang seragam dan minim gangguan hama berarti.
Apresiasi datang dari Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., yang menilai kegiatan ini bukan hanya sarana percontohan bagi petani, tetapi juga media belajar bagi penyuluh pertanian. “Kegiatan ini sangat positif. Petani dan penyuluh bisa memahami interaksi tanaman dengan organisme di sekitarnya. Dengan begitu, konsep pertanian berkelanjutan bisa diterapkan lebih optimal,” ujarnya.
Lewat inovasi seperti Budidaya Tanaman Sehat (BTS), para petani di Subak Penasan, Tempek Mungguna, Kecamatan Banjarangkan, diharapkan semakin paham pentingnya menjaga keseimbangan ekologi. Dari harmoni itulah, tumbuh padi yang sehat dan harapan baru bagi pertanian Bali yang berkelanjutan. (LeniManise)
Koresponden Mang Asih DPD Perhiptani Klungkung
What's Your Reaction?
Like
7
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0