“Azolla, ‘Emas Hijau’ Penyubur Sawah Petani Temukus.”

Di Subak Temukus, Bali Utara, petani memanfaatkan paku air Azolla pinnata sebagai pupuk alami pengganti urea. Tanah kian subur, biaya berkurang, dan sawahnya tampak lebih hijau dari sebelumnya.

Jan 4, 2026 - 05:03
 0  63
“Azolla, ‘Emas Hijau’ Penyubur Sawah Petani Temukus.”

“Azolla, ‘Emas Hijau’ Penyubur Sawah Petani Temukus.”

Petani di Bali Utara manfaatkan paku air sebagai pupuk alami penambat nitrogen, hemat biaya, dan ramah lingkungan

Hamparan Subak Temukus sore itu tampak lebih hijau dari biasanya. Di lahan 50 are milik Pak Mawa, permukaan sawah tak hanya dihiasi padi muda, tapi juga tertutup “karpet” hijau paku air Azolla pinnata. Lahan itu kini ditanami padi Inpari 32, yang telah berusia 31 Hari Setelah Tanam (HST). Di fase pertumbuhan vegetatif ini, Azolla menjadi “mitra hijau” andalan Pak Mawa.

“Dengan Azolla, saya bisa menghemat pupuk urea. Saat Azolla mati dan membusuk, dia berubah jadi pupuk hijau yang kaya nitrogen,” tutur Mawa, petani Subak Temukus

Simbiosis Ajaib Penambat Nitrogen

Azolla sering dijuluki “emas hijau” karena manfaatnya yang luar biasa terhadap kesuburan tanah. Tanaman paku air ini hidup bersimbiosis dengan alga biru Anabaena azollae, yang mampu menambat nitrogen langsung dari udara unsur penting bagi pertumbuhan padi.

Selain memperkaya unsur hara, Azolla juga berfungsi sebagai mulsa alami. Permukaannya yang rapat menutupi air sawah dan menghalangi sinar matahari menembus ke dasar tanah, sehingga gulma sulit tumbuh. Petani pun tak perlu sering mencabut rumput liar, menghemat tenaga sekaligus biaya. “Kalau gulma berkurang, waktu bisa digunakan untuk pekerjaan lain,” ujar Mawa sambil tersenyum.

Mengelola Azolla agar Tetap Bersahabat

Menurut penyuluh pertanian lapangan (PPL) Balai penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjar Buleleng Shinta Istihsan, S.P., Azolla bisa memberi manfaat maksimal jika dikelola dengan cara yang tepat. Salah satu kuncinya adalah pengaturan air secara berkala atau intermittent irrigation.

Sawah sebaiknya tidak terus-menerus digenangi. Setelah beberapa hari, air dikeringkan hingga tanah mulai retak halus, lalu diairi kembali. “Saat sawah dikeringkan, Azolla akan mati dan terbenam, berubah menjadi pupuk hijau yang langsung diserap akar padi,” jelas Shinta.

Selain itu, bagi petani yang masih menggunakan pupuk kimia, Shinta menyarankan agar Azolla di sekitar rumpun padi dibenamkan lebih dulu. Tujuannya agar pupuk jatuh langsung ke tanah, bukan di atas daun Azolla.

Azolla juga perlu dipanen secara berkala agar tidak terlalu lebat. Hasil panen bisa dimanfaatkan sebagai kompos atau pakan ternak. Dengan kandungan protein mencapai 24–30 persen, Azolla menjadi pakan tambahan bernilai tinggi untuk unggas maupun ikan. “Azolla membantu petani lebih mandiri, tanpa harus bergantung penuh pada pupuk sintetis,” tambah Shinta.

Langkah Kecil, Dampak Besar

Bagi Mawa, penggunaan Azolla bukan sekadar eksperimen. Ia melihat langsung perubahan pada lahan sawahnya: tanah menjadi lebih gembur, mikroorganisme lebih aktif, dan padi tumbuh lebih subur.

Kini, sawahnya bukan hanya menghasilkan padi, tapi juga menjadi ekosistem hidup yang seimbang. Cacing tanah kembali bermunculan, menandakan kualitas tanah yang membaik.

Inovasi sederhana ini menjadi bukti nyata bagaimana petani lokal mampu menerapkan pertanian berkelanjutan tanpa meninggalkan tradisi Subak yang diwariskan turun-temurun. “Azolla membuat saya sadar, alam sebenarnya sudah menyediakan segalanya. Kita hanya perlu belajar memanfaatkannya dengan benar,” ucap Mawa menutup percakapan.

Langkah kecil di Subak Temukus ini menunjukkan bahwa harmoni antara ilmu dan kearifan lokal dapat menjadi kunci masa depan pertanian hijau di Bali.

Koresponden Shinta Istihsan DPD Perhiptani Buleleng

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0