“Lahan Menyusut, Semangat Bertani Tak Surut”

Sawah memang menyusut di Kuta Utara. Tetapi bagi Sucipta dan para petani Subak Kedampang, semangat bertani tak boleh ikut surut.

Mar 14, 2026 - 06:46
 0  40
“Lahan Menyusut, Semangat Bertani Tak Surut”

“Lahan Menyusut, Semangat Bertani Tak Surut”

Perkembangan pesat sektor pariwisata di wilayah Kuta Utara tidak sepenuhnya menghapus jejak pertanian. Di tengah gempuran alih fungsi lahan, masih ada petani yang memilih bertahan menjaga sawahnya. Salah satunya adalah I Nengah Sucipta, pekaseh Subak Kedampang, Kabupaten Baadung yang tetap setia menggarap lahan di kawasan yang kini dipenuhi pembangunan.

Sucipta menuturkan perubahan di wilayah subaknya berlangsung cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ia pertama kali menjabat sebagai pekaseh sekitar empat tahun lalu, luas areal pertanian Subak Kedampang masih mencapai sekitar 55 hektare. Kini, luas tersebut menyusut menjadi sekitar 47 hektare.

“Banyak lahan yang berubah fungsi. Perkembangannya sangat cepat,” ujarnya.

Meski demikian, Sucipta tetap menggarap sawah yang tersisa. Lahan yang ia kelola sendiri tidaklah luas, hanya sekitar 50 are. Pada musim tanam kali ini ia menanam varietas padi Inpari 32.

Hasilnya cukup menggembirakan. Berdasarkan ubinan yang dilakukan pada 13 Maret lalu, produksi mencapai 3,775 kilogram dari petak ubinan. Jika dikonversi, produktivitasnya setara sekitar 6,1 ton per hektare gabah kering panen (GKP).

Di tengah keterbatasan lahan, semangat bertani para petani di Subak Kedampang masih terjaga. Pendampingan dari penyuluh pertanian juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas di wilayah yang tekanan alih fungsi lahannya cukup tinggi.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kuta Utara, Ketut Alit Sabda Utama, SP., mengatakan pihaknya tetap berupaya mendampingi petani agar produksi tetap optimal.

“Walaupun tekanan alih fungsi lahan cukup besar, kami tetap semangat mendampingi petani di wilayah binaan,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan petani yang masih bertahan di kawasan pariwisata memiliki arti penting, tidak hanya untuk menjaga produksi pangan, tetapi juga mempertahankan sistem subak yang menjadi bagian dari warisan budaya Bali.

Di sisi lain, dedikasi Sucipta dalam menjaga subak juga mendapat kepercayaan dari para krama subak. Ia kembali didaulat untuk memimpin Subak Kedampang pada periode berikutnya.

Bagi Sucipta, kepercayaan tersebut merupakan amanah untuk tetap menjaga sawah yang tersisa di tengah pesatnya pembangunan di kawasan Kuta Utara.

“Selama masih ada sawah yang tersisa, kami akan tetap bertani. Subak ini bukan hanya soal padi, tapi juga warisan yang harus dijaga,” tegasnya.(JIkWid)

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0