“Sekali Tanam, Tetap Mandiri”

Sekali tanam dalam setahun, tapi cukup untuk bertahan. Di Subak Balebandung, Desa Kayuputih, Buleleng, keterbatasan air tak membuat petani menyerah. Justru dari satu musim itulah, mereka menjaga kemandirian pangan keluarga.

Mar 29, 2026 - 06:10
 0  40
“Sekali Tanam, Tetap Mandiri”

 “Sekali Tanam, Tetap Mandiri”

Subak Balebandung di Buleleng bertahan di tengah krisis air, panen cukup untuk kebutuhan keluarga

Air tak selalu datang, tapi padi tetap tumbuh. Di Subak Balebandung, Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, petani hanya mengandalkan satu musim tanam dalam setahun. Keterbatasan air menjadi tantangan utama. Namun dari satu musim itulah, mereka memastikan dapur tetap ngebul sepanjang tahun.

Hamparan sawah seluas 33 hektare itu digarap oleh 73 anggota subak. Tak luas jika dibandingkan kawasan sentra produksi lain. Namun, di lahan inilah kearifan lokal Bali tetap hidup—menjaga keseimbangan antara kebutuhan, alam, dan kebersamaan.

Kelian Subak Balebandung, I Wayan Sumartika, memahami betul ritme yang harus dijalani para petani. Air menjadi penentu segalanya. Ketika pasokan terbatas, pilihan pun tak banyak.

“Di sini memang hanya satu kali musim tanam. Kendalanya air. Tapi rata-rata hasil masih bisa sekitar 6 ton per hektare,” ujarnya.

Angka itu mungkin tidak spektakuler. Namun bagi petani di Subak Balebandung, hasil tersebut sudah lebih dari cukup. Sebab, orientasi mereka bukan semata produksi untuk pasar, melainkan untuk memastikan kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi.

Musim tanam kali ini, varietas padi Ciherang kembali menjadi pilihan utama. Selain dikenal produktif, varietas ini juga cocok dengan kondisi lahan setempat dan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian.

Di sinilah letak perbedaan mendasar. Ketika sebagian besar petani mulai berpikir tentang harga gabah dan peluang pasar, petani Subak Balebandung justru memulai dari kebutuhan paling dasar: makan.

Hasil panen tidak serta-merta dijual. Sebagian besar disimpan sebagai cadangan pangan keluarga. Jika kebutuhan sudah tercukupi, barulah sisanya dilepas ke pasar.

“Bagi kami, hasil sawah ini yang utama untuk makan keluarga. Kalau kebutuhan sudah cukup, baru sisanya bisa dijual. Ini cara kami menjaga agar tetap mandiri dan tidak kekurangan pangan,” tutur salah satu petani.

Cara pandang ini mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah ancaman krisis pangan global dan ketidakpastian iklim, pola seperti inilah yang justru menjadi fondasi ketahanan pangan yang sesungguhnya.

Subak Balebandung membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak harus dimulai dari skala besar atau teknologi canggih. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan menyimpan, dari disiplin mengatur hasil, dan dari kesadaran kolektif untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pasar.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Selat dan Desa Kayuputih, I Dewa Nyoman Darmayasa, SP., MP., melihat potensi besar dari subak ini. Menurutnya, kekuatan utama Subak Balebandung bukan hanya pada hasil panen, tetapi pada soliditas anggotanya.

“Kami melihat Subak Balebandung sangat kuat dari sisi kebersamaan dan kearifan lokalnya. Tinggal diperkuat dari sisi teknis budidaya, sehingga hasilnya tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan,” jelasnya.

Penguatan teknis yang dimaksud mencakup berbagai aspek. Mulai dari pengelolaan air yang lebih efisien, pemilihan varietas yang adaptif, hingga penggunaan pupuk yang tepat guna. Dengan sentuhan teknologi yang sesuai, produktivitas masih bisa ditingkatkan tanpa harus mengubah karakter dasar subak.

Di sisi lain, tantangan ke depan tidak ringan. Perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pun kian tertekan. Jika tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin frekuensi tanam akan semakin berkurang.

Namun, di tengah segala keterbatasan itu, optimisme tetap tumbuh di pematang sawah Subak Balebandung. Para petani telah terbiasa hidup berdampingan dengan kondisi alam yang tidak selalu ramah. Mereka tidak melawan, tetapi menyesuaikan diri.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sebenarnya.

Bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak yang diproduksi, tetapi bagaimana hasil itu dikelola. Bahwa kemandirian tidak selalu berarti surplus, tetapi cukup. Cukup untuk keluarga, cukup untuk bertahan.

Di Subak Balebandung, filosofi itu tidak diajarkan di ruang kelas. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Dalam keputusan untuk menyimpan, bukan menjual. Dalam kesepakatan untuk tetap bersama, meski hasil tak selalu melimpah.

Dari sawah-sawah kecil di utara Bali ini, sebuah pelajaran sederhana kembali ditegaskan: ketahanan pangan sejatinya tumbuh dari akar—dari petani, dari keluarga, dan dari kearifan yang terus dijaga.

Sekali tanam, memang. Tapi cukup untuk setahun.

Koresponde: Dewa Darmayasa

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0