“Di Halaman BPP, Cinta Pertanian Itu Tumbuh”
Tawa dan langkah kecil anak-anak SD 2 Selat memenuhi halaman BPP Klungkung. Tangan-tangan mungil itu terlihat tak sabar ingin menyentuh tanah, sementara mata mereka berbinar menunggu giliran mencoba menanam bibit. Mereka datang bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai pelajar kecil yang ingin tahu dari mana makanan di meja makan mereka berasal.
“Di Halaman BPP, Cinta Pertanian Itu Tumbuh”
Sejumlah 25 murid SD 2 Selat, Desa Selat, Kecamatan Klungkung, pekan lalu memenuhi halaman Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Klungkung bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai pelajar kecil yang haus tahu. Kedatangan mereka sederhana, ingin menyentuh tanah, melihat bibit, dan belajar bagaimana menumbuhkan sesuatu dari tanah ke meja makan.
Kunjungan itu disambut hangat oleh koordinator penyuluh dan seluruh jajaran BPP. Kedatangan anak-anak ke BPP Klungkung dimaksudkan untuk mengenal pertanian sejak dini. Agar mereka ikut merasa bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya. Dari rasa ingin tahu yang polos, perlahan berubah menjadi kecintaan kecil pada dunia pertanian.
Di sini para siswa tidak hanya mendengar teori, tetapi diajak meraba dan mengamati langsung. Mengenali jenis-jenis tanah, memahami peran kompos sebagai “makanan” tanaman, serta mencoba campuran sekam atau cocopeat untuk memperbaiki media tanam. Pembelajaran yang bersifat sensorik dan praktis membuat konsep abstrak menjadi nyata bagi anak-anak, sekaligus menumbuhkan kepedulian, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk merawat tanaman sendiri di rumah.
I Nyoman Wira Sucipta, SP. dengan postur tubuh yang tambun dan kekar, terlihat begitu luwes memandu anak-anak selama kegiatan. Meski fisiknya besar, caranya menjelaskan justru penuh keriangan dan kelucuan, membuat anak-anak tertawa setiap kali ia memperagakan cara menggenggam tanah atau menancapkan bibit dengan gaya yang dibuat dramatis.
Suaranya yang lantang namun ramah membuat anak-anak nyaman mendekat, tak sungkan bertanya atau meminta ulang demonstrasi. Di balik tubuhnya yang kekar, tersimpan ketulusan seorang penyuluh yang dengan sabar menuntun generasi kecil mengenal dunia pertanian dengan cara yang menyenangkan.
Penjelasan teori diberikan secara sederhana dan bergantian oleh penyuluh, lalu diperagakan langkah demi langkah sehingga anak-anak mudah mengikuti, bagaimana menempatkan bibit pada posisi yang tepat, hingga teknik menutup akar agar tidak rusak.
Seusai demonstrasi singkat di halaman BPP, kegiatan dilanjutkan praktik langsung. anak-anak bergantian meraba tekstur tanah, menanam bibit, dan mempraktikkan penyiraman dengan takaran yang benar serta pemupukan sederhana yang ramah lingkungan. Suasana belajar yang interaktif diselingi tanya jawab dan canda ringan membuat materi terasa hidup dan mendorong siswa untuk mencoba berkebun mandiri di rumah.
“Kedatangan anak-anak ke BPP Klungkung ini bertujuan agar mereka mengenal pertanian sejak dini. Kami ingin mereka memahami dari mana makanan berasal dan menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan. Melalui praktik langsung, anak-anak bisa belajar sambil bermain,” tutur Guru pendamping Ni Luh Ketut Juli Hendra Mahayani.
Sesi praktik berlangsung hangat dan penuh keceriaan. Murid-murid duduk rapi, mata mereka berbinar saat penyuluh mempraktikkan langkah demi langkah menanam bibit dari menggemburkan tanah, menakar media tanam, hingga menutup akar dengan lembut. Beberapa anak berebut ingin mencoba menancapkan bibit, terlihat tangan tangan kecil yang berhati-hati namun penuh antusiasme.
“Senang sekali bisa belajar menanam langsung. Ternyata tanah ada macam-macam dan menanam harus hati-hati. Sekarang saya ingin menanam di rumah,” kata salah satu murid sambil tersenyum, disambut tawa ringan teman-temannya dan pujian dari penyuluh yang menyebut rasa penasaran anak-anak itu sebagai modal penting untuk menumbuhkan kecintaan pada pertanian.
I Wayan Wiyasa menambahkan bahwa, Kami di BPP Klungkung sangat bangga dan senang hati menerima kunjungan anak-anak SD 2 Selat. Melihat antusias mereka belajar tentang pertanian membuat kami merasa upaya edukasi sejak dini ini sangat penting. “Kami berharap pengalaman ini bisa menanamkan kecintaan mereka terhadap dunia pertanian dan lingkungan sejak dini.” harap Wiyasa.
Kegiatan edukasi ini dinilai tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan kesadaran lingkungan. Kepala sekolah serta guru pendamping berharap program serupa rutin digelar supaya generasi muda lebih memahami proses produksi pangan sejak usia sekolah dasar.
Koresponden Anom Wijaya DPD Perhiptani Klungkung
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0