“Inpago 13 Fortiz Teruji di Subak Ubung, Panen 9,3 Ton/Ha”
Petani Subak Ubung, Denpasar, memanen demplot padi gogo varietas Inpago 13 Fortiz dengan hasil menggembirakan. Inovasi pertanian di tengah keterbatasan air, padi yang mereka rawat dengan penuh harap kini membuahkan hasil manis. Hasil ubinan menunjukkan capaian luar biasa, 7,16 kilogram gabah per ubinan, setara dengan 9,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare.
“Inpago 13 Fortiz Teruji di Subak Ubung, Panen 9,3 Ton/Ha”
Rabu (15/10) pagi, petani Subak Ubung, Denpasar, merayakan demplot padi gogo varietas Inpago 13 Fortiz dengan hasil yang menggembirakan. Inovasi pertanian di tengah keterbatasan udara, padi yang mereka rawat dengan penuh harap kini menghasilkan hasil yang manis.
Di tengah keterbatasan udara dan rusaknya saluran irigasi, padi gogo ini justru tumbuh subur di lahan kering. Hasil ubinan menunjukkan capaian luar biasa, 7,16 kilogram gabah per ubinan, setara dengan 9,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Angka yang membuat para petani Subak Ubung tersenyum lega, sekaligus menegaskan bahwa teknologi pertanian modern mampu menjadi solusi nyata bagi ketahanan pangan di perkotaan.
Kegiatan yang dilakukan Dinas Pertanian Kota Denpasar bekerja sama dengan Balai Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali ini bukan sekadar panen hasil, namun juga panen semangat baru untuk beradaptasi, berinovasi, dan bangkit melawan tantangan pertanian di era perubahan iklim.
Plt. Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Denpasar, I Gusti Ayu Ngurah Anggreni Suwari, SP, M.Si., menjelaskan bahwa program demplot ini merupakan langkah awal penerapan Varietas Unggul Baru (VUB) di lahan seluas 4 hektare, termasuk 50 are yang ditanami Inpago 13 Fortiz.
“Kegiatan ini kami jadikan percontohan bagi petani, agar mereka bisa melihat langsung bagaimana teknik budidaya padi gogo yang efektif diterapkan di kondisi lahan kering. Kami ingin memberdayakan petani agar lebih adaptif terhadap kekeringan akibat dari fungsi lahan dan rusaknya irigasi,” ujarnya.
Suwari menambahkan, keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa pertanian Denpasar mampu berkembang meski di tengah keterbatasan udara, asalkan petani mau mengadopsi teknologi dan inovasi yang tepat.
“Padi gogo seperti Inpago 13 Fortiz ini tidak hanya menghemat udara, tetapi juga berpotensi menghasilkan hasil tinggi. Ini jawaban atas tantangan pertanian perkotaan yang semakin kompleks,” tambahnya dengan nada optimis.
Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kota Denpasar, Sagung Ayu Nyoman Aryawati, SP., MP., dari Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, turut memberikan apresiasi atas semangat para petani Subak Ubung yang mau berinovasi dan terbuka terhadap teknologi baru. Menurutnya, penerapan padi gogo Inpago 13 Fortiz merupakan bagian penting dari strategi percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) serta langkah nyata menuju pertanian modern dan efisien udara di wilayah perkotaan.
Ketua DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kota Denpasar, Luh Ketut Ayu Sukarmi, SP, turut memberikan apresiasi atas keberhasilan demplot Inpago 13.
Ia menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam meredam petani menghadapi kendala di lapangan, termasuk serangan hama.
“Penyuluh bukan hanya sekedar penghubung teknologi, tapi juga pendamping yang membantu petani mencari solusi nyata. Kita harus bergerak bersama agar produktivitas pertanian tetap meningkat meski di tengah tantangan,” tegasnya.
Sementara itu, Pekaseh Subak Ubung, I Dewa Gede Suma Putra, SE., mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas keberhasilan panen perdana demplot padi gogo varietas Inpago 13 Fortiz. Ia menyebut, hasil yang diperoleh jauh melebihi ekspektasi petani, terutama mengingat kondisi lahan yang minim udara dan sistem irigasi yang kerap bermasalah.
Kegiatan panen demplot padi gogo varietas Inpago 13 Fortiz di Subak Ubung, tak hanya menjadi ajang panen. Kegiatan ini juga menjadi simbol keberhasilan sinergi lintas lembaga dalam mendorong modernisasi pertanian di tengah keterbatasan sumber daya alam.
Turut hadir dalam kegiatan panen tersebut perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Bali, Kodim 1611/Badung, serta Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan se-Kota Denpasar.
Kehadiran para Pekaseh Subak Srosogan, Pakel II, Kerdung, dan Buaji, serta penyuluh pertanian dari BRMP dan Dinas Pertanian Kota Denpasar, bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), turut memperkuat semangat kolaborasi di lapangan. Momen ini menegaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya lahir dari teknologi, tetapi juga dari kerja sama, semangat gotong royong, dan tekad petani untuk terus berinovasi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0