Distan-Penyuluh Kompak, BIOYOSO Diterjunkan Lawan Hama Tikus
Serangan hama tikus yang mencapai 331 hektare di Kabupaten Gianyar mendorong Dinas Pertanian bersama penyuluh dan petani subak bergerak cepat. Melalui pelatihan tematik BIOYOSO, petani diperkenalkan inovasi pengendalian tikus yang diharapkan mampu menekan kerugian dan menjaga produktivitas padi.
Distan-Penyuluh Kompak, BIOYOSO Diterjunkan Lawan Hama Tikus
Serangan hama tikus masih menjadi ancaman serius bagi petani padi di Kabupaten Gianyar. Hama ini menyerang hampir seluruh fase pertumbuhan tanaman, mulai persemaian, fase vegetatif, hingga menjelang panen. Akibatnya, tanaman rusak, rebah, bahkan mengalami penurunan produksi yang berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Data Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Gianyar tahun 2025 mencatat luas serangan hama tikus mencapai 331 hektare. Meski belum menyebabkan puso, kondisi tersebut telah menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani di sejumlah wilayah sentra padi.
Berangkat dari kondisi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar bersama jajaran penyuluh pertanian mulai memperkenalkan inovasi pengendalian hama tikus berbasis BIOYOSO kepada petani. Inovasi tersebut dikenalkan melalui kegiatan pelatihan tematik yang digelar di Wantilan Pura Bukit Jati, Kelurahan Samplangan, Kecamatan Gianyar, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Tim Kerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Gianyar, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gianyar dan Blahbatuh. Pelatihan diikuti perwakilan pekaseh dan petani subak sawah se-Kecamatan Gianyar yang diproyeksikan menjadi pionir penerapan BIOYOSO di wilayah masing-masing.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, I Wayan Suarta, S.Sn., M.Si., hadir langsung membuka kegiatan tersebut. Turut hadir Kepala Bidang Penyuluhan I Wayan Sudirka, S.Pt., Katimker Penyuluhan I Made Geben, SP., koordinator BPP, serta para penyuluh pertanian lapangan.
Dalam pemaparannya, BIOYOSO diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengendalian hama tikus yang bekerja melalui aroma atau kandungan tertentu yang tidak disukai tikus. Aplikasi dilakukan dengan penyemprotan pada pematang sawah, jalur lintasan tikus, lubang sarang, hingga area pertanaman yang rawan serangan.
Penggunaan BIOYOSO dinilai lebih efektif apabila dilakukan sejak awal munculnya gejala serangan dan diaplikasikan secara rutin, terutama pada sore hari saat aktivitas tikus mulai meningkat.
Pekaseh Subak Bakbakan, I Made Darma Yoga, menyambut baik pengenalan inovasi BIOYOSO sebagai salah satu upaya pengendalian hama tikus di lahan sawah. Menurutnya, serangan tikus selama ini menjadi persoalan serius yang merugikan petani.
“Petani sangat membutuhkan inovasi pengendalian yang praktis dan efektif. Kami berharap BIOYOSO bisa menjadi solusi tambahan untuk menekan populasi tikus di sawah, terutama jika dilakukan serempak oleh seluruh petani subak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Pekaseh Subak Delodsema, Desa Tulikup, I Gusti Ngurah Sumerdana. Menurutnya, pengendalian tikus harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan karena serangan hama sering berpindah dari satu hamparan sawah ke lokasi lainnya.
“Kami mengapresiasi Dinas Pertanian dan jajaran penyuluh yang terus hadir mendampingi petani. Melalui pelatihan seperti ini, petani mendapat pengetahuan baru tentang cara pengendalian yang lebih efektif dan mudah diterapkan di lapangan,” katanya.
Selain praktis, penggunaan BIOYOSO juga diharapkan mampu menekan aktivitas tikus tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Dengan pengendalian yang dilakukan secara serempak dan berkelanjutan, produktivitas padi di Kabupaten Gianyar diharapkan tetap terjaga.
Korespoden: Jaya Mahendra
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
13
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0