Penyuluh Payangan–Mahasiswa Prancis Bongkar Serangan Gemini
Serangan virus gemini pada tanaman cabai di Banjar Margatengah, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar menunjukkan tren mengkhawatirkan. Penyuluh Pertanian BPP Payangan bersama tim Universitas Udayana (UNUD) dan mahasiswa asal Prancis turun langsung melakukan pengamatan dan pengambilan sampel di lahan petani.
Penyuluh Payangan–Mahasiswa Prancis Bongkar Serangan Gemini
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut permintaan tim UNUD yang melibatkan penyuluh Pertanian BPP Payangan Gianyar sebagai pendamping utama di lapangan. Desa Kerta sendiri merupakan wilayah binaan penyuluh I Made Adi Suryadi, S.P.
Pengamatan dilakukan di lahan cabai milik Made Budikardika seluas 1,5 hektare. Lahan tersebut ditanami cabai jenis Sret dan Syphoon yang ditumpangsarikan dengan tanaman jeruk.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, M.P. dari UNUD bersama Romane Bouvier, mahasiswa asal Prancis dari L’Institut Agro Rennes-Angers.
Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan tingkat ketahanan antar varietas. Cabai Sret tercatat mengalami serangan cukup tinggi, yakni lebih dari 70 persen tanaman terdampak. Sementara cabai Syphoon relatif lebih tahan, dengan tingkat serangan hanya sekitar 0,5 hingga 1 persen.
Virus gemini selama ini dikenal sebagai momok bagi petani cabai. Gejala serangan ditandai daun menguning, pertumbuhan kerdil, hingga rontoknya bunga yang berujung pada gagal pembentukan buah.
“Virus gemini merupakan penyakit utama cabai yang penyebarannya sangat cepat melalui kutu kebul. Tanaman yang sudah terinfeksi belum dapat disembuhkan, sehingga pengendalian harus difokuskan pada pencegahan dan eradikasi,” jelas Prof. I Gede Rai Maya Temaja.
Di lapangan, petani selama ini mengandalkan penyemprotan untuk menekan populasi kutu kebul sebagai vektor. Namun, untuk tanaman yang sudah terinfeksi, langkah yang bisa dilakukan hanya eradikasi. Pada kondisi ringan, petani juga mencoba menambahkan unsur magnesium untuk membantu menjaga kondisi tanaman.
Penyuluh pertanian setempat terus melakukan pendampingan intensif kepada petani. “Kami mendorong pengendalian sejak dini, terutama pengendalian vektor dan pemusnahan tanaman terinfeksi agar tidak meluas,” ujar I Made Adi Suryadi.
Dari sisi budidaya, cabai Sret masih menjadi pilihan utama petani karena ukuran buah lebih besar, bobot lebih berat, serta harga jual lebih tinggi, dengan selisih mencapai Rp5 ribu hingga dua kali lipat dibandingkan Syphoon. Namun, varietas ini terbukti lebih rentan terhadap serangan virus gemini.
Sebaliknya, cabai Syphoon dinilai lebih tahan terhadap virus, meski memiliki kelemahan pada ukuran buah yang lebih kecil dan waktu panen yang lebih lama.
Sementara itu, Romane Bouvier mengaku terkesan dengan sinergi di lapangan. “Kolaborasi antara penyuluh dan akademisi sangat kuat. Pendekatan ini penting untuk menghadapi penyakit tanaman secara efektif,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, tim UNUD bersama penyuluh telah mengumpulkan sampel tanaman terinfeksi serta vektor kutu kebul untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Hasil kajian tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi teknologi pengendalian yang lebih efektif ke depan.
Koresponden: Adi Suryadi
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0