Jagung Primadona Baru Desa Bakas

Jul 21, 2025 - 13:21
Aug 10, 2025 - 13:41
 0  9
Jagung Primadona Baru Desa Bakas

Jagung, kini menjadi primadona baru di Desa Bakas. Pasalnya, tanaman Jagung merupakan komoditi bisnis yang menggiurkan. Pasarnya terjamin dan menguntungkan. Proses budidayanya pun mudah, tidak sesulit komoditas lain.  Karena dapat ditanam di lahan kering.

Selama bertahun-tahun, Banjarangkan dikenal sebagai sentra padi di Kabupaten Klungkung. Namun, tiga tahun terakhir ini, semuanya mulai berubah, terutama di kawasan Subak Dlod Bakas. Salah seorang petani, I Wayan Ratayasa, usai menanam padi di musim tanam pertama, kini membudidayakan jagung komposit, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak. Di balik kesuksesan para petani, ada peran penting penyuluh pertanian yang terus mendampingi dan memberikan motivasi.

Penyuluh pertanian tidak hanya memberikan teori, tetapi mereka hadir langsung di lapangan. Mereka yang memperkenalkan metode budidaya baru yang lebih efisien. Tanpa olah tanah dan tanpa pembubunan. Metode ini dirancang untuk mengurangi biaya dan tenaga kerja. Tetapi, tetap menghasilkan panen yang melimpah. Siapa sangka, pendekatan ini membuahkan hasil yang luar biasa. Di daerah yang rata-rata produksi jagungnya hanya sekitar 5,4 ton per hektar pipil kering panen, I Wayan Ratayasa berhasil mencapai 9,7 ton per hektar pipil kering panen.

I Wayan Ratayasa, yang kerap disapa Pan Yasa, sejak tiga tahun belakangan ini, selalu tanam jagung. Padi jagung padi jagung setiap tahunnya. “Saya belum berhenti menanam jagung, karena keuntungan dari penjualan jagung lumayan bagus di sini. Harga jual jagung perkilonya cukup tinggi, pasarnya gak susah. Menanam jagung juga tidak susah, biaya untuk pupuk ringan, hasilnya memuaskan,” tutur Pan Yasa.

Ia pun mengaku, kesuksesan yang diraihnya selama ini berkat bimbingan penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian drh. Ni Ketut Subudhiasri tidak hanya datang, berbicara, lalu pergi. Mereka membimbing para petani Di Subak Dlod Bakas dari awal hingga akhir musim tanam. Mulai dari pemilihan benih yang tepat, penggunaan pupuk yang efisien, hingga teknik tanam yang lebih ramah lingkungan, semua didampingi oleh para penyuluh. Mereka juga yang mendorong petani untuk berani mencoba hal baru. Misalnya, penyuluh menyarankan penggunaan benih jagung hibrida Pertiwi 6 yang terbukti mampu memberikan hasil panen yang jauh lebih tinggi dibanding benih komposit lokal. Dengan dukungan teknologi tepat guna yang diperkenalkan penyuluh, produksi Ratayasa melonjak jauh melampaui rata-rata daerah. Mari coba kita rinci keuntungan yang diperoleh:

  • Pupuk        : 5 zak x Rp.135.000 = Rp 675.000
  • Benih         : 20 Kg x 25.000 = Rp 500.000
  • Herbisida  : Rp 200.000
  • Biaya Tenaga Kerja (diperhitungkan) 12 OH x Rp.80.000 = Rp. 960.000
  • Hasil panen : 9,7 ton/ha. Pipil kering panen, Karena Ratayasa membudidayakan 0,85 hektar, total produksinya adalah: 9,7 ton/ha x 0,85 ha = 8,245 ton (atau 8.245 kg).pipil kering panen.
  • Pendapatan Karena dijual pipil kering setelah dikonversi menjadi 4.100 kg x Rp 5.000/kg = Rp 20.500.000.
  • Keuntungan bersih (tanpa biaya lain): Rp 20.500.000 - Rp 2.335.000 (total biaya) = Rp 18.165.000

Sumber data dari wawancara petani I Wayan Ratayasa

Cukup besar bukan ? Dan jangan lupa, itu semua berkat kombinasi usaha keras petani dan bimbingan penyuluh pertanian yang tak kenal lelah. Bukan hanya petani seperti I Wayan Ratayasa yang diuntungkan, tetapi juga seluruh komunitas petani di Banjarangkan. Penyuluh pertanian telah membantu mengubah pola pikir Petani di daerah ini, membuka jalan bagi diversifikasi tanaman dan peningkatan pendapatan. Dari sekadar menanam padi, kini jagung komposit mulai menjadi primadona baru.

Jadi, saat Anda melewati Banjarangkan dan melihat batang-batang jagung tinggi yang bergoyang tertiup angin, ingatlah bahwa di balik panen melimpah itu, ada dukungan penyuluh pertanian yang tak kenal lelah mendampingi petani. Mereka bukan hanya sekadar pembimbing, tetapi juga mitra sejati para petani dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Senyum sumringah I Wayan Ratayasa saat menghitung keuntungan panennya juga tak lepas dari peran besar para penyuluh ini.

Dapat disimpulkan bahwa jagung merupakan industri potensial untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan perbaikan ekonomoi daerah. Dengan komitmen pengetahuan dan pengelolaan yang baik, petani memiliki potensi untuk meraih kesuksesan dan memperoleh keuntungan yang berkelanjutan.

Pewarta : Arya Adnyana

Editor  : dewiguce 

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0