“Janji Sang Doktor Penyuluhan, di Hadapan Penyuluh se-Bali”
Di hadapan ratusan penyuluh pertanian se-Bali, seorang akademisi suaranya bergetar, bukan karena gugup, tapi karena ketulusan yang lahir dari hati. Ia tak sekadar hadir untuk menilai, melainkan berjanji, mendedikasikan ilmu dan hidupnya bagi penyuluhan dan kemajuan petani Bali.
“Janji Sang Dokter Penyuluhan, di Hadapan Penyuluh se-Bali”
Suasana Ruang Rapat Sabha Utama I Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, siang itu, terasa berbeda.
Bukan hanya karena acara puncak penentuan tiga finalis Penyuluh Pertanian Berprestasi versi Perhiptani Bali, namun karena kehadiran sosok yang sudah lama dikenal dekat dengan dunia penyuluhan, Dr. I Gde Setiawan Adi Putra, SP, M.Si.
Akademisi sekaligus dosen bidang Penyuluhan Pertanian dari Universitas Udayana hadir bukan sekedar sebagai dewan juri, melainkan juga sebagai roh penyuluhan yang memancarkan semangat baru di tengah para penyuluh.
Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, ia membuka arahannya dengan satu kalimat yang membuat ruangan hening seketika.
“Saya tidak datang untuk menilai, tapi untuk belajar dari teman-teman semua. Karena bagi saya, penyuluh itu bukan sekadar profesi tapi panggilan hidup,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang.
Janji di Ruang Sabha Utama
Di hadapan ratusan penyuluh yang tergabung dalam organisasi profesi Perhiptani Bali, Setiawan kemudian berjanji. Janji yang bukan sekedar formalitas, melainkan ikrar pribadi seorang akademisi untuk terus mengabdi pada bidang yang besarnya.
“Pak Arya, Saya berjanji akan terus mendedikasikan kemampuan dan pengetahuan saya untuk kemajuan penyuluhan di Bali,” katanya mantap.
Tiba-tiba ruangan bergetar oleh tepuk tangan.
Beberapa penyuluh bahkan tampak mengangguk penuh haru seolah menemukan cermin dari pengabdian mereka sendiri dalam sosok sang doktor.
“Kabar baiklah, saya dengar penyuluh pertanian akan menjadi satu dalam satu komando. Saya siap mengabdi!” menambahkan penuh keyakinan.
Ia melanjutkan dengan senyuman yang menghangatkan ruangan.
“Penyuluh itu pekerjaan mulia, sama seperti guru, sama seperti dosen,” katanya. "Selain dapat gaji, juga dapat pahala. Saya akan senang menemani teman-teman, karena PPL itu bagian dari hidup saya. S1 saya penyuluhan, S2 saya penyuluhan, dan S3 saya pun penyuluhan. Jadi kalau teman-teman lanjut studi, nanti kita ketemu lagi."
Tawa dan tepuk tangan kembali pecah. Pada hari itu, lahir bukanlah sekedar komitmen, melainkan gerakan moral seorang ilmuwan untuk menyatukan ilmu dan pengabdian.
Lahir dan besar di Buleleng, Setiawan tumbuh di tengah kehidupan petani yang sederhana namun sarat nilai. Sejak menempuh studi S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, ia sudah terpikat di dunia yang menghubungkan ilmu dengan kesejahteraan rakyat.
Langkahnya berlanjut ke Institut Pertanian Bogor (IPB), tempat ia menyelesaikan S2 dan S3 di bidang yang sama. Di kampus ini pula, ia bertemu dengan sosok inspiratif, Dr. Alit Artha Wiguna, yang memperkuat penolakan bahwa penyuluhan sejati harus berpihak pada masyarakat, bukan hanya teori.
Di sela-sela kesibukan belajar, Setiawan menekuni hobi tenis meja . Berawal dari aktivitas ringan untuk mengisi waktu, kini olahraga itu justru membawa prestasi. Ia sempat menjajaki berbagai turnamen dan bahkan dikenal sebagai pemain tak terpecahkan se-Kota Bogor . Kini, ia kembali asyik bet-nya di Bali dan meraih juara di berbagai ajang, termasuk tingkat provinsi .
Dari Simantri hingga Kearifan Lokal
Setiawan bukan tipe pengajar yang beta di balik meja. Ia turun langsung mendampingi kelompok Simantri di Singaraja, mengembangkan konsep integrasi pertanian, peternakan, edukasi, dan wisata pertanian. Melalui tangannya, lahan pertanian disulap menjadi ruang belajar terbuka tempat siswa belajar menanam, wisatawan menikmati alam, dan warga mendapat nilai ekonomi baru dari bunga matahari serta minyak biji matahari untuk produk spa alami.
Dalam penelitiannya, Setiawan mengungkap nilai kearifan lokal (indigenous knowledge) dalam sistem pertanian Bali. Ia menyoroti lelakut (orang-orangan sawah) dan pindekan (baling-baling bambu) sebagai bukti kecerdasan ekologis leluhur.
“Lelakut terbaik adalah yang memakai baju bekas petani,” katanya. “Bau keringat manusia bisa tercium serangga hingga dua kilometer membuat mereka enggan mendekat.”
Sementara pindekan menghasilkan bunyi khas yang mampu menangkap komunikasi koloni serangga, sehingga lahan tetap terlindung secara alami.
“Kalau kita mau belajar dari alam dan leluhur,” katanya, “Bali sebenarnya sudah punya sistem pertanian berkelanjutan sejak dulu.”
Pesan untuk Para Penyuluh
Menjelang akhir acara, suasana di ruang Sabha Utama berubah menjadi lebih hangat. Para penyuluh yang semula tegang kini tersenyum lega. Setiawan berdiri lagi bukan sebagai juri, tapi sebagai sahabat seperjuangan.
“Menjadi penyuluh itu tidak mudah.Tapi di situlah kemuliaannya,” katanya lembut.
"Penyuluh adalah orang yang menggerakkan perubahan tanpa harus terlihat di panggung. Keringatnya mungkin tak selalu dipuji, tapi hasilnya dirasakan banyak orang."
Kalimat itu membuat banyak kepala menunduk.
Beberapa mata tampak berkaca-kaca. Di hadapan mereka, bukan hanya seorang doktor yang berbicara tetapi seorang rekan yang memahami perjuangan.
“Saya percaya, masa depan pertanian Bali ada di tangan para penyuluh,” katanya sambil menutup. “Karena kalian bukan hanya membawa ilmu, tapi juga harapan.”
Tepuk tangan kembali menggema.
Hari itu, di puncak acara dianugerahi Perhiptani Bali, janji seorang doktor penyuluhan menjadi lebih dari sekedar ucapan ia menjelma menjadi inspirasi. Sebuah pengingat bahwa penyuluhan bukan sekedar tugas, tapi pengabdian yang menyuburkan kehidupan. (OmwiD)
What's Your Reaction?
Like
8
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0