PERHIPTANI BALI Bedah Kredit Karbon Jadi Harapan Baru Petani

Topik itu dibedah dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Adopsi Teknologi Peternakan dan Mitigasi Metoda Penyuluhan yang Tepat Emisi Karbon (Gas Metan) serta Peran Penyuluh dalam Pendampingan Proses Perdagangan Karbon”. Isu yang terdengar teknis ini sejatinya sederhana: bagaimana petani bisa tetap menanam padi, menjaga lingkungan, sekaligus memperoleh penghasilan tambahan dari praktik berkelanjutan.

Aug 30, 2025 - 18:32
Aug 30, 2025 - 18:55
 0  33
PERHIPTANI BALI Bedah Kredit Karbon Jadi Harapan Baru Petani

PERHIPTANI BALI Bedah Kredit Karbon Jadi Harapan Baru Petani

"Dari Sawah Bali Menuju Pasar Global"

Suasana hijau persawahan di Desa Tua, Kecamatan Marga, Tabanan, menjadi saksi lahirnya sebuah gagasan yang bisa mengubah wajah pertanian Bali. Jumat (29/8), di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Cau Chocolates dipenuhi lebih dari 70 peserta dari berbagai kabupaten. Mereka datang bukan sekadar berdiskusi, tetapi membicarakan masa depan pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus menjanjikan nilai tambah ekonomi program kredit karbon.

Topik itu dibedah dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Adopsi Teknologi Peternakan dan Mitigasi Metoda Penyuluhan yang Tepat Emisi Karbon (Gas Metan) serta Peran Penyuluh dalam Pendampingan Proses Perdagangan Karbon”. Isu yang terdengar teknis ini sejatinya sederhana bagaimana petani bisa tetap menanam padi, menjaga lingkungan, sekaligus memperoleh penghasilan tambahan dari praktik berkelanjutan.

Menekan Metana dari Sawah

Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah irigasi berselang atau intermittent irrigation. Alih-alih membiarkan sawah tergenang sepanjang waktu, sistem ini mengatur aliran air secara periodik kering dan basah bergantian. Cara ini terbukti ampuh menekan produksi gas metana, salah satu gas rumah kaca paling berbahaya bagi iklim.

“Dengan metode ini, emisi metana dapat ditekan signifikan. Hitungan kami, bisa sampai 33 ton per musim tanam,” jelas Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., yang hadir sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa teknologi sederhana ini bukan hanya soal efisiensi air, tetapi juga bagian dari mitigasi krisis iklim global.

Peran Strategis Penyuluh

Tak bisa dipungkiri, perubahan perilaku di tingkat petani tidak bisa terjadi begitu saja. Di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi kunci. Mereka harus menjadi jembatan antara kebijakan, teknologi, dan realitas di sawah.

Sebagai pembicara utama, Prof. J. Stephen Lansing. Nama itu sudah lama melekat dengan Bali. Orang Amerika yang sejak 1980-an meneliti subak. Beliau menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem. “Keberlanjutan pertanian harus berjalan beriringan dengan peluang ekonomi baru, termasuk perdagangan karbon. Penyuluh punya peran kunci mendampingi petani dalam transformasi ini,” ujarnya.

Bagi petani, konsep kredit karbon mungkin terdengar abstrak. Namun dengan pendampingan penyuluh, konsep itu bisa diwujudkan menjadi peluang nyata: ada tambahan penghasilan dari setiap ton emisi yang berhasil ditekan.

Bagi Hasil yang Adil

Isu lain yang muncul dalam FGD adalah soal keadilan dalam distribusi manfaat. Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., menegaskan perlunya kejelasan mekanisme.

“Sistem pola bagi hasil bagi petani dan penyuluh yang melakukan pendampingan di lapangan harus dibahas secara jelas. Kita perlu SOP yang tegas agar semua pihak memperoleh manfaat secara proporsional,” ujarnya.

Ia menilai, tanpa aturan main yang adil, program ini akan sulit berkelanjutan. Petani memang aktor utama di lahan, tetapi penyuluh pun tak kalah penting dalam memastikan teknologi baru bisa diterapkan dengan benar.

Hal senada juga diungkapkan Ketua DPD Perhiptani Jembrana, I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., ketika mecermati praktek lapang dengan cara mengukur emisi karbon. program kredit karbon juga memberi manfaat bagi organisasi Perhiptani. “Program ini memperkuat peran Perhiptani sebagai fasilitator pertanian berkelanjutan sekaligus membuka peluang kerja sama dalam perdagangan karbon,” ujarnya.

Salah satu penyuluh asal BPP Pupuan, I Made Dharmika, SP., mengaku masih ada kebingungan di lapangan terkait teknis perdagangan karbon.

“Kami masih bingung, emisi karbon yang berhasil ditekan itu nanti akan dijual dalam bentuk apa? Apakah dalam bentuk sertifikat, kredit, atau ada mekanisme lain?” ujarnya.

Menurut Dharmika, kejelasan bentuk transaksi sangat penting agar penyuluh bisa memberikan pemahaman yang tepat kepada petani. “Kalau mekanismenya jelas, kami lebih mudah menjelaskan manfaatnya dan petani juga lebih yakin untuk ikut,” tambahnya.

Sawah Bali di Pasar Global

Program kredit karbon bukan hanya tentang menekan emisi. Lebih jauh, ia membuka jalan agar pertanian Bali terkoneksi dengan pasar global. Karbon yang berhasil ditekan bisa diperjualbelikan dalam skema perdagangan karbon internasional. Artinya, sawah-sawah di Bali bisa menjadi bagian dari solusi global terhadap perubahan iklim.

Kegiatan FGD ini pun menghasilkan beberapa poin penting: penyuluh diharapkan semakin memahami penerapan irigasi berselang, memperoleh keterampilan mendampingi petani, mengetahui potensi pendapatan tambahan melalui perdagangan karbon, serta merancang metode penyuluhan yang lebih efektif.

Pertanian Masa Depan

Bagi sebagian petani, gagasan kredit karbon mungkin terdengar futuristis. Namun bagi Bali—yang dikenal dengan tradisi subak, sistem pengairan sawah yang sudah diakui UNESCO—program ini terasa relevan. Subak adalah bukti bahwa pertanian dan ekosistem bisa berjalan harmonis.

Kini, harmoni itu diperluas ke panggung yang lebih besar: melawan perubahan iklim sambil membuka peluang ekonomi baru. Petani tidak lagi sekadar penghasil beras, tetapi juga “penjaga karbon” yang memberi kontribusi nyata bagi bumi.

Lewat program kredit karbon, petani tidak hanya menjadi produsen pangan, tetapi juga bagian dari solusi global melawan perubahan iklim. 

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0