Pompa Menyala, Sawah Bernafas Lagi di Gumbrih
Suara gemericik air kini kembali terdengar di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan. Setelah berbulan-bulan sawah dibiarkan kering akibat kemarau panjang, air dari pompa bantuan pemerintah akhirnya mengalir. Bersamaan dengan itu, semangat para petani pun kembali tumbuh.
Pompa Menyala, Sawah Bernafas Lagi di Gumbrih
Program pompanisasi Kementan hidupkan kembali lahan tadah hujan, menumbuhkan harapan baru bagi petani Jembrana.
Suara mesin pompa kini menjadi musik yang menenangkan bagi petani di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan. Setelah lebih dari setahun sawah mereka kering dan tak tertanami, udara akhirnya kembali mengalir.
Setahun lalu, Subak Pangkung Serangsang di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, seolah kehilangan nyawanya. Kemarau panjang membuat lahan pertanian kering kerontang. Tanah merekah seperti kaca pecah, dan Indeks Pertanaman (IP) padi anjlok hingga nol. “Waktu itu sawah seperti mati suri,” kenang seorang petani setempat.
Namun, keadaan kini berbalik. Melalui program pompanisasi dari Kementerian Pertanian (Kementan), sawah-sawah yang semula bergantung pada hujan kini kembali mendapatkan air. Bantuan pompa tersebut menjadi titik balik bagi petani Gumbrih yang sempat pasrah dengan kekeringan.
Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Jembrana, I Dewa Nyoman Darmayasa, SP., MP, menyebut program ini sebagai langkah strategi untuk mempercepat tanam dan meningkatkan produktivitas. “Sebelumnya, sawah di sini hanya bisa panen sekali dalam setahun karena bergantung pada hujan. Dengan pompanisasi, diharapkan bisa panen dua kali bahkan lebih,” jelasnya.
Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Jembrana mewujudkan kemandirian pangan. Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, BWS Bali Penida, BRMP Bali, hingga Kodim 1617 Jembrana. Semua bergerak dalam satu irama untuk menghidupkan kembali sawah-sawah yang dulu mati suri.
Penyuluh pertanian lapangan, I Made Yogi Priyadi, SP , yang mendampingi petani sejak awal, menceritakan perjuangan panjang menuju bantuan ini. “Dari penyusunan proposal, survei lokasi, hingga verifikasi lapangan, semuanya butuh waktu dan kesabaran.Tetapi ketika air pertama kali mengalir, beberapa petani sampai menitikkan air mata,” ujarnya.
Momen bantuan haru itu terjadi, saat pompa dari Kementan resmi beroperasi. Seorang petani paruh baya sempat tertegun menatap aliran air yang deras. “Aduh… akhirnya hidup lagi,” ucapnya lirih.
Kini, hamparan hijau kembali menutupi lahan yang dulu gersang. Para petani mulai menanam lagi, menatap musim baru dengan penuh keyakinan. “Kami berharap pompa bantuan ini terus dijaga dan dimanfaatkan agar sawah-sawah yang sebelumnya kering bisa produktif lagi,” kata salah satu perwakilan subak.
Air telah menjadi tanda kehidupan baru di Subak Pangkung Serangsang dan bagi para petani, itu berarti harapan untuk masa panen yang lebih baik telah benar-benar tumbuh kembali.
Koresponden DND DPD Perhiptani Jembrana
What's Your Reaction?
Like
5
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0