“Refugia, Strategi Hemat Biaya Lawan Hama”
Refugia tanaman berbunga yang berfungsi melindungi tanaman dari serangan hama dengan memanfaatkan musuh alami. Konsep ini menjadi bagian penting dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Refugia tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.
“Refugia, Strategi Hemat Biaya Lawan Hama”
Di tengah tekanan biaya produksi dan tantangan ketahanan pangan, petani kini mulai mencari cara baru untuk mengendalikan hama tanpa membebani lingkungan. Salah satu strategi yang kian banyak diterapkan di lapangan adalah refugia tanaman berbunga yang berfungsi melindungi tanaman dari serangan hama dengan memanfaatkan musuh alami.
Konsep ini menjadi bagian penting dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Berikut obrolan dengan Ir. I Wayan Kertiyasa, Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Badung, Bali, refugia tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi bagi petani.
“Refugia itu investasi jangka panjang. Ia memperkuat populasi musuh alami, menekan kebutuhan pestisida, dan otomatis mengurangi biaya usaha tani,” ujar Kertiyasa saat bertemu di sela kegiatan panen bawang merah pekan lalu di BPP Abiansemal, Badung.
Efisiensi Biaya, Dampak Langsung di Lapangan
Menurut Kertiyasa, penerapan refugia sudah diujicobakan di beberapa kelompok tani di Badung. Hasilnya, penggunaan pestisida kimia menurun hingga 40%. “Sebelumnya, petani bisa menyemprot pestisida 10 kali dalam satu musim tanam. Setelah refugia diterapkan, cukup enam kali saja, bahkan kadang kurang,” ungkapnya.
Efisiensi itu bukan hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga meningkatkan mutu hasil panen karena lebih bebas residu kimia. Petani pun lebih mudah memasarkan hasil panennya sebagai produk ramah lingkungan nilai tambah penting di tengah tren pangan sehat dan organik.
Sinergi Alam dan Produktivitas
Kertiyasa menjelaskan, prinsip dasar PHT adalah menjaga keseimbangan ekosistem. Refugia membantu menciptakan kondisi itu dengan menyediakan habitat bagi musuh alami seperti laba-laba, kepik, dan tawon parasitoid. “Musuh alami inilah yang menjaga tanaman tetap sehat. Mereka bekerja tanpa biaya tambahan, tanpa polusi, dan tanpa merusak tanah,” ujarnya.
Ia menambahkan, refugia bisa diterapkan di hampir semua komoditas dari padi hingga hortikultura. “Di sawah, refugia bisa ditanam di pematang. Untuk tanaman sayur, bisa dibuat dalam barisan atau sebagai pembatas antarbedengan. Fleksibel dan mudah diterapkan,” katanya.
Perubahan Pola Pikir Petani
Tantangan terbesar dalam penerapan refugia bukan pada teknisnya, tetapi pada perubahan mindset petani. Banyak petani masih beranggapan bahwa pengendalian hama harus instan. “Kalau dulu, begitu lihat hama langsung semprot. Sekarang kami edukasi, jangan dulu panik. Biarkan musuh alami bekerja,” tutur Kertiyasa.
Penyuluh pertanian di Badung kini aktif melakukan pendampingan dan demplot agar petani melihat bukti langsung. Setelah hasil terlihat, penerimaan meningkat pesat. “Begitu mereka lihat tanaman tetap sehat tanpa banyak pestisida, mereka percaya,” ujarnya.
Arah Pertanian Masa Depan
Refugia kini menjadi bagian dari strategi dalam mewujudkan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan di Bali. Selain menjaga ekosistem, pendekatan ini juga sejalan dengan program smart farming berbasis efisiensi biaya dan konservasi sumber daya alam. “Kami ingin pertanian Bali tetap produktif tapi tidak merusak. Refugia menjadi jembatan antara teknologi modern dan kearifan lokal. Alam sudah menyediakan solusinya, tinggal kita kelola dengan bijak,” pungkas Kertiyasa.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0