Sinergi Penyuluh–Pupuk Indonesia, Sawah Mendoyo Dibedah Data

Sawah di Mendoyo tak lagi dikelola dengan perkiraan. Penyuluh bersama PT Pupuk Indonesia turun langsung membedah kondisi tanah, memastikan setiap butir pupuk benar-benar berdampak pada panen.

Mar 5, 2026 - 00:00
 0  33
Sinergi Penyuluh–Pupuk Indonesia, Sawah Mendoyo Dibedah Data

Sinergi Penyuluh–Pupuk Indonesia, Sawah Mendoyo Dibedah Data

Pagi itu, di hamparan sawah Mendoyo, para penyuluh tak sekadar datang membawa catatan dan alat ukur. Mereka membawa kegelisahan tentang petani yang masih menebar pupuk dengan takaran kira-kira, tentang hasil panen yang belum sepenuhnya menjawab harapan.

Dari kegelisahan itulah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhiptani Jembrana bergerak. Melalui Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan, I Gede Putu Edi Setiawan, S.P., digagas uji tanah menyeluruh di wilayah kerja BPP Kecamatan Mendoyo. Menggandeng PT Pupuk Indonesia, langkah ini menjadi ikhtiar nyata agar petani tidak lagi bertumpu pada perkiraan, melainkan pada data ilmiah.

Kegiatan uji tanah tersebut dilaksanakan selama empat hari, 2–5 Maret 2026, bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Regional 3. Pengambilan sampel dilakukan di sejumlah titik yang mewakili subak-subak sawah se-Kecamatan Mendoyo. Proses ini dipimpin Azis Satria Putra bersama tim teknis dan penyuluh setempat.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan sejumlah temuan penting. Kadar C-organik di seluruh sampel tergolong rendah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kandungan bahan organik tanah masih jauh dari ideal untuk mendukung aktivitas biologi tanah dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Kandungan nitrogen (N) terpantau bervariasi, namun sebagian besar berada pada kategori tinggi. Meski demikian, rendahnya C-organik berpotensi memengaruhi efektivitas penyerapan nitrogen oleh tanaman. Sementara itu, kadar fosfor (P) pada sebagian besar lokasi berada pada kategori rendah sebuah catatan serius mengingat unsur ini krusial dalam pembentukan akar, bunga, dan bulir padi.

Untuk kalium (K), sebagian besar sampel berada pada kategori sedang hingga tinggi. Ini menjadi modal baik bagi kekuatan batang tanaman serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Adapun pH tanah menunjukkan variasi dari agak masam hingga netral, kondisi yang masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang tepat.

Usai pemaparan hasil uji tanah, forum diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Petani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung mengenai kondisi lahannya. Tim ahli dari Pupuk Indonesia Regional 3 bersama penyuluh memberikan penjelasan sekaligus solusi berbasis hasil analisis.

Sejumlah rekomendasi konkret pun disampaikan. Untuk meningkatkan C-organik, petani dianjurkan menambahkan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos, atau mengembalikan jerami ke lahan sawah. Langkah ini penting untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme.

Untuk mengatasi defisiensi fosfor, disarankan penggunaan pupuk fosfat sesuai dosis rekomendasi hasil uji tanah. Pada lahan yang cenderung masam, pengapuran dengan takaran tepat dianjurkan guna menetralkan pH serta meningkatkan ketersediaan hara. Selain itu, petani didorong menerapkan pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan spesifik lahannya masing-masing.

Edi Setiawan menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar agenda teknis, tetapi bagian dari perubahan pola pikir dalam pengelolaan pertanian.

“Kami ingin petani tidak lagi menebak-nebak dosis pupuk. Semua harus berbasis data. Dengan begitu, biaya bisa lebih efisien dan hasil panen meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi antara organisasi profesi penyuluh dan dunia industri menjadi kunci percepatan modernisasi pertanian. Penyuluh hadir sebagai penghubung ilmu pengetahuan dengan praktik di lapangan, sementara dukungan teknologi dan analisis dari Pupuk Indonesia memperkuat rekomendasi yang diberikan.

Dengan tersedianya data kondisi tanah yang akurat dan rekomendasi yang terukur, diharapkan produktivitas padi di Kecamatan Mendoyo dapat meningkat signifikan pada musim tanam mendatang. Sawah tak lagi dikelola berdasarkan kebiasaan semata, melainkan dengan pendekatan ilmiah yang terarah.

Bagi para penyuluh, langkah ini adalah awal. Bagi petani, ini adalah harapan baru bahwa setiap butir pupuk yang ditebar benar-benar menjadi investasi bagi panen yang lebih pasti dan kesejahteraan yang lebih baik.

Koresponden : Edi & Ilham DPD Perhiptani Jembrana

Editor : Widianta

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0