Surendra Atmaja: “Rendah Hati, Tinggi Pengabdian”
Dedikasi dan kerja keras menjadi benih yang menumbuhkan perjalanan panjang I Nyoman Gde Surendra Atmaja. Dari hamparan ladang kapas di Karangasem hingga ruang koordinasi penyuluhan di tingkat provinsi, ia terus menanam semangat yang sama mengabdi demi kemajuan pertanian Bali.
Surendra Atmaja:
“Rendah Hati, Tinggi Pengabdian”
Berpostur tubuh bongsor dengan karakter hangat dan bersahaja, I Nyoman Gde Surendra Atmaja, SP, MP. lahir di denpasar. Sosoknya dikenal rendah hati, mudah bergaul, dan memiliki semangat pengabdian yang tak pernah padam. Lebih dari enam belas tahun ia mendedikasikan diri di Pemerintah Provinsi Bali, menapaki perjalanan karir dari bawah hingga kini didaulat sebagai Ketua Tim Kerja Pelaksanaan Kinerja (Katimker) Penyuluhan Provinsi Bali . Sebuah posisi strategis yang menuntut kepemimpinan visioner, kemampuan koordinasi lintas wilayah, serta komitmen tinggi dalam menggerakkan kinerja para penyuluh pertanian di seluruh kabupaten dan kota di Pulau Dewata.
Masa kecilnya dihabiskan di Bangli, mengikuti pengugasan sang ayah yang bekerja sebagai Mantri Ternak. Kehidupan di daerah yang masih kental dengan suasana pedesaan yang membentuk kedekatannya dengan alam sejak dini. Namun, pada tahun 1992, keluarganya kembali menetap di Denpasar. Di kota kelahirannya, tepatnya di Sesetan Denpasar Selatan, Surendra tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras prinsip hidup yang kelak menjadi landasan dalam perjalanan kariernya sebagai penyuluh pertanian.
Lulusan SMA Negeri 2 Denpasar ini menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Udayana. Kecintaannya pada alam dan keinginan untuk berkontribusi pada dunia pertanian menjadi alasan utama dalam memilih jurusan tersebut. Meski sempat merasa salah jurusan karena banyak berhubungan dengan ekonomi, seiring waktu ia justru menemukan makna baru di dalamnya pertanian tidak hanya soal menanam, tapi juga mengelola kehidupan dan kelangsungan hidup.
Kariernya dimulai pada tahun 2009 sebagai Program Tenaga Kontrak Pendamping (TKP-PLP) Akselerasi Pengembangan Kapas di Dinas Perkebunan Provinsi Bali. Ia ditugaskan di Kabupaten Karangasem, tepatnya di Desa Abang, Desa Kubu, dan Desa Seraya Timur. Saat itu, kapas merupakan komoditas baru yang belum banyak dikenal masyarakat setempat. Tantangan membangun kepercayaan menjadi ujian tersendiri, namun berkat ketekunan dan pendekatan persuasif melalui demplot percontohan serta analisis usaha tani, perlahan petani mulai tertarik. Hingga akhirnya, kapas menjadi komoditas yang diminati dan bernilai ekonomi tinggi di daerah tersebut.
Berzodiak Aries yang bersimbol domba jantan, Surendra dikenal sebagai sosok yang berpikiran jernih, tegas namun bijaksana. Ia selalu terbuka terhadap masukan, mampu menimbang setiap persoalan dengan adil, dan tidak turun langsung ke lapangan untuk memberi teladan. Karakter kepemimpinan itulah yang menjadikannya sosok penyuluh sekaligus pemimpin lapangan yang disegani, baik oleh rekan sejawat maupun para petani binaannya.
Enam tahun berselang, tepatnya pada tahun 2015, Surendra Atmaja resmi diangkat sebagai Penyuluh Pertanian di Pemerintah Provinsi Bali. Perjalanan menuju status itu tidaklah mudah. Saat anggaran pelatihan dasar penyuluhan belum tersedia, ia memilih untuk tidak menunggu. Dengan tekad dan komitmen tinggi terhadap profesinya, Surendra membiayai sendiri Diklat Dasar Penyuluhan di BBPP Batu Malang . Langkah tersebut menjadi bukti nyata semangatnya dalam menegakkan profesionalisme sekaligus memperdalam kompetensi sebagai penyuluh yang berintegritas dan konservasi.
Setelah Dinas Perkebunan dilebur menjadi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali pada tahun 2017, kariernya terus menanjak. Pada tahun 2024, ia dipercaya sebagai Ketua Tim Kerja Produksi Bidang Perkebunan, sekaligus aktif menyiapkan kebijakan teknis dan koordinasi lapangan dalam peningkatan produktivitas sektor perkebunan di Bali.
Tak hanya fokus menjalankan tugas di lapangan, Surendra juga menempatkan pengembangan diri sebagai prioritas utama dalam perjalanan kariernya. Pada tahun 2023, ia kembali menempuh pendidikan Magister Pertanian Lahan Kering di Universitas Udayana sebagai wujud komitmennya untuk terus memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kapasitas di bidang pertanian. Pendidikan tersebut ia tuntaskan pada Agustus 2025 , melengkapi kiprah panjangnya sebagai penyuluh yang tak pernah berhenti belajar, bertumbuh, dan mengabdi untuk kemajuan pertanian Bali.
Kini, di tengah kebijakan baru yang menarik para penyuluh pertanian ke pemerintah pusat, Surendra menyikapinya dengan lahan dada dan penuh rasa tanggung jawab. Baginya, menjadi penyuluh bukan sekedar menjalankan pekerjaan, melainkan panggilan hati untuk melayani, membimbing, dan membangun kemandirian petani demi kemajuan pertanian Indonesia, khususnya di tanah kelahirannya, Bali.
“Di mana pun ditempatkan, tujuan saya tetap sama memajukan pertanian Indonesia, terutama di tanah kelahiran saya, Bali,” ujarnya mantap. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0