Dari Sopir Truk Jadi Pebisnis Anggrek
Di balik indahnya bunga anggrek yang mekar di ajang Festival Anggrek Bali 2025, tersimpan kisah ketekunan seorang pria sederhana asal Probolinggo. Ia adalah Nur Salim, mantan sopir truk yang kini sukses menekuni bisnis anggrek dan membawa nama Tanaman Hias Bromo hingga ke panggung festival tingkat nasional.
Dari Sopir Truk Jadi Pebisnis Anggrek
Nur Salim, Pemilik Tanaman Hias Bromo, Raup Rp25 Juta di Festival Anggrek Bali 2025
Malam menurun pelan di kawasan festival. Di antara gemerlap lampu stand dan harum anggrek yang menguar lembut, Nur Salim masih sibuk menyiram satu per satu pot anggreknya. Lelaki asal Probolinggo itu tak disetujui tidur di stand beralaskan tikar tipis selama sepekan penuh demi menjaga koleksinya tetap segar.
“Tidur di sini aja, biar hemat dan sekalian jaga tanaman,” ucapnya sambil tersenyum.
Festival Anggrek Bali 2025 bukan kali pertama bagi Nur. Ia sudah beberapa kali ikut ajang serupa di berbagai daerah. Tahun ini, dari pembukaan hingga penutupan acara, omzetnya menembus Rp25 juta. “Tapi keuntungan bersihnya paling banyak sekitar 25–30 persen setelah dipotong biaya operasional,” katanya jujur.
Bagi Nur, angka itu bukan semata-mata soal uang. “Yang penting bertemu pelanggan baru dan menambah pengalaman,” katanya. Meski begitu, ia mengakui pengunjung tahun ini tidak seramai gelaran sebelumnya di Renon, Denpasar, yang menawarkan suasana lebih alami dan terbuka.
Nur Salim tidak lahir dari keluarga pebisnis. Ia hanya lulusan SMP yang dulunya bekerja sebagai sopir truk tronton. Lima tahun lamanya melintasi Jawa–Bali, mengangkut beton dan alat berat.
"Dulu kerja saya berat, ngangkut ekskavator, alat proyek. Tapi sejak Covid, pekerjaan sepi. Akhirnya saya coba rawat tanaman hias di rumah. Dari situ malah jadi rezeki," kenangnya.
Kini, di bawah nama Tanaman Hias Bromo Nur dikenal di kalangan komunitas anggrek sebagai petani yang gigih dan rendah hati. Koleksi anggreknya mencakup berbagai jenis dari anggrek bulan hingga dendrobium lokal yang ia rawat sendiri dengan penuh telaten.
“Bagi saya, anggrek itu punya jiwa. Harus disayang, baru mau berbunga,” tuturnya sambil menatap deretan bunga ungu di mejanya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0