Faperta Unud Curi Perhatian di Festival Anggrek Bali 2025
Fakultas Pertanian Universitas Udayana mencuri perhatian dalam Festival Anggrek Bali 2025. Selain menampilkan hasil riset dan konservasi anggrek endemik seperti lenjong dan Vanda tricolor, Faperta Unud menyerahkan buku “Anggrek Alam Bali Jilid 1” kepada Gubernur Bali simbol nyata dedikasi akademisi dalam menjaga jati diri flora Bali.
Faperta Unud Curi Perhatian di Festival Anggrek Bali 2025
Buku “Anggrek Alam Bali” Diserahkan kepada Gubernur, Bukti Komitmen Jaga Flora Endemik
Dari panggung megah Festival Anggrek Bali 2025 di Taman Budaya Art Centre Denpasar, semerbak wangi anggrek berpadu dengan semangat riset dan pelestarian alam. Di tengah kemeriahan itu, Fakultas Pertanian Universitas Udayana (FP Unud) tampil sebagai garda ilmiah pelestarian flora Bali. Tak hanya meneliti dan membudidayakan anggrek khas seperti lenjong dan Vanda tricolor, FP Unud juga menyerahkan buku “Anggrek Alam Bali Jilid 1” kepada Gubernur Bali sebuah persembahan akademik yang menegaskan dedikasi kampus untuk menjaga keindahan dan kebanggaan Pulau Dewata.
Penyerahan buku tersebut dilakukan langsung oleh Dekan FP Unud, I Putu Sudiarta, Ph.D., kepada Gubernur Bali, disaksikan Ibu Gubernur Putri Koster dan para undangan. Buku “Anggrek Alam Bali Jilid 1” merupakan hasil kolaborasi tim peneliti FP Unud yang berisi dokumentasi ilmiah dan visual puluhan spesies anggrek endemik Bali, hasil penelitian bertahun-tahun di berbagai kawasan hutan di Pulau Dewata.
Festival Anggrek Bali 2025 digelar oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bekerja sama dengan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Bali. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, 1–7 November 2025, di Taman Budaya Art Centre Denpasar. Tahun ini festival mengusung tema “Anggrek KemBali: Unity in Diversity” yang merefleksikan kekayaan dan keberagaman spesies anggrek Bali—baik yang tumbuh alami di hutan maupun hasil budidaya masyarakat.
Dalam ajang ini, FP Unud tampil menonjol di bawah pimpinan Dekan I Putu Sudiarta, Ph.D. bersama tim peneliti yang terdiri atas Prof. Dr. Rindang Dwiyani, Dr. Ida Ayu Putri Darmawati, I G. N. Alit Susanta Wirya, Yuyun Fitriani, I Made Basma, serta sejumlah dosen dan mahasiswa. Mereka menghadirkan riset-riset unggulan, mulai dari kultur biji hasil silangan hingga kultur jaringan atau meristem yang dikembangkan di Laboratorium Kultur Jaringan FP Unud.
Salah satu momen penting dalam festival adalah penyerahan buku “Anggrek Alam Bali Jilid 1” oleh Dekan FP Unud kepada Gubernur Bali, disaksikan oleh Ibu Gubernur Putri Koster. Buku tersebut memuat hasil penelitian lapangan dan dokumentasi ilmiah puluhan spesies anggrek alami yang tumbuh di berbagai wilayah hutan Bali. Karya ini menjadi catatan penting dalam upaya konservasi flora endemik Bali sekaligus bahan edukasi bagi masyarakat luas.
Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Rindang Dwiyani, menjelaskan bahwa penelitian terkini FP Unud tengah berfokus pada inovasi varietas anggrek berukuran pendek yang cocok sebagai tanaman hias meja. “Kami memanfaatkan teknologi molekuler dan rekayasa genetik agar anggrek Bali bisa dikembangkan menjadi komoditas florikultura yang lebih adaptif dan bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.
Dekan FP Unud, I Putu Sudiarta, Ph.D., menambahkan bahwa saat ini ada 20 mahasiswa program sarjana, 5 mahasiswa magister, dan 1 mahasiswa doktoral yang aktif melakukan penelitian tentang anggrek. “Ini bagian dari komitmen kami dalam memperkuat riset florikultura dan mendukung keberlanjutan pertanian Bali,” ujarnya.
Pada 5 November 2025, Dekan FP Unud juga menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Riset dan Inovasi Budidaya Anggrek, Hama, dan Penyakitnya.” Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya sinergi antara penelitian, inovasi, dan pelestarian sumber daya hayati. “Penelitian tidak hanya untuk kampus, tapi untuk masyarakat Bali yang hidup dari alam dan budaya,” tandasnya.
Pujian atas kiprah FP Unud pun datang langsung dari Gubernur Bali. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi upaya fakultas dalam menjaga kelestarian anggrek alam seperti anggrek lenjong dan Vanda tricolor. “Karya riset ini bukan sekadar ilmiah, tapi juga bernilai budaya. Anggrek adalah simbol keindahan dan kebanggaan Bali,” ucapnya.
Melalui keikutsertaan di Festival Anggrek Bali 2025, FP Unud berharap riset yang dihasilkan tidak hanya memperkaya ilmu, tapi juga memberi manfaat nyata bagi petani dan masyarakat. “Anggrek bukan sekadar bunga, tapi wujud harmoni antara ilmu, alam, dan budaya Bali,” tutup Sudiarta sembari berjabat tangan dengan awak media Perhiptani Bali berujar “Salam Penyuluh, Salam Perhiptani”. (Trio.B)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0